Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jalan Berliku Arjuno Agro Techno Park yang Digadang Jadi Destinasi Wisata Baru, Bisakah Sesuai Ekspektasi?

Rizal Syatori • Rabu, 4 September 2024 | 16:10 WIB

 

INDAH: Kawasan Arjuna Agro Techno Park dengan latar belakang Gunung Arjuno.
INDAH: Kawasan Arjuna Agro Techno Park dengan latar belakang Gunung Arjuno.

UNIT Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Budi Daya Ternak adalah fondasi Pemkab Pasuruan membangun Arjuna Agro Techno Park (AATP). Konsep awalnya adalah kawasan eco dan eduwisata, dengan membuat taman layaknya rest area berfasilitas lengkap. Akankah destinasi wisata baru ini sesuai dengan harapan?

Berada di atas 700 meter dari permukaan laut (mdpl), membuat hawa dan suasana menjadi sejuk. Inilah letak geografis Desa Sumberrejo, Kecamatan Purwosari. Daerah dataran tinggi yang mayoritas warganya adalah petani dan peternak.

Tak terkecuali di Dusun Kucur, Desa Sumberrejo, yang menjadi lokasi AATP. Di sebuah lahan seluas 19,5 hektare, kini tengah dikerjakan proyek besar dengan sistem multiyears karena dibangun sejak 2022.

Secara fisik, pembangunan AATP memang sudah dikerjakan sejak lama. Pembangunan AATP tahap pertama berlokasi di UPTD Budi Daya Ternak pada 2022 lalu. Anggaran yang digelontor Rp 5,5 miliar berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU).

DATARAN TINGGI: Sejumlah fasilitas yang ada di Arjuno Agro Techno Park yang sudah berdiri. Proyek multiyears ini diharapkan menjadi penggerak ekonomi baru bagi warga sekitar.
DATARAN TINGGI: Sejumlah fasilitas yang ada di Arjuno Agro Techno Park yang sudah berdiri. Proyek multiyears ini diharapkan menjadi penggerak ekonomi baru bagi warga sekitar.
BESAR: Gerbang AATP yang suah dibangun yang sesuai dengan maketnya (inset).
BESAR: Gerbang AATP yang suah dibangun yang sesuai dengan maketnya (inset).

Hingga konsep berkembang tercetus. Saat itu, Irsyad Yusuf yang menjadi bupati Pasuruan menginginkan UPTD Budi Daya Ternak bisa lebih hidup. Bisa mengundang wisatawan dan menjadi roda perputaran ekonomi baru, khususnya bagi masyarakat sekitar.

Singkatnya, pembangunan dilakukan secara bertahap selama tiga tahun terakhir. Tahun ini, yang merupakan tahap yang ketiga. Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan meyakini, jika sudah selesai nanti, AATP bisa menjadi destinasi baru.

“Kami optimistis, AATP ke depan menjadi salah satu wisata unggulan di Kabupaten Pasuruan. Prosesnya butuh bertahap tentunya,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan Agus Hari Wibawa.

Untuk menuju AATP, wisatawan memang harus menempuh perjalanan yang cukup jauh. Lokasi AATP ini berjarak sekitar 9-10 kilometer dari ruas jalan nasional jurusan Surabaya–Malang.

Siapapun yang ingin menuju ke sana, harus melewati jalan kabupaten di sejumlah desa yang ada di Kecamatan Puwosari, mulai Desa Sengonagung, Pager, dan Sumberrejo.

Memang sepanjang dari Desa Sengonagung hingga menuju lokasi, kondisi jalan sudah bagus. Aspalnya hotmix dan beberapa spot bahunya jalannya telah dicor atau rigid.

Sesampainya di lokasi, terdapat lahan parkir cukup luas dengan permukaannya berpaving. Inilah proyek yang dibangun pada 2023. Meski belum seluruhnya jadi, lokasi ini bisa menampung sampai dengan ratusan motor dan puluhan mobil.

“Akses jalannya kan sudah bagus, lokasinya terjangkau. Sampai di Kucur, sepanjang jalan akan melewati perkebunan kopi. View-nya langsung Gunung Arjuno. Ini menjadi poin plus AATP, selain sarpras yang sudah ada,” tuturnya.

Saat operasional nanti, untuk menuju ke lokasi, bagi kendaraan besar seperti bus pariwisata, cukup kesulitan. Tentunya harus transit lebih dulu. Salah satu titik transitnya menjadi pilihan adalah lahan kosong cukup luas merupakan Tanah Kas Desa (TKD) Sumberrejo. Lokasinya di seberang Balai Desa Sumberrejo.

“Terkait ini, kami akan koordinasi dengan Pemdes Sumberrejo. Sesuai dengan Amdal Lalin sudah selesai dikerjakan tahun kemarin. Direkomendasi mobil pribadi. Sehingga bus harus transit,” bebernya.

Disinggung terkait pengelolaannya, rencananya AATP mulai operasional di tahun depan. Kata Agus hari Wibawa, ada dua opsi yang bisa dilakukan pemkab. Pertama, dikelola sendiri oleh dinas. Sementara opsi kedua, dikelola oleh pihak ketiga atau swasta. Tentunya semua pengelola harus memaksimalkan segala sarpras sudah tersedia dan terbangun.

BANYAK: Kios kuliner yang sudah terbangun di AATP. Kios inilah yang nantinya ditempati pedagang.
BANYAK: Kios kuliner yang sudah terbangun di AATP. Kios inilah yang nantinya ditempati pedagang.
TIC: Tourist Information Center yang megah, sesuai dengan maketnya (inset).
TIC: Tourist Information Center yang megah, sesuai dengan maketnya (inset).

“Menyangkut operasional dan pengelolanya, akan dibahas lebih lanjut dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPDA) di tahun depan,” cetus mantan Kepala Dishub Kabupaten Pasuruan ini.

Optimistis yang lain karena sepanjang AATP, di sekitarnya terdapat sejumlah destinasi wisata sudah lebih dulu ada. Tentu ini bisa menjadi pilihan setelah atau sebelum dari AATP.

Seperti river tubing Jempinang dan Kolam Renang Komado. Keduanya berada di Desa Sumberrejo, Kecamatan Purwosari. Ada pula wisata lainnya terdekat, seperti Kebun Raya Purwodadi, Gua Ontobogo di Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi. Kemudian, Saygon Park dan Kurma Park, masing-masing di Kecamatan Purwosari dan Purwodadi.

“Jadi, setelah dari AATP, para wisatawan bisa lanjut berwisata ke lokasi lain di sekitar yang bisa menjadi alternatifnya. Di Kucur, juga bisa menikmati hasil bumi berupa durian dan aplukat,” ungkapnya.

Terpisah, Kades Sumberrejo Digsono menuturkan, pemdes setempat beserta warga, sangat mendukung keberadaan AATP. “Kami mendukung sekali dan berharap dinas terkait ada kerja sama dengan pemdes. Bila perlu sesuai berita acara dan tertulis. Termasuk pula UMKM yang ada di desa ini dilibatkan,” katanya singkat.

 

Sudah Sedot Puluhan Miliar, 2024 Menjadi Tahun Terakhir Pembangunan

Tahun ini adalah tahun terakhir pembangunan Arjuno Agro Techno Park. Kawasan itu mengubah lokasi yang sebelumnya UPTD Budi Daya Ternak menjadi eco dan eduwisata yang telah beroperasi selama bertahun-tahun.

Setiap tahun, tak kurang dari Rp 1 miliar harus dialokasikan pemerintah untuk menunjang operasional. Namun, potensi ekonominya dinilai kurang optimal.

Setiap tahun, anggaran yang dialokasikan cukup besar, namun hasilnya tidak sebanding dengan investasi yang telah dikeluarkan.

Oleh karena itu, Pemkab Pasuruan mengambil inisiatif strategis untuk mengubah wajah kawasan ini menjadi destinasi wisata yang lebih menarik dan menguntungkan.

Sejak tahun 2021, Pemkab Pasuruan total telah menggelontorkan dana sebesar Rp 26 miliar untuk mewujudkan proyek ambisius ini.

Dana tersebut, digunakan untuk membangun berbagai fasilitas pendukung, seperti gedung kantor, fasilitas umum, akses jalan, hingga berbagai wahana rekreasi. Beberapa di antaranya yang menjadi sorotan adalah pembangunan amfiteater dan menara pandang.

BERDEKATAN: Bangunan di UPTD Budi Daya Ternak yang rencananya menjadi wisata edukasi.
BERDEKATAN: Bangunan di UPTD Budi Daya Ternak yang rencananya menjadi wisata edukasi.
TERSEDIA: Mess untuk tempat menginap yang bisa digunakan pengunjung di UPTD Budi Daya Ternak.
TERSEDIA: Mess untuk tempat menginap yang bisa digunakan pengunjung di UPTD Budi Daya Ternak.

”Amfiteater dan menara pandang ini diharapkan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan Agus Hari Wibawa.

“Kami ingin menciptakan sebuah landmark baru di kawasan ini yang dapat menarik minat pengunjung dari berbagai daerah,” tambah Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Nurusanto.

Pemkab Pasuruan memulainya pada 2021 dengan menyiapkan anggaran sekitar Rp 2 miliar.

Tahun kedua, pemkab mengalokasikan anggaran Rp 5,2 miliar untuk pembangunan tahap awal AATP tersebut.

Setelah itu, pemkab mengalokasikan kembali anggaran di atas Rp 10 miliar di tahun 2023 yang bersumber dari DAK untuk kelanjutan pembangunan wisata tersebut.

Beberapa pembangunan di antaranya adalah gedung kantor TIC, fasilitas umum, fasilitas aksesilitas, fasilitas rekreasi penunjang AATP.

Di tahun 2024 ini, pemkab juga mengalokasikan anggaran miliaran lagi untuk beberapa pembangunan wisata yang belum dioperasikan itu. Meliputi fasilitas mitigasi bencana alam, panggung kesenian, penataan lanskap, kebersihan wisata, dan rekreasi penunjang kegiatan wisata.

“Pembangunan Arjuno Agro Techno Park belum tuntas, saat ini masih berjalan. Tahun ini merupakan tahun ketiga di tahap ketiga,” ucap Nurusanto.

Santo–sapaan–akrabnya merinci, pembangunan AATP tahap pertama berlokasi di UPTD Budi Daya Ternak pada 2022 lalu, anggaran yang digelontorkan Rp 5,5 miliar berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU). Dana itu digunakan untuk pembangunan sejumlah sarana dan prasarana (sarpras) seperti masjid, dormitory atau penginapan, pendopo dormitory, gazebo. Juga ruang display peternakan, pertanian, dan perikanan.

Tahap pertama ini leading sector-nya ada di Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya, dan Tata Ruang Kabupaten Pasuruan.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo beberapa waktu lalu di tahun ini, saat datang ke lokasi tersebut, sejumlah sarpras yang sudah dibangun tersebut, ada yang mengalami kerusakan. Salah satunya plafon asbes pendopo dormitory jebol.

“Sarpras sudah dibangun di lokasi UPTD Budi Daya Peternakan, sebagai pendukung dari AATP. Nantinya untuk diklat, pusat penelitian, serta budi daya ternak,” imbuhnya.

Begitupun di tahap kedua, pembangunan sejumlah sarpras fisik yang dibangun pada tahun 2023.

Di tahap kedua tersebut, sarpras yang sudah dibangun berupa gerbang, lahan parkir, gedung TIC, masjid, pusat kuliner, toilet, jalur pedestrian, plaza pengunjung.

DILANJUT: Pembangunan sarana prasarana di AATP yang menjadi tahap ketiga di tahun ini.
DILANJUT: Pembangunan sarana prasarana di AATP yang menjadi tahap ketiga di tahun ini.
LUAS: Pekerja menyelesaikan pembangunan sarana dan parasarana di AATP di tahun ini. Pelaksanaannya harus tuntas Desember ini.
LUAS: Pekerja menyelesaikan pembangunan sarana dan parasarana di AATP di tahun ini. Pelaksanaannya harus tuntas Desember ini.

Namun, belum saja operasional, ada kendala yang ditemui. Pantauan Jawa Pos Radar Bromo beberapa waktu lalu datang langsung ke lokasi, sejumlah sarpras didapati hilang. Kabarnya dicuri. Kemudian, di beberapa titik sarprasnya juga didapati mengalami kerusakan ringan. Nantinya, akan diperbaiki oleh pelaksana yang menggarapnya.

“Pembangunan fisik tahun 2023, sudah tuntas 100 persen. Ada beberapa item yang hilang, sudah kami laporkan ke polsek setempat. Juga ada kerusakan ringan, faktor cuaca dan kondisi tanah. Tapi, masih menjadi tanggung jawab pelaksana untuk perbaikannya, karena masuk masa pemeliharaan,” tutur Santo, sapaan akrabnya.

Di tahun ini, lanjutan pembangunan AATP tahap ketiga menjadi tanggung jawab Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan. Sebagai leading sector, Dinas Pariwisata menggerojok anggaran sekitar Rp 5,5 miliar berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

Dana itu untuk pembangunan sejumlah sarpras, antara lain menara pandang, amfiteater dan panggung kesenian, lanskap, TPS, gazebo.

“Untuk yang tahun ini, pembangunan sejumlah sarpras fisiknya masih mengawali. Targetnya akhir Desember nanti harus tuntas 100 persen. Saat ini sedang dikerjakan,” tegasnya.

Tak ayal, pelaksana proyek ini mempercepat pengerjaan. “Mulai digarap pekerjaan fisiknya akhir Juli lalu, sekarang masih berlangsung dan jalan terus. Untuk progres total masih dapat 20 persen,” terang Aksan, pengawas lapangan atau mandor dari CV Multi Anugrah Utama.

Jenis fisik bangunan dibangun tahun ini di lokasi AATP, dengan anggaran sebesar itu. Ia katakan itemnya ada cukup banyak.

“Masing-masing itemnya dikerjakan atau digarap secara pararel. Dikerjakan setiap hari dari pagi sampai sore. Juga sesekali dilembur hingga petang. Karena Desember mendatang harus tuntas,” bebernya.

 

Siap Di-Launching 2025, Dinas Pariwisata Tak Bisa Bergerak Sendiri untuk Majukan AATP

Proyek ambisius Arjuno Agro Techno Park (AATP) di Kabupaten Pasuruan terus bergulir. Namun, sejumlah tantangan masih harus dihadapi sebelum kawasan wisata seluas 20 hektare ini resmi dibuka untuk umum.

Kerusakan ringan dan pencurian yang pernah terjadi di lokasi AATP menjadi batu ganjalan sebelum tempat ini dioperasikan.

Selain itu, masih banyak perbaikan-perbaikan minor yang harus dilakukan agar tempat ini laku dan bisa menjadi pemasukan daerah.

”Kami menyadari bahwa perlu adanya perbaikan sebelum AATP benar-benar beroperasi,” ujar Kepala Bidang Destinasi dan Industri Wisata Nurusanto.

Dinas Pariwisata menargetkan, bisa melakukan soft launching pada tahun 2025 untuk menguji respons pasar dan melakukan penyesuaian. Melihat waktu yang terus berjalan, Dinas Pariwisata yakin AATP bisa sesuai rencana.

Memang, untuk mengembangkan destinasi wisata membutuhkan investasi yang besar dan pengelolaan yang cermat. Pemkab Pasuruan berharap tidak hanya Dinas Pariwisata yang terlibat dalam pengelolaan AATP, tetapi juga OPD lainnya.

”Kami mendorong OPD terkait untuk memanfaatkan fasilitas yang ada di AATP, seperti amfiteater untuk mengadakan berbagai kegiatan budaya,” tambah Nurusanto.

Santo–panggilan akrabnya–berharap, bukan hanya Dinas Pariwisata saja yang aktif mengembangkan AATP. OPD yang lain juga didorong untuk memanfaatkan kawasan itu sebagai salah satu lokasi kegiatan yang berkaitan dengan hiburan masyarakat.

”Dengan demikian, AATP dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat dan semakin dikenal oleh publik,” imbuhnya.

Untuk memastikan kelangsungan operasional AATP, pemerintah daerah juga telah mengusulkan anggaran pemeliharaan pada tahun 2025.

Anggaran ini akan digunakan untuk memperbaiki kerusakan yang ada, menambah tenaga kebersihan dan keamanan, serta memenuhi kebutuhan operasional lainnya.

”Kami juga usulkan tambahan tenaga kebersihan dan keamanan karena empat orang yang ada saat ini kurang ideal,” imbuhnya.

Dinasnya juga sedang mempertimbangkan untuk melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam pengelolaan sebagian fasilitas di AATP, misalnya pada kluster kuliner. ”Kerja sama dengan pihak ketiga juga menjadi opsi yang sedang kami kaji,” tutur Santo.

Sementara itu, Ketua Himpunan Pariwisata Indonesia (HPI) Pasuruan Indra Permadi mengingatkan pentingnya pengelolaan yang baik setelah pembangunan destinasi wisata selesai. Ia berharap besarnya investasi pemerintah untuk membangun kawasan AATP tak sia-sia.

Menurutnya, pembangunan fisik sangat mudah. Namun tidak dengan pengelolaannya.

”Jadi, harus jelas konsepnya, jangan sampai jadi produk gagal. Misalnya, wisatawan mau ke sana, harus tahu mereka mau ngapain. Artinya, harus ada nilai jualnya,” katanya.

Kalau sekadar rest area, lelaki yang akrab disapa Win Broto itu pesimistis AATP bakal dilirik wisatawan. Apalagi, sudah banyak rest area di Kabupaten Pasuruan. Dan faktanya, tidak berkembang dari tahun ke tahun.

”Karena ketika bicara destinasi wisata, cukup kompleks. Konsepnya bagaimana, pengelolaan dan pemasarannya. Juga keterlibatan stakeholder,” bebernya.

Di samping itu, pemerintah juga mesti mengukur persaingan yang ketat di sektor pariwisata.

Banyak destinasi wisata swasta yang sudah mapan dan memiliki daya tarik tersendiri. Oleh karena itu, AATP harus memiliki keunggulan yang mampu membedakannya dengan kompetitor.

”Misalnya kalau AATP itu dulunya bekas budi daya ternak sapi, mungkin bisa digarap lebih fokus soal eduwisata. Yang ditawarkan ya edukasi wisata pemerahan susu sapi, pengolahan, hingga menjadi oleh-oleh,” kata Win Broto.

Di sisi lain, salah seorang pelaku wisata, Rusti Widayati mengatakan, AATP menjadi salah satu pilihan destinasi wisata baru di Kabupaten Pasuruan nantinya.

“Meskipun lokasinya agak jauh dan berada di pedesaan dan terletak di dataran tinggi, tidak menjadi soal. Kan akses jalannya sudah bagus. Penting pengelolaannya harus maksimal,” tutur owner Saygon Park dan Kurma Park.

Selain itu, agar AATP saat bisa maksimal, promosi harus digencarkan. Misalnya melibatkan anak–anak muda kreatif serta UMKM di desa setempat. Kalau ini dilakukan, dampaknya bagus dan hasilnya pun dapat maksimal.

Rusti yang juga pengusaha ini mengaku, dia sudah tahu lokasi AATP yang kini sedang dibangun. Dia juga pernah ke sana beberapa kali.

“Spot view-nya bagus, berlatar gunung Arjuno dan Ringgit. Hawanya sejuk dan udaranya segar. Ini menjadi modal penting AATP selain sarpras yang dimiliki,” jelasnya.

Segala potensi dan hambatan yang akan menghadang, tentu sudah dikaji Dinas Pariwisata. AATP dengan konsep awal bisa mengerek perekonomian, harus mendapat hati di masyarakat.

”Karena ini adalah kawasan baru, maka harus benar-benar ada trigger untuk menarik wisatawan untuk datang,” kata Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Nurusanto.

Dia berharap panggung kesenian itu nantinya dimanfaatkan untuk kegiatan rutin. Seperti festival ataupun pertunjukan seni lainnya. Misalnya dalam sebulan sekali. Sehingga menjadi penanda waktu bagi wisatawan untuk datang. (zal/tom/fun)

Editor : Jawanto Arifin
#Arjuno Agro Techno Park #pemkab pasuruan #destinasi wisata