Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tujuh Bulan Alami Kerusakan, Tebing Longsor di Tanjungarum Sukorejo Pasuruan Tak Kunjung Diperbaiki

Rizal Syatori • Sabtu, 20 Juni 2026 | 20:41 WIB
DIPASANGI TONG: Jalur Jetak–Dayurejo di Dusun Ngemplak, Desa Tanjungarum, Kecamatan Sukorejo, yang dipasangi tong. Hal ini dilakukan, sebagai antisipasi seiring dengan rusaknya tebing setempat. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
DIPASANGI TONG: Jalur Jetak–Dayurejo di Dusun Ngemplak, Desa Tanjungarum, Kecamatan Sukorejo, yang dipasangi tong. Hal ini dilakukan, sebagai antisipasi seiring dengan rusaknya tebing setempat. (Rizal Syatori/Radar Bromo)

SUKOREJO, Radar Bromo - Sudah tujuh bulan berlalu, tebing longsor yang membatasi tepi Sungai Tanjungarum dengan jalan kabupaten ruas Jetak–Dayurejo di Dusun Ngemplak, Desa Tanjungarum, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, tak kunjung mendapatkan perbaikan.

Kondisi infrastruktur yang terbengkalai sejak Kamis, 14 November 2025 lalu ini, kini memicu kekhawatiran, karena berpotensi memutus akses jalan utama jika terus dibiarkan.

Longsoran tebing tanah akibat gerusan air hujan tersebut, memiliki dimensi yang cukup besar, yakni panjang sekitar 15 meter dengan ketinggian mencapai 10 hingga 12 meter.

Mengingat lokasinya yang mepet dengan jalur aktif kendaraan, badan jalan kabupaten di sisi timur tebing, kini rawan ikut ambrol ke dasar sungai.

Pemerintah Desa (Pemdes) Tanjungarum sebenarnya telah bergerak cepat melaporkan bencana ini ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, sesaat setelah kejadian.

Pihak BPBD bersama perwakilan Kecamatan Sukorejo, bahkan sudah melakukan survei dan asesmen langsung di lapangan keesokan harinya.

Namun, hingga pertengahan Juni 2026, realisasi perbaikan fisik dari dinas teknis masih nihil.

Kondisi ini memicu kekecewaan dari pemdes setempat, terutama karena melihat adanya ketimpangan penanganan dengan wilayah tetangga.

"Di sebelah barat lokasi ini, tepatnya masuk wilayah Desa Bulukandang, Kecamatan Prigen, juga ada tebing sungai yang longsor pada Februari 2026 lalu. Tapi di sana sekarang sudah tuntas diperbaiki. Harusnya di sini juga segera ditangani, jangan malah dilewati," keluh Sekdes Tanjungarum, M. Nur Soleh, Jumat (19/6).

Sebagai langkah antisipasi mandiri agar tidak memakan korban, pihak pemdes telah memasang tong bekas sebagai penanda darurat di bahu jalan.

Pengendara yang melintas, khususnya dari arah selatan menuju utara, diimbau untuk ekstra waspada saat melewati titik rawan tersebut.

Saat dikonfirmasi mengenai kepastian penanganan jangka panjang, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, belum memberikan rencana teknis yang detail.

"Akan kami sampaikan ke dinas teknis," ujar Sugeng Hariyadi singkat saat dihubungi via telepon.

Sementara itu, akses mobilitas warga di Desa Tanjungarum, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, semakin terisolasi.

Selain masalah tebing jalan yang longsor, pondasi jembatan alternatif yang menghubungkan Dusun Ngemplak dengan Dusun Tambakrejo, kini juga dilaporkan ambrol dan memaksa petugas menutup total akses bagi kendaraan roda dua.

Kerusakan parah ini terjadi pada pondasi sisi sebelah timur jembatan, dengan dimensi longsoran mencapai panjang sekitar 8 hingga 10 meter dan tinggi 10 hingga 12 meter.

Akibat struktur jembatan yang tidak lagi stabil, warga setempat memasang larangan melintas bagi sepeda motor.

Untuk saat ini, hanya pejalan kaki yang diperbolehkan menyeberang dengan ekstra hati-hati.

"Pondasi jembatan yang longsor ini baru satu sisi saja, yaitu bagian timur. Kejadiannya sekitar empat bulan lalu di tahun ini," ujar Agus, salah seorang warga setempat.

Penutupan jalur ini, memaksa para pengendara motor dari kedua dusun, untuk memutar arah menggunakan jalur lain yang jaraknya jauh lebih jauh.

Kondisi ini sangat dikeluhkan, karena jembatan tersebut merupakan urat nadi perekonomian dan akses tercepat antar-dusun.

Sekretaris Desa Tanjungarum, M. Nur Soleh, menjelaskan penanganan jembatan alternatif ini menghadapi urgensi ganda.

Tepat di bawah struktur jembatan yang longsor tersebut, terdapat saluran irigasi vital yang mengairi sawah-sawah warga dan terancam ikut hancur tertimbun material jika tidak segera diselamatkan.

"Pihak pemdes sudah melaporkan kerusakan pondasi jembatan ini ke BPBD Kabupaten Pasuruan melalui Kantor Kecamatan Sukorejo. Namun sampai saat ini kondisinya masih sama, belum ada perbaikan fisik dan kami hanya bisa menunggu kepastian," bebernya. (zal/one)

Editor : Jawanto Arifin
#tebing #jembatan #jalan #longsor