PASURUAN, Radar Bromo – Cuaca ekstrem rupanya juga berpengaruh pada kondisi payung Madinah Kota Pasuruan.
Beberapa hari ini, Payung Madinah lebih sering tutup. Alasannya, karena cuaca sedang tidak bersahabat.
Sekretaris Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kota Pasuruan Budi Santoso mengatakan, Payung Madinah sebenarnya buka tiap hari.
Yaitu mulai pukul 08.00 hingga 15.00. Namun dengan catatan, cuaca sedang bersahabat.
Saat cuaca mendung dan angin kencang, Payung Madinah harus ditutup. Tujuannya, untuk menjaga kondisi Payung Madinah tidak rusak.
Diakuinya, beberapa hari terakhir cuaca di Pasuruan sedang tidak baik. Seringkali, terjadi angin kencang dan hujan deras.
Di sisi lain, tekanan angin yang diperbolehkan untuk Payung Madinah maksimal 0,6 knot per jam.
“Itu standar ideal kecepatan angin yang diperbolehkan. Kalau di atas itu, seperti 0,7 knot ya harus ditutup. Sebab, sudah membahayakan,” jelasnya.
Budi berharap masyarakat yang ingin melihat payung Madinah lebih bersabar. Pihaknya tidak ingin peristiwa rusaknya Payung Madinah pada Februari lalu terulang.
Saat itu, payung meleyot usai diterjang angin kencang. Sehingga membuat pihaknya mendapat protes.
Di lokasi Payung Madinah saat ini, ada 20 penjaga dan empat operator. Mereka bertugas memastikan Payung Madinah dapat beroperasi dengan baik.
Saat cuaca tidak baik, mereka langsung bekerja. Yaitu menutup payung Madinah agar tidak rusak.
“Ada petugas yang mengoperasikan Payung Madinah. Kami tidak mau kejadian payung meleyot terulang,” terang Budi.
Adip, warga Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan menyebut, Payung Madinah sudah menjadi daya tarik Kota Pasuruan. Bahkan, jadi tempat wisata yang ikonik.
Banyak masyarakat yang sengaja datang ke Alun-Alun Kota Pasuruan untuk melihatnya, juga berswafoto. Tidak hanya warga dalam kota, namun juga luar kota.
“Jadi keberadaannya memang penting. Sering kali orang datang ke alun-alun cuma untuk lihat Payung Madinah,” sebutnya. (riz/hn)
Editor : Achmad Syaifudin