Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pedagang dan Jagal Sapi Rumah Potong Hewan Blandongan di Kota Pasuruan Mogok Massal Gara-gara Sapi Langka dan Harga Melambung

Mokhamad Zubaidillah • Jumat, 3 April 2026 | 11:24 WIB
DARURAT DAGING SAPI: Ketua Komisi II DPRD Kota Pasuruan mendengarkan aspirasi dari pedagang dan jagal sapi. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
DARURAT DAGING SAPI: Ketua Komisi II DPRD Kota Pasuruan mendengarkan aspirasi dari pedagang dan jagal sapi. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

 

PASURUAN, Radar Bromo- Suasana di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Blandongan, Kota Pasuruan, tampak lengang pada Jumat (3/4) pagi. Tidak ada aktivitas penyembelihan maupun transaksi jual beli daging seperti biasanya.

Ini disebabkan adanya aksi mogok massal yang dilakukan oleh sejumlah pedagang sekaligus jagal sapi.

Aksi ini merupakan bentuk protes para pelaku usaha daging sapi terhadap kebijakan atau aturan baru yang dinilai memberatkan keberlangsungan usaha mereka di RPH tersebut.

Diantaranya adalah maraknya peredaran daging sapi gelonggongan di pasaran Kota Pasuruan.

Para pelaku usaha di RPH Blandongan mengungkapkan keresahan mereka. Salah satunya Faisol, 41, seorang pedagang daging sapi yang ikut dalam aksi tersebut menyatakan bahwa kondisi perdagangan daging sapi saat ini berada di titik tragis. Menurutnya, aksi mogok ini bukan tanpa alasan. Melainkan dari rasa frustasi pedagang terhadap kebijakan aturan dan kontrol dari pemerintah. Adanya aturan tersebut justru mencekik pedagang akibat kelangkaan sapi di pasaran.

Selain stoknya langka, aksi tersebut merupak bentuk protes terhadap maraknya peredaran daging sapi ilegal dan glonggongan yang merusak pasar.

“Ini sebagai bentuk protes kami kepada pemerintah yang bertahun-tahun mendiamkan maraknya peredaran daging illegal hingga glonggongan yang harganya jauh di bawah pasar. Sementara kami harus selalu menyediakan daging yang halal dan layak dikonsumsi oleh masyarakat Kota Pasuruan,” ungkapnya.

Senada juga diungkapkan Afnah, 38, pedagang daging sapi asal Kelurahan Trajeng, Kecamatan Panggungrejo yang sudah belasan tahun berjualan.

Ia mengungkapkan bahwa animo masyarakat akan kebutuhan daging sangat tinggi. Pelanggannya juga terbilang banyak.

Sebagian besar mereka adalah pedagang makanan. Aksi mogok adanya mogok tersebut diharapkan agar pemerintah setempat cepat merespon terkait keluhan para pedagang.

“Mahal dan langkanya sapi sangat berdampak kami. Jika harga dinaikkan, tentu kasihan para konsumen nanti. Semoga pemerintah segera bisa berikan solusi,” ungkap Afnah.

Tak hanya para pedagang daging, juru sembelih sapi halal (juleha) juga menyuarakan hal sama.

Diantaranya adalah Ayatulloh Khumaini, 36. Ia menyebut bahwa mata pencahariannya bergantung sepenuhnya pada aktivitas penyembelihan di tempat tersebut.

Dari waktu ke waktu jumlah sapi yang disembelih saat ini mengalami penurunan. Biasanya dalam sehari kisaran ada 10 sampai 15 ekor sapi yang disembelih, kini hanya kisaran 9 sampai 10 ekor saja.

"Kami yang setiap hari di sini merasakan langsung dampaknya. Kalau tidak ada penyembelihan, ya kami tidak ada penghasilan. Tapi kami memilih mogok bersama sebagai bentuk solidaritas, karena aturan yang sekarang memang tidak masuk akal bagi kami para pekerja di lapangan," pungkasnya.

Ketua Paguyuban Pedagang dan Jagal Sapi Kota Pasuruan, Muhammad Syifulloh, 32, menegaskan bahwa aksi ini akan terus berlanjut dua hari hingga ada solusi maupun kesepakatan yang adil.

Dijelaskan olehnya bahwa jumlah anggota pedagang sapi yang ada 60 orang. Sedangkan jagal sapi jumlahnya 20 orang.

“Mulai hari ini (Jumat, red) dan mungkin sampai kapan, kami seluruh pedagang daging dan jagal sapi yang ada di sini terpaksa mogok masal.

Ini diakibatkan langka dan melambungnya harga sapi yang tidak bisa dijangkau lagi. Ditambah maraknya daging ilegal di pasar. Jadi kami sudah nggak kuat dan tidak punya solusi lagi selain mogok ini,” tambahnya.

Aksi ini mendapat perhatian serius dari pihak legislatif. Bahrudien, Ketua Komisi II DPRD Kota Pasuruan, turun langsung ke lokasi untuk menemui para pedagang dan mendengarkan aspirasi mereka secara langsung.

Dalam keterangannya, Bahrudien menyatakan keprihatinannya atas mandeknya aktivitas di RPH Blandongan, mengingat RPH merupakan titik vital pasokan pangan masyarakat. Pihakanya juga berjanji akan segera mengambil tindakan.

(ube/fun)

Editor : Fandi Armanto
#daging sapi #pasuruan #rph