TOSARI, Radar Bromo-Kematian mendadak puluhan babi di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan beberapa hari terakhir juga jadi perhatian DPRD setempat.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan Agus Setiya Wardhana meminta dinas terkait untuk gerak cepat melakukan penelusuran atas fenomena tersebut.
Mengingat di sejumlah daerah, kejadian serupa teridentifikasi sebagai temuan kasus African Swine Fever (ASF) atau virus babi Afrika.
“Kami harap penanganan cepat. Supaya wabah virus tidak menyebar dan merugikan peternak kecil di desa-desa,” kata legislator asal Tosari itu.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Pasuruan Ainur Alfiah menegaskan, pihaknya masih melakukan pengambilan sampel darah pada beberapa ekor babi milik warga di dua desa tersebut.
Hasilnya, baru akan diketahui melalui uji laboratorium dalam rentang waktu 5-7 hari ke depan.
“Pengambilan sampel darah sudah kami lakukan untuk diuji-labkan. Hasilnya tidak sampai seminggu, insyaallah sudah keluar,” beber Alfiah, sapaannya.
Alfiah menjelaskan, kebanyakan babi yang dipelihara warga di Wonokitri maupun Sedaeng dibeli dari para pedagang di Malang.
Sehingga muncul kekhawatiran bahwa babi-babi tersebut menularkan virus ASF, seperti yang pernah terjadi pada 2021 silam.
“Kalau di Malang, kan memang ASF yang menyerang babi di sana. Dikhawatirkan virus yang sama kemudian ditularkan ke babi-babi milik warga Sedaeng dan Wonokitri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Alfiah mengatakan, belum ada vaksin yang tersedia untuk babi.
Untuk mengantisipasi semakin bertambahnya jumlah babi yang mati, dinasnya memberikan obat-obatan serta melakukan disinfeksi pada sejumlah kandang babi milik warga.
Dengan kematian puluhan babi ini, Alfiah mengimbau warga sekitar untuk rajin membersihkan kandang.
Serta memberikan vitamin agar babi yang dipelihara memiliki kekebalan. Terlebih, saat ini musim hujan ekstrem disertai angin kencang.
Diketahui, Puluhan ekor babi di dua desa Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, tiba-tiba mati tanpa ada sebab yang jelas.
Kejadian ini mulai diketahui warga sekitar dua pekan lalu. Hanya saja, tingkat kematian semakin bertambah setiap harinya. Kejadian itu berlangsung di Desa Sedaeng dan Desa Wonokitri. (tom/one)
Editor : Muhammad Fahmi