PASURUAN, Radar Bromo - Suhu udara dingin atau yang dikenal masyarakat dengan istilah bediding kian terasa di sejumlah wilayah Jawa Timur. Bahkan, Kabupaten Pasuruan masuk dalam daftar daerah dengan suhu terendah berdasarkan data Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III.
Suhu minimum Jawa Timur sejak periode 8 Juni 2026 pukul 07.01 hingga 9 Juni 2026 pukul 07.00, suhu terdingin tercatat di AWS (Automatic Weather Station) Bromo, Kabupaten Probolinggo, yakni mencapai 10,4 derajat celsius. Bahkan jika di titik puncaknya saat pagi hari, di kawasan bromo terkadang ada fenomena frozen.
Sementara, Pasuruan menempati posisi kedua daerah terdingin di Jawa Timur. Berdasarkan data Stageof Pasuruan (Tretes) mencatat suhu minimum mencapai 14 derajat Celsius.
Sedangkan wilayah Kota Batu berada di posisi ketiga dengan suhu 15 derajat Celsius. Selain itu, AWS Bondowoso mencatat suhu 15,9 derajat Celsius dan AWS Tiris, Probolinggo, mencapai 17,1 derajat Celsius.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo, Rendy Irawadi, menjelaskan bediding merupakan kondisi alamiah yang umum terjadi saat musim kemarau.
Menurutnya, suhu dingin dipicu oleh dominasi angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan relatif dingin menuju wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa Timur.
“Pada musim kemarau, tutupan awan cenderung berkurang sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah terlepas ke atmosfer saat malam hingga dini hari. Kondisi ini menyebabkan suhu udara terasa lebih dingin dibandingkan biasanya,” ujarnya.
Rendy menambahkan, wilayah dataran tinggi seperti Bromo, Tretes, Batu, dan kawasan pegunungan lainnya cenderung mengalami penurunan suhu yang lebih signifikan dibanding daerah pesisir maupun dataran rendah. “Daerah pegunungan memiliki karakteristik yang memungkinkan pendinginan udara berlangsung lebih cepat.
Karena itu suhu minimum di wilayah tersebut bisa mencapai belasan bahkan mendekati 10 derajat Celsius,” katanya.
Meski terasa ekstrem bagi sebagian masyarakat, Rendy memastikan, fenomena tersebut masih tergolong normal dan rutin terjadi setiap musim kemarau.
Ia memprediksi kondisi bediding masih berpotensi berlangsung dalam beberapa pekan ke depan seiring menguatnya musim kemarau di Jawa Timur.
“Masyarakat tidak perlu khawatir. Namun kami mengimbau agar menjaga kondisi tubuh, terutama pada malam hingga pagi hari. Gunakan pakaian hangat dan perhatikan kelompok rentan seperti anak-anak maupun lansia,” tandasnya.
Berdasarkan data BMKG, selain kawasan pegunungan, sejumlah wilayah lain di Jawa Timur juga mencatat suhu minimum di bawah 20 derajat celsius. Kondisi tersebut membuat udara dingin terasa lebih dominan pada dini hari hingga pagi hari di berbagai daerah.
Di sisi lain, meski saat ini kemarau, hujan lebat datang tiba-tiba setelah beberapa hari panas terik. BPBD Kabupaten Pasuruan langsung bergerak mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk sejumlah wilayah rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Sugeng Hariyadi menyebut pola cuaca belakangan ini tidak bisa diprediksi seperti biasa. “Tiga hari terik, besoknya hujan berjam-jam sampai banjir. Sangat dinamis,” ujarnya.
Dampaknya sudah terasa. Pohon tumbang, rumah rusak tersapu angin, genangan muncul di sejumlah ruas jalan.
Sugeng meminta warga tidak menunggu bencana datang. Saluran air mampet, pohon besar yang miring, bangunan rapuh. Semua harus dicek sekarang. “Saat hujan deras disertai angin, jauhi pohon dan bangunan yang rawan roboh,” tegasnya.
Kekhawatiran BPBD bukan tanpa alasan. Kawasan rawan longsor di Kabupaten Pasuruan mencapai 37.626 hektare. Tersebar di Kecamatan Tutur, Puspo, Tosari, Lumbang, dan Prigen, wilayah-wilayah berlereng curam di atas 40 persen.
Sementara ancaman banjir mengintai 11.948 hektare kawasan hilir. Dari Gempol, Beji, Bangil, Kraton, hingga Gondangwetan. Di Lekok dan Kraton, ancaman datang bukan hanya dari sungai, tapi juga dari rob. (zen/tom/fun)
Editor : Abdul Wahid