USIA boleh sepuh. Namun semangat menyeru sesama muslim untuk melaksanakan salat tak boleh surut. Itulah yang dilakukan Nidhom, 69. Puluhan tahun menjadi muazin, Nidhom selalu berusaha istiqamah mengumandangkan azan di Masjid As Syafi’i, tak jauh dari rumahnya.
Empat puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi, dalam urusan ibadah. Godaannya pasti beragam. Terutama dalam menjaga keistiqamahan. Nidhom telah melaluinya. Tercatat, sudah 40 tahun ia menjadi muazin di Masjid As Syafi’i.
Perawakannnya sudah tidak lagi gagah seperti dulu kala. Dalam kondisi suci mengenakan busana muslim, warga RT 2/RW 6, Dusun Curahmalang, Desa Karang Tengah, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, ini selalu datang lebih awal ke masjid.
Waktu salat maktubah dijaga. Begitu masuk waktu salat, tanpa perintah, Nidhom akan langsung menyalakan pengeras suara dan azan. Meski menggunakan mikrofon, suaranya tak lagi senyaring seperti dulu. Maklum, usianya hampir kepala tujuh.
Usai azan, Nidhom merasa lega. Terlebih setelah melihat sejumlah warga datang untuk melaksanakan salat berjemaah. Sambil menunggu jemaah yang lain, pedagang buah keliling ini membaca zikir, juga melalui pengeras suara.
Nidhom mengaku menjadi muazin di Masjid As Syafi’i, sudah 40 tahun. Meneruskan “profesi” ayahnya yang juga seorang muazin. Bisa dibilang, profesi ini merupakan warisan paling berharga. Dengan menjadi muazin, Nidhom tak pernah meninggalkan salat. “Orang tua saya meninggal dan sebelumnya juga jadi muazin,” ujar Nidhom, dengan suaranya yang berat.
Selain menjadi muazin, saban harinya Nidhoim berkeliling kampung menjajakan buah. Menggunakan sepeda ontel, ia berusaha mengais rezeki. Nidhom mengaku sengaja menjadi pedagang agar tidak mengganggu waktu salat dan bisa meluangkan waktu untuk pulang dan azan, lalu salat berjemaah di masjid tak jauh dari rumahnya.
Menurutnya, dengan menjadi pedagang atau membuka usaha sendiri, bisa mengatur waktu dengan lebih baik. Usahanya bisa distop sementara, sesuka hati. Saat masuk waktu salat, bisa pulang sebentar untuk menunaikannya. Sedangkan, untuk waktu salat Magrib, Isya, dan Subuh, Nidhom dipastikan selalu standby.
Nidhom mangaku merasa canggung ketika awal-awal menjadi muazin. Khawatir banyak yang tidak suka dengan suaranya. Namun ternyata jemaah menyambut baik. setelah terbiasa, Nidhom mengaku nyaman. Ia pun istiqamah mengumandangkan azan di masjid. “Sudah 40 tahun saya jadi muazin. Mulai dulu tidak berubah,” katanya.
Meski sudah lanjut usia, Nidhom mengaku belum terpikir untuk berhenti menjadi muazin. Ia menyadari badannya semakin renta. Penyakit linu sering menghambatnya ketika hendak azan. Namun ia tetap berusaha menyeru, mengajak muslim salat berjemaah. “Kalau tidak parah, saya tetap berupaya azan. Kan paginya juga bekerja,” ujarnya. (fuad alyzen/rud)
Editor : Fahreza Nuraga