Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Desa Nguling Pasuruan Sulap Lahan Kas Desa Menjadi Mesin Ekonomi

Fahrizal Firmani • Selasa, 12 Mei 2026 | 05:05 WIB
SINERGI: Kepala Desa Nguling, Edi Suyitno (kanan) bersama Direktur BUMDes Nguling, Nofia, kompak dalam upaya membangun desa. (Fahrizal Firmani/Radar Bromo)
SINERGI: Kepala Desa Nguling, Edi Suyitno (kanan) bersama Direktur BUMDes Nguling, Nofia, kompak dalam upaya membangun desa. (Fahrizal Firmani/Radar Bromo)

PEMERINTAH Desa (Pemdes) Nguling, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, terus menunjukkan komitmennya, dalam memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

Melalui langkah inovatif, Pemdes Nguling memanfaatkan Tanah Kas Desa (TKD) yang sebelumnya kurang produktif, menjadi sebuah kolam pancing modern yang diproyeksikan menjadi mesin ekonomi baru bagi warga setempat.

Pembangunan fasilitas ini, merupakan bagian dari visi jangka panjang Kepala Desa Nguling, Edi Suyitno.

Kolam pancing dengan dimensi 70 meter x 22 meter serta kedalaman 1,5 meter ini, mulai dikerjakan pada awal tahun 2024, dan rampung dalam waktu relatif singkat.

PENOPANG EKONOMI: Kolam Pancing yang terbangun di Desa Nguling yang menjadi salah satu penunjang ekonomi desa. (Fahrizal Firmani/Radar Bromo)

PENOPANG EKONOMI: Kolam Pancing yang terbangun di Desa Nguling yang menjadi salah satu penunjang ekonomi desa. (Fahrizal Firmani/Radar Bromo)

Berlokasi di Dusun Pasar, letak kolam ini sangat strategis. Karena berada di jantung aktivitas warga dan berdekatan dengan akses publik.

"Kami ingin menciptakan ekosistem ekonomi yang saling terhubung. Kolam pancing ini bukan sekadar tempat menyalurkan hobi. Tapi bagian dari kawasan terpadu, yang berdampingan dengan pujasera dan taman bermain keluarga. Jadi, sementara bapaknya memancing, ibu dan anak-anak bisa bersantai di taman atau menikmati kuliner," ujar Edi Suyitno.

Pemilihan komoditas ikan lele, bukan tanpa alasan. Menurut Edi, lele memiliki basis penggemar yang sangat luas di masyarakat dibandingkan jenis ikan lainnya.

Selain itu, kolam pancing ini, juga berfungsi sebagai instrumen ketahanan pangan tingkat desa.

Respon masyarakat terbukti sangat masif. Saat launching resmi yang digelar pada 3 Mei lalu, tercatat sebanyak 184 peserta memadati area kolam.

Menariknya, peminat tidak hanya datang dari warga lokal Desa Nguling. Tetapi juga luar daerah, yang penasaran dengan sensasi memancing di kolam baru tersebut.

Untuk menjaga keberlanjutan dan profesionalisme, operasional kolam pancing diserahkan sepenuhnya kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Direktur BUMDes Nguling, Nofia, menjelaskan bahwa manajemen telah mengatur jadwal buka tiga kali sepekan, yakni pada Selasa, Kamis, dan Minggu pagi.

"Sistemnya menggunakan tiket masuk. Pendapatan yang masuk nantinya akan dibagi untuk biaya operasional, pengembangan usaha, dan sisanya menjadi Pendapatan Asli Desa (PADes)," jelas Nofia.

Ia menambahkan, pengunjung setelah memancing diarahkan untuk mengunjungi pujasera di sisi selatan kolam guna mendongkrak omzet pedagang kecil di sana.

Kedepannya, BUMDes berencana mengembangkan unit tambahan berupa kolam pancing kiloan di sisi utara.

Meskipun saat ini areanya masih terbatas, rencana perluasan sudah disiapkan, agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam berwisata pancing.

Dengan integrasi antara hobi, kuliner, dan rekreasi keluarga, Desa Nguling kini bertransformasi menjadi contoh nyata bagaimana dana desa dan aset lahan bisa dioptimalkan untuk kesejahteraan rakyat.

 

Kolam Renang Diserbu Anak Sekolah

Tidak hanya kolam pancing, fasilitas kolam renang yang berada di Dusun Pasar juga ramai pengunjung.

Tiap hari, siswa dari berbagai sekolah di Nguling datang untuk berenang. Pengunjung bisa berlipat saat tanggal merah atau hari libur.

Kepala Desa Nguling, Edi Suyitno menyebut sekolah di Kecamatan Nguling bekerja sama dengan pihak desa.

Setiap harinya, secara bergantian mereka datang untuk melaksanakan pelajaran olahraga di kolam renang itu. Karena itu, kolam ini tidak pernah sepi meski hari kerja.

EKSOTIK: Keberadaan kolam renang di Desa Nguling, yang menjadi kerap menjadi jujukan warga. Terutama pelajar di wilayah Nguling. (Fahrizal Firmani/Radar Bromo)

EKSOTIK: Keberadaan kolam renang di Desa Nguling, yang menjadi kerap menjadi jujukan warga. Terutama pelajar di wilayah Nguling. (Fahrizal Firmani/Radar Bromo)

Pihak desa memberikan diskon bagi anak sekolah. Siswa SD dan SMP yang datang, hanya perlu membayar 80 persen dari tiket masuk. Tiket masuk sebesar Rp 5 ribu.

Mereka yang haus dan lapar bisa langung memesan di pujasera yang terletak di sisi selatan.

"Ada petugas di lokasi yang menarik biaya parkir dan tiket masuk. Seluruh pemasukan ini masuk dalam pendapatan desa," katanya.

Kolam renang ini berukuran 10,5 meter x 19 meter. Kolam ini tetap buka meski di tanggal merah. Hanya tutup operasional saat Lebaran.

Sehingga, masyarakat bisa berlibur di Desa Nguling. "Selalu buka. Mau hari kerja, hari Minggu atau tanggal merah tidak pernah tutup," tandasnya. (riz/one/*)

 

Pembangunan di Desa Nguling

·                    Sulap TKD menjadi produktif

·                    Baik dengan menjadikan kolam pancing

·                    Hingga kolam renang

 

Program 2026

·                    Kegiatan Posyandu

·                    Penyaluran BLT DD

·                    Pembangunan KDMP

Editor : Jawanto Arifin
#kolam pancing #bumdes #nguling #kolam renang #Membangun desa