PURWODADI, Radar Bromo - Hampir dua bulan berlalu, sejak bencana tanah gerak melanda Dusun Sempu, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.
Warga yang mengungsi kini dilanda kebingungan. Ketidakpastian dari pemerintah, membuat mereka kembali ke rumah masing-masing,meninggalkan pengungsian yang selama ini menjadi tempat perlindungan.
“Warga ingin pulang karena tidak ada keputusan yang jelas. Kalau hujan lebat, baru mereka kembali ke pengungsian,” ungkap Darmanto, Ketua RT setempat saat ditemui, Sabtu (8/3).
Darmanto sendiri sudah 25 hari mengungsi. Siang hari ia kembali ke rumah. Sementara malam harinya, kembali ke pengungsian. Namun, sudah dua hari terakhir, pengungsian sepi.
“Semua warga begitu, pagi mereka harus bekerja. Tapi dua hari ini, tidak ada lagi yang tidur di pengungsian,” tuturnya.
Kepala Pelaksana BPBD, Sugeng Hariyadi, menyatakan bahwa rekomendasi relokasi adalah solusi terbaik.
Bahkan, rekomendasi yang diberikan Badan Geologi Kementerian ESDM juga sejalan dengan BPBD Provinsi Jawa Timur.
“Dari Kementerian ESDM menyatakan apa yang telah dilaksanakan oleh BPBD Provinsi Jawa Timur. Intinya rekomendasi yang diberikan sama, relokasi,” kata Sugeng.
Kendati demikian, proses relokasi, diakui Sugeng, tidak bisa instan. Banyak yang harus dipersiapkan, mulai dari lahan hingga anggaran.
Sugeng menegaskan, demi keselamatan, warga sebaiknya tetap di pengungsian.
“Kalau hanya melihat peliharaan atau barang-barangnya, tidak masalah. Yang penting, tetap waspada,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan, lanjut Sugeng, masih bertanggung jawab atas kebutuhan pengungsi.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan sudah menyiapkan semuanya. Termasuk kebutuhan makan. Bahkan hingga sekarang, masih ada petugas yang berjaga di pengungsian.
Untuk diketahui, bencana tanah gerak yang terjadi sejak 28 Januari 2025 telah merusak 58 rumah warga.
Di antaranya, ada 17 rumah rusak berat. Warga pun terpaksa mengungsi ke SDN 2 Cowek. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin