BEJI, Radar Bromo - Bupati Pasuruan HM Rusdi Sutejo meninjau langsung kondisi eks Pasar Gondanglegi di Desa Cangkringmalang, Kecamatan Beji, Senin (5/1).
Pasar yang telah dibiarkan tanpa revitalisasi sejak 2016 itu, kini menjadi tumpuan harapan 87 pedagang yang masih bertahan berjualan di tengah keterbatasan fasilitas.
Kondisi pasar dinilai kian memprihatinkan. Selain bangunan yang menua, kawasan pasar kerap tergenang air saat hujan deras. Ketinggian air bahkan bisa mencapai selutut orang dewasa.
Ketua Paguyuban Pasar Gondanglegi, Dudung Cahyo, menyebut selama bertahun-tahun tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk membenahi pasar yang dulunya menjadi ikon kawasan tersebut.
“Ini pasar lama, bahkan sudah ada sejak zaman Belanda. Tapi sudah bertahun-tahun dibiarkan. Kalau hujan deras, pasar seperti tenggelam,” ujar Dudung.
Keluhan serupa disampaikan Sekretaris Paguyuban Pasar Gondanglegi, Anton.
Menurutnya, pasar tersebut merupakan wajah pertama Kabupaten Pasuruan bagi pengguna jalan yang keluar dari Tol Gempol.
“Kalau dibiarkan seperti ini, jelas menurunkan prestise Pasuruan. Padahal kalau dirapikan dan bersih, bisa jadi pasar yang bagus. Pasar lain sudah mulai ditata,” katanya.
Anton berharap kepemimpinan bupati yang baru mampu membawa perubahan.
Ia mengapresiasi sejumlah pembangunan yang sudah mulai dirasakan masyarakat, namun berharap dampaknya juga menyentuh pedagang Pasar Gondanglegi.
“Kalau pasarnya bagus, pengunjung ramai, pendapatan pedagang juga meningkat,” tambahnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Bupati Pasuruan HM Rusdi Sutejo menegaskan bahwa eks Pasar Gondanglegi sudah tidak lagi berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) sejak sekitar 10 tahun terakhir.
Meski masih digunakan pedagang, tidak ada pemungutan retribusi yang dilakukan.
“Pasar ini sudah lama tidak menghasilkan PAD. Tapi tetap kita pikirkan agar bisa difungsikan kembali sebagai pasar yang layak sebagaimana harapan pedagang,” tegas Mas Rusdi-sapaannya.
Ia memastikan Pemkab Pasuruan akan melakukan koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), mulai dari kecamatan, desa, Disperindag, hingga perwakilan pedagang.
Kajian akan dilakukan agar pasar tidak hanya menjadi tempat jual beli kebutuhan pokok, tetapi juga mampu menarik minat pembeli.
“Pedagang harus didata dengan benar. Jangan sampai setelah dibangun justru jumlah pedagang membengkak dan tidak terkendali,” ujarnya.
Mas Rusdi menyebut revitalisasi pasar akan diupayakan melalui perubahan anggaran (P-APBD) jika memungkinkan.
Namun, bila membutuhkan anggaran lebih besar, realisasi kemungkinan dilakukan pada 2027.
“Mohon pedagang bersabar. Prosesnya sekitar satu sampai satu setengah tahun. Pembangunan tidak bisa instan karena harus melalui perencanaan matang,” katanya.
Ia juga menegaskan tidak ingin memberikan janji kosong. Setiap langkah akan dikaji agar Pasar Gondanglegi benar-benar bisa kembali menjadi pusat ekonomi tradisional.
“Dalam penyusunan desain nanti, perwakilan pedagang akan dilibatkan. Kita ingin pasar ini kembali ikonik dan ramai,” tukasnya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin