LEKOK, Radar Bromo- Hari kedua pencarian tiga penumpang perahu Samudra yang hilang membuahkan hasil. Dua orang ditemukan meninggal, Selasa (15/7) oleh Tim SAR Gabungan.
Keduanya yaitu Muzakky, 30, warga Kelurahan Kepel, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan.
Satu lagi yaitu Reza, 21, warga Dusun Takeran, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Jasad mereka ditemukan mengambang sekitar 5 kilometer atau 4 mil dari posko pencarian yang ada di Pantai Dusun Pasir Panjang, Desa Wates, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan.
Saat menyisir perairan Lekok sekitar pukul 08.08, tim SAR Gabungan mendapat informasi dari nelayan bahwa ada dua jasad lelaki mengambang. Tim langsung menuju lokasi dan mengevakuasi kedua jasad tersebut.
Selanjutnya, jasad itu dibawa ke RSUD Grati di Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan.
Kasubdit Patroli Ditpolairud Polda Jatim AKBP Rokhmad Slamet menjelaskan, pada pencarian hari kedua tim SAR Gabungan menemukan dua jasad korban kecelakaan perahu Samudra yang terjadi Minggu (13/7). Dua jasad itu ditemukan berdekatan, jaraknya sekitar 200 meter.
“Pada hari kedua, kami dari Basarnas, Sat Polairud Polres Pasuruan Kota, Marinir, tokoh masyarakat dan nelayan, berhasil menemukan lagi dua korban,” terangnya.
Jasad pertama yaitu korban Muzakky ditemukan di koordinat 07° 36'. 357 LS dan 113° 02'. 353 BT. Kemudian jasad kedua, Reza ditemukan di koordinat 07° 36'.140 LS dan 113° 02'.798 BT.
“Kedua jenazah sudah dibawa ke rumah sakit. Setelah diketahui identitasnya akan diserahkan pada keluarga. Selanjutnya kami akan tetap mencari satu orang lagi yang belum ditemukan,” katanya.
Humas RSUD Grati Eka Deby Khardian memastikan identitas dua jasad korban perahu Samudra yang terbalik. Keduanya yaitu Muzakky dan Reza.
“Saat ini jasad korban atas nama Muzakky sudah dijemput keluarganya. Tinggal satu orang masih di sini,” katanya.
Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi membenarkan ditemukannya dua jasad korban kecelakaan perahu Samudra, Selasa (15/7) pagi. Keduanya teridentifikasi Muzakky dan Reza.
“Tinggal satu korban yang belum ketemu yaitu atas nama Kariman. Tim masih melakukan pencarian,” ujarnya.
Kabiddokes Polda Jatim Kombes Pol Mohammad Khusnan Marzuki memastikan, penumpang perahu Samudra ada 19 orang. Ditambah seorang nakhoda dan seorang ABK.
“Sebanyak 16 penumpang dinyatakan hidup. Empat di antaranya meninggal dunia. Semuanya sudah terindentifikasi. Satu orang atas nama Kariman belum ditemukan dan masih dilakukan pencarian,” katanya.
Kombes Khusnan menjelaskan, identifikasi pada jasad korban tidak sembarangan dilakukan. Identifikasi dilakukan sesuai dengan standar DVI (Disaster Victim Identification) internasional. Dalam hal ini identifikasi dilakukan menggunakan data primer. Bila indentitas belum terungkap, baru menggunakan data sekunder.
Data primer ini meliputi sidik jari, pemeriksaan gigi, dan analisis DNA. Sedangkan metode sekunder meliputi properti dan medis.
“Karenanya bagi keluarga, jika mendapat kejadian seperti ini, data sebelum meninggal segera dilaporkan agar memudahkan proses identifikasinya. Yang kemudian dicocokan dengan data setelah kematian,” lanjutnya.
Contoh data yang bisa dilaporkan menurutnya, foto atau baju yang terakhir dipakai korbah. Bisa juga ijazah atau KTP yang ada sidik jarinya.
Sementara itu, keluarga korban Kariman sampai saat ini masih setia menunggu di bangku posko pencarian. Mereka datang sekeluarga dan terus menyaksikan ke arah pantai. “Kami tetap menunggu pencarian. Tinggal bapak yang belum ditemukan,” ujar anak Kariman yaitu Sahai, 35.
Sahai menjelaskan, bapaknya itu sebenarnya sudah jarang nemancing, meski hobinya mancing. Sebab, usianya sudah memasuki 60 tahun.
Bapak juga baru memulai pertanian. Biasanya siang hari bapak sudah di kebun untuk merawat tanamannya, timun. Semoga cepat ketemu,” tuturnya. (zen/hn)
Editor : Muhammad Fahmi