Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Warga Hentikan Aktivitas Alat Berat saat Ratakan Lahan Pertanian di Lekok Pasuruan untuk Proyek Sekolah Tamtama TNI AL

Fuad Alyzen • Kamis, 11 Desember 2025 | 14:12 WIB

TOLAK PEMBANGUNAN: Sejumlah anggota TNI saat menemui warga yang memprotes rencana pembangunan proyek sekolah tamtama TNI AL.
TOLAK PEMBANGUNAN: Sejumlah anggota TNI saat menemui warga yang memprotes rencana pembangunan proyek sekolah tamtama TNI AL.
 

LEKOK, Radar Bromo-Penolakan warga atas rencana pembangunan sekolah Tamtama TNI AL di Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, kembali mencuat.

Menyusul aktivitas alat berat yang dilakukan di Dusun Tangger, Desa Wates, Kecamatan Lekok.

Situasi tersebut mulai terlihat pada Jumat (5/12). Warga meminta agar sejumlah ekskavator yang menuju lokasi pembangunan dikembalikan.

Warga khawatir karena alat berat tersebut melewati lahan pertanian yang selama ini dikelola masyarakat. Hari itu, aktivitas pembangunan dihentikan.

Muhammad Hakim, 35, salah satu warga Desa Semedusari, Kecamatan Lekok menceritakan, Jumat (5/12) pagi sekitar pukul 07.00, warga melihat alat berat menuju lokasi pembangunan di Dusun Tangger, Desa Wates. Sekitar 20 personel TNI mengawal alat berat itu.

Melihat hal itu, warga yang sedang beraktivitas di ladang spontan berkumpul. “Warga berkumpul karena melihat alat berat mendekat ke area pertanian,” ujarnya.

Tak hanya melintas, ekskavator makin mendekati lahan pertanian warga. Warga pun minta agar ekskavator berhenti dengan berjejer atau menghadang di depannya. Aktivitas sempat berhenti.

Namun, sekitar pukul 13.00 menurut Hakim, alat berat mulai merusak dan meratakan ladang. Sejumkan ekskavator bergerak di ladang yang ditanami timun, krai, jagung, dan kelor.

Saat itu hanya ada beberapa warga yang bekerja di ladang dan kebanyakan perempuan. Melihat lahan pertanian dirusak, para perempuan itu spontan meminta pengerjaan dihentikan. Sebab, tanaman-tanaman itu hampir memasuki masa panen.

Namun, ekskavator terus bergerak meratakan ladang. Walaupun mereka menangis, menjerit minta tolong agar aktivitas berhenti.

Berselang satu jam, warga berbondong-bondong datang. Mereka datang setelah mendengar ekskavator mulai meratakan ladang pertanian.

Aktivitas akhirnya dihentikan. Namuun, sempat terjadi perdebatan panas antara warga dan TNI.

Keesokan harinya, Sabtu (6/12), alat berat kembali beroperasi sekitar pukul 07.30 di Dusun Tangger. Sekitar 300 warga dari Desa Wates, Semedusari, dan Pasinan kemudian berdatangan.

Mereka minta agar aktivitas alat berat tersebut dihentikan. Hingga akhirnya, alat berat dikembalikan ke area sekitar sekolah Infanteri Marinir.

“Sekitar 300 warga berdatangan dan minta aktivitas alat berat dihentikan. Alat berat kemudian dikembalikan ke depan sekolah infanteri marinir diserta pernyataan bahwa TNI AL akan menghentikan pembangunan,” ujarnya.

Paur Pam Puslatpur 3 Grati, Lettu Mar Sutikno menyampaikan bahwa tidak ada unsur perusakan yang disengaja. Ia menegaskan lahan tersebut merupakan milik TNI AL dan saat ini diperlukan untuk keperluan pembangunan gedung pendidikan. Yaitu, membangun sekolah Tamtama TNI AL.

“Lahan itu milik TNI AL dan akan digunakan untuk pembangunan. Kalau ada anggapan merusak, itu karena mereka keberatan pembangunan berjalan. Bahkan muncul permintaan ganti rugi. Padahal selama ini lahan itu mereka manfaatkan tanpa kami ganggu,” ujarnya.

Ia membenarkan bahwa respons warga terjadi dalam dua hari berturut-turut. Demi menjaga situasi tetap kondusif, pengerjaan sementara dihentikan.

Namun, ia menegaskan pembangunan akan tetap dilanjutkan sesuai rencana. “Pembangunan tetap akan dilanjutkan,” tuturnya.

Berdasarkan informasi di lapangan, pembangunan Sekolah Tamtama TNI AL itu akan dilakukan di lahan yang masuk kawasan tiga desa.

Yaitu, Desa Semedusari, Pasinan dan Wates di Kecamatan Lekok. Namun, berapa luas kawasan yang akan dibangun belum diketahui.

Sebelumnya diberitakan, warga Desa Pasinan memasang banner dan menyatakan penolakan terhadap kabar akan dibangunnya Sekolah Tamtama TNI AL di Dusun Semongkrong, Desa Pasinan, Lekok.

Saat itu, aksi warga dilakukan secara tertib. Kemudian, ratusan warga menggelar doa bersama atau “istighotsah” di lahan kebun kelor di Dusun Semongkrong untuk menolak rencana tersebut.

Warga dan tokoh masyarakat meminta agar rencana pembangunan ditunda atau dibatalkan. Karena menurut mereka lahan itu adalah tanah desa dan dipergunakan sebagai kebun/pertanian warga. (zen/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#pasuruan #lahan pertanian #sekolah tamtama marinir #alat berat #tni al #lekok