WINONGAN, Radar Bromo - Banjir bandang yang membawa material lumpur di Desa Prodo, Kecamatan Winongan membuat aktivitas warga lumpuh. Minggu (28/1), warga hanya bisa membersihkan rumah masing-masing dari tumpukan lumpur.
Ratusan jiwa warga pun terdampak banjir bandang ini. Yang terparang di Di Dusun Jetis RT 3/RW 3. Di sini, lumpur mencapai 50 centimeter sampai satu meter. Ada ada 132 KK dan 397 jiwa terdampak.
Sedangkan di Dusun Margo Utomo RT 4/RW 3 yang terdampak ada 50 KK dan 173 jiwa. Lalu di Dusun Gendol ada 85 KK. Di dua dusun ini, ada 250 jiwa yang terdampak.
Camat Winongan Abdurrachim Effendhy mengatakan, hujan deras dan longsor yang terjadi di Kecamatan Lumbang, menyebabkan banjir bandang di Desa Prodo.
Sekitar jam 17.00, banjir dari Lumbang sampai di sungai Winongan. Lalu masuk dan menerjang ke pemukiman warga sekitar.
“Ini tidak hanya banjir air. Namun, juga membawa material lumpur. Ketinggian lumpur kurang lebih satu meter,” katanya.
Camat Winongan mengatakan, Pj Bupati Andriyanto pun sudah turun ke Desa Prodo. Menurutnya, Dusun Jetis yang paling parah terdampak dengan ketinggian lumpur antara 50 sentimeter – satu meter.
Penanganan pun dilakukan menyeluruh setelah berkoordinasi dengan dinas terkait. DLH menyiapkan truk untuk mengangkut lumpur dan tangki menyiram lumpur.
Lalu Dinsos mendirikan dapur umum di Kecamatan Winongan. Dinkes menyediakan posko kesehatan dan standby selama 3 hari ke depan.
Sejumlah bantuan juga sudah diberikan ke warga. Mulai makanan siap saji, selimut, air mineral kemasan, pakaian anak kecil dan obat-obatan.
“Jadi semua tertangani. Hanya tinggal membersihkan lumpur yang tersisa sedikit. Dan jembatan agak bergeser. Mungkin jembatan jetis yang bergeser itu didorong dengan eskavator," katanya.
Warga pun kemarin fokus membersikan rumah masing-masing dari lumpur yang menumpuk. Termasuk sekolah-sekolah. Praktis, semua aktivitas belajar mengajar diliburkan.
Kepala SDN Prodo Nurul Hidayati misalnya mengatakan, aktivitas belajar mengajar dilakukan secara daring. Sebab jalan menuju ke sekolah tidak bisa dilalui.
Berapa lama daring dilakukan, dia belum bisa menentukan. Kemungkinan menurutnya dua minggu, sampai lumpur benar-benar kering.
“Saat ini belum bisa melakukan aktivitas apapun, karena akses jalan tidak bisa dilewati. Sementara jalan posisinya lebih tinggi dari sekolah ini. Air sangat mudah turun ke halaman sekolah,” katanya.
Harapannya ada bantuan untuk membersihkan lumpur di sekolah. Supaya aktivitas belajar mengajar bisa kembali dilakukan. (zen/hn)
Editor : Achmad Syaifudin