PASURUAN, Radar Bromo - Upaya untuk menjaga fungsi dan keindahan magnet wisata religi di jantung Kota Pasuruan, ternyata tidaklah murah.
Pemerintah Kota Pasuruan harus merogoh dana hingga Rp 175 juta, hanya untuk pemeliharaan Payung Madinah.
Ada 12 unit Payung Madinah yang berdiri megah di sisi barat Alun-Alun Kota Pasuruan, perlu didanai agar kondisinya optimal.
Meski tampak besar, anggaran ini sebenarnya mengalami penyesuaian signifikan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai Rp 360 juta.
Penurunan hingga separo nilai tersebut, merupakan dampak dari kebijakan efisiensi anggaran secara nasional.
Meski demikian, Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kota Pasuruan menjamin, kualitas perawatan tidak akan berkurang demi kenyamanan wisatawan.
Kepala Disparpora Kota Pasuruan, Dyah Ermitasari, melalui Sekretaris, Budi Santoso, menegaskan pemeliharaan rutin adalah prioritas utama, mengingat status Payung Madinah sebagai daya tarik utama kota.
“Pemeliharaan tetap menjadi agenda wajib, untuk mencegah kerusakan permanen. Kami harus memastikan investasi wisata ini, tetap terjaga meski ada efisiensi anggaran,” ujar Budi.
Secara teknis, perawatan dilakukan secara berkala, setiap tiga bulan sekali. Fokus utama petugas, adalah pada sistem mekanis dan hidrolik.
Pemberian stempet dilakukan secara rutin, untuk mencegah korosi atau karatan pada komponen logam akibat cuaca.
Selain itu, pelumasan menggunakan oli khusus, juga dilakukan. Agar sistem hidrolik yang berfungsi membuka dan menutup payung secara otomatis, dapat berjalan halus dan stabil.
“Sistem hidrolik adalah jantung dari Payung Madinah. Tanpa pelumasan rutin, gerakan payung bisa tersendat dan berisiko merusak motor penggeraknya,” tambahnya.
Belajar dari pengalaman tahun 2024, di mana salah satu unit payung sempat mengalami kerusakan, akibat hantaman cuaca ekstrem, kini prosedur operasional diperketat.
Petugas akan langsung menutup payung secara otomatis, saat cuaca mulai mendung atau terdeteksi angin kencang.
Langkah antisipatif ini diambil, guna memperpanjang usia pakai membran payung, dari risiko robek atau patahnya kerangka akibat tekanan angin.
Dengan perawatan yang terukur, Pemkot Pasuruan berharap wajah alun-alun tetap cantik dan fungsional sebagai ruang publik kebanggaan warga. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin