PASURUAN, Radar Bromo - Pemkot Pasuruan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) meluncurkan program revolusioner, sekolah Pasuruan Integrated Management Education (PRIME).
Peluncuran program ini, menegaskan komitmen pemkot untuk menyiapkan generasi emas Indonesia di Kota Pasuruan.
Kegiatan yang berlangsung di gedung kesenian Dharmoyudho pada Oktober silam itu, dihadiri oleh sejumlah pejabat.
Bahkan, Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo hadir dalam acara tersebut. Orang nomor satu di Kota Pasuruan itu, didampingi Wakil Wali Kota Pasuruan, Mohammad Nawawi dan Kepala Dispendikbud Kota Pasuruan, Lucky Danardono.
Serta kepala sekolah dan guru SD dan SMP di Kota Pasuruan turut menjadi saksi jalannya kegiatan.
Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo menyampaikan kebahagiaan sejati seorang pendidik, adalah saat melihat anak didiknya mampu meraih pencapaian, melampaui kemampuan para guru.
Ia mengapresiasi upaya guru atas dedikasi mereka dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak didik.
"Tentunya, guru pasti bahagia jika anak didiknya mampu berhasil dan meraih capaian yang baik. Apalagi jika siswa itu memiliki karakter baik," katanya.
Mas Adi-sapaannya-menyebut gagasan di balik program PRIME ini, untuk menciptakan pendidikan yang seimbang dengan mengintegrasikan kearifan lokal yang sesuai identitas Kota Pasuruan sebagai Kota Santri.
Program ini menyeimbangkan aspek intelektual, spiritual dan emosional para siswa, agar siap menghadapi tantangan masa depan.
"Sekolah PRIME adalah bukti komitmen pemkot dalam menghadapi tantangan masa depan di dunia pendidikan. Tidak hanya mencerdaskan intelektual, tapi juga menyeimbangkan spiritual dan emosional," sebut Mas Adi.
Ia menambahkan, melalui program inovatif ini, siswa tidak lupa dengan kultur budaya kotanya.
Mereka diharapkan tidak hanya cerdas dalam akademik, tapi juga pandai dalam bertutur kata dan berbudi luhur.
Siswa juga diajarkan tentang budaya dan bahasa Jawa hingga tata krama yang baik.
"Kota Pasuruan dikenal sebagai Kota Santri. Kami tidak ingin Gen Z lupa pada budayanya, karena pengaruh dari gadget. Mereka juga harus menjadi siswa baik," ungkapnya. (riz/one/*)
Editor : Jawanto Arifin