KEBERADAAN satuan pengamanan (satpam) di masjid sering tidak mendapatkan sorotan. Padahal, perannya sangat vital. Mulai dari menjaga ketertiban, mengatur kendaraan yang dibawa jemaah hingga memastikan barang bawaan jemaah aman. Penjaga harus memastikan masjid aman dan nyaman.
Dedikasi ini harus dilakukan Sultoni, 50. Seorang satpam masjid Al Kautsar di jalan Ir Juanda, Kelurahan Tapaan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan. Saban hari sejak pukul 17.00 hingga pagi, ia harus memastikan kondisi masjid selalu aman. Sehingga, jemaah betah datang dan beribadah di masjid.
Sultoni sudah menjadi satpam di Masjid Al Kautsar, sejak 15 tahun lalu. Uniknya, ia pernah ditolak ketika kali pertama melamar menjadi satpam. Alasannya, Sulton punya kesibukan padat. Ketika pagi sampai siang, harus mengajar di madrasah ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan. Sore, mengajar di Tempat Pendidikan Alquran di Kemantrenrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.
Takmir Masjid Al Kautsar, khawatir Sultoni kecapaian, sehingga tidak maksimal sebagai satpam karena kegiatannya yang padat. “Itu kejadian tahun 2010. Setelah itu, ada dua orang yang menjadi satpam, tapi sebentar. Hanya dua bulanan," katanya.
Karena butuh, akhirnya takmir masjid kembali memanggilnya. Kini, Sultoni bertanggung jawab terhadap keamanan seluruh areal masjid. Mulai dari barang bawaan hingga kendaraan yang dibawa jemaah.
Ia juga menjadi tukang kebun di SD Al Kautsar yang berlokasi di sisi selatan masjid. Setelah selesai membersihkan halaman sekolah, pulang untuk beristirahat dan sarapan sebelum berangkat kerja sebagai pegawai di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Rejoso. Sorenya, mengajar di TPQ.
Sultoni hanya libur ketika Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Selama libur, tanggung jawabnya dipenuhi oleh Abdul Adim, 70, warga Kelurahan Tapaan. Sehari-harinya, Adim menjadi marbot di Masjid Al Kautsar. Sebagai satpam, Sultoni harus terjaga pada malam hingga pagi. Untuk menyiasatinya, ia biasanya tidur dulu selama satu sampai dua jam di pos jaga.
“Selama itu, ada remaja masjid yang menjaga. Mereka memang menawarkan, agar tidak capai. Saat mereka pulang, saya dibangunkan," jelas Sulton.
Resiko pekerjaan sebagai pegawai KUA Kecamatan, ustadz di TPQ, dan satpam masjid di malam hari membuat Sulton harus pandai menjaga kondisi tubuh. Ia selalu makan malam tepat waktu. Jika makan ditunda atau memilih tidak makan malam, tubuh bisa lemas dan jatuh sakit.
"Yang penting lagi itu bahagia. Kalau kita menikmati pekerjaan dengan senang, tentu tubuh merespon positif," jelasnya.
Menurutnya, jemaah Masjid Al Kautsar bukan hanya warga setempat. Ada juga warga luar daerah. Tidak jarang mereka menginap. Biasanya mereka kulakan di luar kota. Namun, jika pulang langsung sudah terlalu malam. Mereka bisa tidur di areal dalam masjid atau gazebo.
Untuk mengusir kebosanan, ia biasanya sambil membaca buku atau mengaji. Menurutnya, selama 15 tahun menjadi satpam masjid, tidak pernah ada peristiwa pencurian. Masjid selalu aman dan ramai. Ia bersyukur atas kondisi ini.
“Masjid aman dan nyaman, jemaah juga tentram. Alhasil masjid ramai dan selalu menjadi tempat yang dirindukan," ujarnya. (fahrizal firmani/rud)
Editor : Fahreza Nuraga