MENJADI pemberi tanda waktu sujud bagi banyak orang, bukanlah perkara remeh.
Bagi Muhammad Hamzah, setiap kali tangannya menyentuh pelipis dan mikrofon mendekat ke bibir, ada beban sejarah dan pengabdian yang ia pikul.
Bisa dibilang, lelaki 37 tahun itu salah satu penjaga napas spiritual di Desa Karangrejo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan.
Hamzah memiliki jadwal yang cukup prestisius: menjadi muazin di Masjid Jamik Damarjati setiap Jumat Pon.
Namun, panggung utamanya adalah Musala As Salafy, tempat ia melantunkan azan lima waktu setiap hari.
Musala itu sekaligus warisan berharga dari mendiang abahnya, KH Abdul Ghofar.
Azan, terutama pada kalimat terakhir, menuntut napas yang panjang dan stabil.
Bagi Hamzah, stamina vokal bukan didapat dari latihan formal di depan cermin, melainkan dari jam terbangnya sebagai pelantun seni al-Banjari.
Vokal Banjari yang dinamis secara tidak langsung menempa kekuatan paru-parunya.
“Paling tidak, sebelum azan memang harus latihan dulu. Meski sudah terbiasa, azan di depan banyak orang itu urusannya mental,” ujar pria yang sehari-harinya mengajar di MTs Miftahul Khoir dan Madin As Salafy.
Menariknya, Hamzah memiliki ritual unik sebelum naik ke podium. Ia sering “rengeng-rengeng” atau bersenandung pelan sepanjang jalan menuju masjid.
Latihan tipis-tipis semacam itu dilakukan untuk memastikan pita suaranya tidak kaget saat harus menghantam nada tinggi.
Tantangan terberatnya justru bukan saat Ramadan, melainkan ketika menjadi bilal salat Idul Fitri.
“Itu momentum sekali setahun dan jemaahnya meluber. Benar-benar butuh persiapan mental yang ekstra,” tambahnya.
Agar telinga jemaah tidak jenuh, Hamzah memainkan strategi “tiga irama”. Ia tidak terpaku pada satu gaya saja.
Referensinya luas, mulai dari gaya klasik Makkah yang megah, irama nusantara yang umum di telinga warga, hingga gaya muazin yang dulu sering ia tonton di salah satu stasiun televisi nasional.
“Saya pakai tiga model irama bergantian supaya jemaah tidak bosan. Kadang pakai gaya Makkah, kadang gaya yang sudah umum di sini,” jelas pengusaha home industri lap pel dan keset itu.
Kemampuan Hamzah dalam mengolah vokal membuatnya memiliki signature suara.
Tanpa perlu melihat wajahnya, warga Desa Karangrejo sudah tahu siapa yang sedang memanggil untuk menunaikan kewajiban.
Karakter suaranya terbentuk dari proses otodidak selama lebih dari 10 tahun, di mana ia terus mengasah kejernihan artikulasi dan ketepatan nada.
Kiprah Hamzah di balik pengeras suara masjid tak lepas dari restu sang abah.
Ia mengenang momen satu dekade silam saat pertama kali mendapat tawaran menjadi muazin masjid jamik. Saat itu, ia meminta pendapat kepada abahnya, KH Abdul Ghofar.
“Abah berpesan agar tawaran itu diterima. Katanya, kalau sudah diberi kepercayaan, artinya suara saya harus bisa memberi manfaat untuk orang banyak,” kenang Hamzah.
Pesan itulah yang menjadi motivasinya setiap mengumandangkan azan, meski tenggorokan mulai terasa kering di tengah terik Ramadan.
Meski sudah kawakan, Hamzah mengaku tak luput dari kesalahan manusiawi.
Ia pernah keliru melafalkan Asyhadu alla menjadi Asyhadu anna. Namun, ketenangan mentalnya membuat insiden itu hanya lewat dalam hitungan detik.
Ia mampu menyiasati tanpa harus menghentikan azan atau merusak kesakralan momentum tersebut.
Bagi Hamzah, azan adalah panggilan suci yang melampaui teknik vokal semata. Di setiap cengkok iramanya, ada doa untuk sang abah dan tanggung jawab untuk menjaga semangat ibadah warga di kaki Gunung Arjuna agar tetap menyala. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin