PASURUAN, Radar Bromo - Proyek peninggian Jembatan Bookwedi di Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, terus dikebut agar selesai tepat waktu.
Konstruksi jembatan baru di jalur nasional penghubung Pasuruan–Probolinggo tersebut, saat ini sudah mencapai 26 persen.
Bahkan, sudah memasuki tahap krusial, pemasangan balok gelagar (girder). Seluruh struktur jembatan lama, kini telah rampung dibongkar total.
Kontraktor pelaksana dari PT Pesona Sakti Indonesia (PSI), Ismail, menegaskan, seluruh tahapan pengerjaan di lapangan, sejauh ini masih berjalan sesuai dengan linimasa yang direncanakan.
"Realisasi pengerjaan masih on track sesuai target, per hari ini (kemarin, red) sudah menyentuh 26 persen. Jika tidak ada kendala, kami optimistis seluruh proyek jembatan ini, bisa rampung total pada Oktober mendatang," jelas Ismail.
Ismail menepis anggapan lambatnya pengerjaan di lapangan. Ia menjelaskan, setiap konstruksi beton jembatan, mutlak membutuhkan waktu tunggu (curing) agar mencapai tingkat kematangan dan kekuatan struktural yang maksimal.
Saat ini, para pekerja tengah memasang perancah, sembari menunggu umur beton siap sebelum balok girder mulai dipasang secara masif bulan depan.
Guna mempercepat capaian progres, PT PSI menerapkan strategi pengerjaan paralel atau beriringan.
Bersamaan dengan persiapan girder, pekerja di lapangan juga tengah menggarap pemasangan saluran air beton (u-ditch), di kedua sisi jembatan serta struktur dinding penahan tanah (oprit) batu.
Ketiga item pekerjaan besar ini, ditargetkan dapat selesai paling lambat akhir Juli.
"Alhamdulillah, sejauh ini kendala lapangan nihil. Bagian pekerjaan yang membutuhkan durasi paling lama, adalah oprit pemasangan batu. Namun kami targetkan, bisa tuntas dalam waktu 40 hari ke depan," imbuh Ismail.
Sebagai informasi, revitalisasi total Jembatan Bookwedi ini mendesak dilakukan, karena konstruksi jembatan lama dinilai sudah tidak lagi ideal.
Posisi jembatan yang terlalu rendah, kerap menyumbat aliran arus sungai, hingga menjadi pemicu utama banjir tahunan di wilayah Blandongan.
Berdasarkan catatan berkala, kawasan tersebut bahkan telah dilanda setidaknya 15 kali musibah banjir, akibat luapan air sepanjang periode Januari hingga Maret awal tahun ini. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin