Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bediding Melanda, Suhu di Pasuruan Turun hingga 17 Derajat Celsius

Fuad Alyzen • Senin, 8 Juni 2026 | 13:54 WIB
DINGIN: Kawasan Bromo yang dikenal dengan suhu dinginnya. Dengan masuknya kemarau, kondisi suhu dingin yang dikenal dengan sebutan bediding mula melanda. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
DINGIN: Kawasan Bromo yang dikenal dengan suhu dinginnya. Dengan masuknya kemarau, kondisi suhu dingin yang dikenal dengan sebutan bediding mula melanda. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

PASURUAN, Radar Bromo - Fenomena bediding mulai dirasakan masyarakat di wilayah Pasuruan dan Probolinggo, seiring memasuki musim kemarau.

Suhu udara pada malam hingga pagi hari, terasa lebih dingin dibandingkan hari-hari biasa, akibat pengaruh aliran massa udara dingin dari Australia.

Data pengamatan BMKG menunjukkan, suhu minimum di sejumlah wilayah Jawa Timur, mengalami penurunan cukup signifikan.

Di kawasan Bromo, suhu minimum tercatat mencapai 8,3 derajat Celsius. Sementara di Glenmore, Banyuwangi, suhu minimum berada di angka 14,7 derajat Celsius.

Untuk wilayah Pasuruan, suhu minimum yang tercatat di Stasiun Geofisika Pasuruan mencapai 17 derajat Celsius.

Sedangkan di Kota Batu suhu minimum mencapai 17,5 derajat Celsius dan Malang 18,2 derajat Celsius.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo, Rendy Irawadi menjelaskan, fenomena bediding merupakan kondisi yang lazim terjadi, selama musim kemarau.

Penyebab utamanya, adalah aliran udara dingin dan kering yang berasal dari Benua Australia. “Karena aliran udara dingin dari Australia,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut diperkirakan berlangsung sepanjang musim kemarau. Dampaknya, suhu udara pada malam hingga dini hari akan terasa lebih dingin, terutama di wilayah dataran tinggi maupun daerah yang minim tutupan awan.

“Sepanjang musim kemarau,” tambahnya saat ditanya mengenai durasi fenomena tersebut.

Selain dipengaruhi angin Monsun Australia, suhu dingin juga diperkuat oleh kondisi langit, yang relatif cerah saat musim kemarau.

Minimnya tutupan awan, membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari, lebih mudah terlepas ke atmosfer saat malam hari. Sehingga, suhu udara turun lebih cepat.

Rendy menyebutkan, suhu maksimum yang tercatat di Stasiun Geofisika Pasuruan saat ini, berada di kisaran 27 derajat Celsius.

Namun suhu yang dirasakan masyarakat pada siang hari, dapat mencapai sekitar 31 derajat Celsius akibat pengaruh radiasi matahari.

“Dari pengukuran Stasiun Geofisika Pasuruan sekitar 27 derajat Celsius, tetapi suhu yang dirasakan bisa mencapai 31 derajat Celsius,” jelasnya.

Fenomena bediding umumnya paling terasa pada malam hingga pagi hari. Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh dengan mengenakan pakaian hangat saat beraktivitas pada dini hari maupun malam hari.

Selain itu, kebutuhan cairan tubuh juga perlu tetap dipenuhi meski cuaca terasa dingin.

Dengan puncak musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung beberapa bulan ke depan, suhu dingin pada malam dan pagi hari, diprediksi masih akan menjadi fenomena yang akrab dirasakan warga Pasuruan dan Probolinggo. (zen/one)

Editor : Jawanto Arifin
#bmkg #bediding #cuaca #suhu dingin #kemarau