Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mancing Berujung Tragedi, Perahu Rombongan Pemancing Terbalik di Lekok Pasuruan: Satu Tewas, Tiga Hilang, Ini Kronologinya

Mokhamad Zubaidillah • Senin, 14 Juli 2025 | 13:44 WIB

 

EVAKUASI: Petugas dibantu warga mengevakuasi jenazah penumpang perahu yang terbalik di perairan Lekok, Pasuruan, Senin (14/7). (Istimewa)
EVAKUASI: Petugas dibantu warga mengevakuasi jenazah penumpang perahu yang terbalik di perairan Lekok, Pasuruan, Senin (14/7). (Istimewa)

LEKOK, Radar Bromo-Niat memancing berujung petaka. Sebuah perahu berisikan 20 penumpang lengkap dengan anak buah kapal (ABK)-nya terbalik usai perahu yang mereka tumpangi diterjang ombak besar di perairan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Minggu (13/7) sore.

Akibatnya, 1 penumpang tewas, 3 orang mengalami luka-luka. Sementara 3 penumpang lainnya dinyatakan hilang.

Tak cukup itu, data sementara menyebutkan, ada sebanyak 5 orang lagi belum diketahui identitas dan kondisinya.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, insiden itu terjadi sekitar jam 15.30 WIB.

Perahu terbalik di wilayah perairan laut berjarak sekitar 1,2 mil atau kurang lebih 2 kilometer dari bibir pantai Pasir Panjang, Desa Wates, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan.

Diketahui, rombongan pemancing ini memulai pergi memancing sejak pagi.

Mereka diantar oleh Jalaludin (43), selaku nahkoda dan Sahrul (23)  sebagai ABK menggunakan perahu.

Keduanya merupakan nelayan setempat. Yakni, warga Dusun Pasir Panjang, Desa Wates, Kecamatan Lekok.

Minggu itu, ada sebanyak 18 orang pemancing yang akan diantar oleh keduanya.

Mereka tak hanya berasal dari wilayah Pasuruan saja. Tapi juga rombongan pemancing asal Malang.

Jadwal pemberangkatannya pun berbeda-beda. Hasil assament awal/ sementara terungkap kalau perahu “Samudera” yang dinahkodai Jalaludin tersebut mengantar rombongan pemancing sebanyak empat kali.

Kelompok pertama berangkat sekitar jam 07.00 WIB. Berjumlah 6 orang. Selanjutnya kelompok kedua berjumlah 5 orang berangkat pada jam 08.00 WIB.

Selanjutnya, kelompok ketiga jam 09.00 WIB mengantarkan 4 orang. Dan terakhir, pemberangkatan keempat sekitar jam 10.00 WIB sebanyak 4 orang.

Masing-masing kelompok itu diantar menuju ke sejumlah spot pemancingan, yakni banjang (perahu apung) yang berbeda-beda.

Sesuai kesepakatan awal, para pemacing ini akan dijemput lagi menggunakan perahu yang sama pada pukul 14.00 WIB.

Saat proses penjemputan dan perjalanan balik pulang itulah petaka itu terjadi. Kejadiannya sekitar jam 15.30 WIB.

Perahu yang ditumpangi 20 orang lengkap nahkoda beserta ABK itu tiba-tiba dihantam ombak besar. Ada sebanyak tiga kali hantaman gelombang besar menerjang perahu tersebut.

Untuk hantaman pertama dan kedua, perahu masih bisa berlayar. Meski demikian, tingginya ombak laut menyebabkan lambung perahu jadi terendam air.

Hingga menyebabkan laju tidak stabil. Para penumpang pun panik. Di posisi yang sangat tidak menguntungkan tersebut, perahu yang semestinya hanya berkapasitas 10 penumpang itu kembali dihantam gelombang kali ketiganya.

Ombak kali ini lebih besar. Menerjang dari arah belakang. Perahu yang sudah hilang kendali itupun langsung terbalik.

Belasan penumpang yang semula berada di atas perahu kocar-kacir tenggelam.

Mereka berusaha menyelamatkan diri sekuat tenaga. Ada yang berpegangan pada punggung perahu.

Ada pula yang berupaya meraih barang-barang agar tetap bisa mengapung.

Beruntung, saat kecelakaan itu terjadi, ada tiga perahu nelayan berlayar tak jauh dari lokasi.

Para nelayan pun serta merta memberikan pertolongan. Satu per satu dari para korban itu akhirnya berhasil dievakuasi ke perahu nelayan.

Namun, nahas menimpa Acham Asfihani (19). Warga Dusun Kagengan, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang meninggal dalam insiden tersebut.

Jasadnya kemudian dibawa ke ruang Instalasi Kamar Jenazah RSUD Grati. Tak hanya menyebabkan korban jiwa, peristiwa itu juga menyebabkan dua penumpang lain mengalami luka-luka.

Keduanya adalah Imam Muhlis (44), warga Dusun Takeran, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang dan M. Nur Ikhwan (16), warga Kelurahan Kepel, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan.

Dua korban ini akhirnya bisa pulang usai menjalani perawatan ringan di IGD RSUD Grati, Kabupaten Pasuruan.

Hasil asesmen terakhir pada Minggu (13/7) malam pasca kejadian, menyebutkankan bahwa masih ada 5 orang lagi belum diketahui identitas sekaligus kondisinya. Selain itu, ada 3 orang lainnya dinyatakan hilang/ belum diketemukan. (ube/mie)

Editor : Muhammad Fahmi
#pasuruan #perahu terbalik #pemancing #hilang #lekok #mancing #tewas