REJOSO, Radar Bromo - Sungai Rejoso menjadi prioritas normalisasi tahun ini. Proses normalisasi sudah dilakukan sejak September lalu yang dikerjakan Unit Pengelola Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air (UPT PSDA) Provinsi Jawa Timur.
Normalisasi dilakukan sepanjang 3,4 kilometer dari batas jembatan tepatnya di perlintasan kereta api Desa Rejoso Lor sampai mendekati muara sungai.
Namun proses normalisasi petugas di lapangan menemui kendala. Hujan deras membuat debit air sungai meninggi dan selalu membawa sedimen. Dua problem tersebut selalu menghambat proses normalisasi di lapangan.
Kepala UPT PSDA Wilayah Sungai Welang-Pekalen di Pasuruan Anton Dharma mengatakan, proses normalisasi sejauh ini sudah berjalan 85 persen. Target penyelesaiannya pada Desember mendatang.
Namun anton akui, tantangan normalisasi adalah hujan dengan intensitas tinggi yang kerap membuat debit air meninggi. “Untuk keamanan menunggu air surut dan debit air berkurang,” ujarnya.
Sebab saat debit air meninggi, sangat berisiko ketika melakukan pekerjaan normalisasi. Sehingga harus menunggu debit air berkurang dan menunggu debit air berkurang.
Jika hujan ekstrem, kelanjutan proses normalisasi menunggu 1 sampai 2 hari. Jika hujan ringan, hanya beberapa jam saja.
Hal lainnya saat debit air meninggi, aliran sungai selalu membawa sedimen dengan jumlah banyak.
Ini sering membuat petugas melakukan normalisasi ulang untuk mengembalikan ukuran sungai dengan galian 2 meter dari dasar sungai sebelum dinormalisasi.
Hujan jelas bakal menjadi tantangan karena ada peringatan dini dari BMKG tentang potensi hujan ekstrem di musim hujan 2025 sampai 2026.
“Kami akan antisipasi dengan memonitor cuaca harian di bagian hulu sungai,” ujarnya. (zen/fun)
Editor : Fandi Armanto