Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Diuji Coba, Kerangka Payung Madinah Kota Pasuruan Rusak Lagi

Ronald Fernando • Selasa, 20 Desember 2022 | 22:05 WIB
RUSAK LAGI: Kondisi payung madinah yang kembali rusak saat pekerja melakukan uji coba, Senin sore (19/12). (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)
RUSAK LAGI: Kondisi payung madinah yang kembali rusak saat pekerja melakukan uji coba, Senin sore (19/12). (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)
PASURUAN, Radar Bromo - Proyek pembangunan Payung Madinah kembali menemukan kendala. Insiden hampir serupa terulang lagi. Kemarin (19/12) sore, kerangka salah satu payung yang baru terpasang membran bengkok.

Pemicunya karena membran yang tengah dibentangkan saat itu digenangi air hingga ngendon. Air tidak bisa mengalir dari membran.

Kebetulan beberapa saat sebelum insiden, kawasan Kota Pasuruan memang diguyur hujan. Di saat hampir bersamaan, pekerja tengah melakukan uji coba terhadap membran payung yang berada paling selatan.

Posisinya persis di sebelah timur payung yang kerangkanya juga bengkok pekan lalu. saat itu, para pekerja mencoba mengembangkan membran payung secara manual.

”Iya, ada trouble lagi setelah pemasangan membran, pekerja mencoba trial buka tutup manual,” kata Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Pasuruan Basuki.

Dia mengatakan, kerangka laba-laba yang berfungsi mengembang dan menutup membran payung itu rencananya akan digerakkan dengan mesin hidrolis. Bahkan, mesin hidrolis setiap payung sudah terpasang dalam boks masing-masing tiang. Namun, karena masih dalam tahap uji coba, buka tutup pun dilakukan secara manual.

”Dan memang belum tersambung dengan listrik, makanya pengencangan dilakukan secara manual lebih dulu untuk trial,” kata Basuki.

Dijelaskan Basuki, setiap membran yang baru terpasang memang mesti dikembangkan secara manual. Tujuannya, untuk memastikan saluran air pada tiang berfungsi.

Sayangnya, insiden di luar dugaan lantas terjadi. Hujan deras mengguyur. Posisi membran yang mulai sedikit mengembang, kemudian menjadi tampungan air hujan.

Hingga air hujan pun ngendon. Kerangka laba-laba itu rupanya tak mampu menahan beban air. Dan akhirnya hingga ambrol. Kerangka pun bengkok

”Memang harus dikencangkan dulu setelah terpasang supaya air masuk ke dalam lubang di tiang. Tetapi yang tadi terjadi air masih ngendon. Saat ditarik nggak nututi sudah, keburu trouble,” bebernya.

Menurut Basuki, timnya saat ini masih menginventarisasi kerusakan material akibat insiden tersebut. Tetapi, melihat kondisi di lapangan, kerusakan diperkirakan tidak jauh berbeda dengan insiden sebelumnya. Yaitu, pada bagian kerangka laba-laba. Sedangkan membrannya masih tampak utuh. Basuki juga memastikan setiap material yang rusak akan diganti baru.

”Dan itu juga yang dilakukan pada saat kejadian sebelumnya. Dua hari sudah didatangkan material penggantinya,” ujarnya.

Memang tak dipungkiri bahwa penggantian material akan memakan waktu lebih lama. Sebab, material harus didatangkan dari luar kota.

Namun, diperkirakan material yang diperlukan untuk mengganti kerusakan tersedia. Seperti halnya saat pengganti kerangka laba-laba yang memang sudah disiapkan material cadangan oleh pihak penyedia.

”Yang jelas, ini akan jadi tanggungan kontraktor. Jangankan saat masih proses pelaksanaan seperti sekarang, ketika sudah selesai saja nanti ada garansi. Kalau mesin hidrolis dua tahun garansinya. Sedangkan membran payung garansinya 10 tahun,” terangnya.

Di sisi lain, insiden dalam pemasangan membran itu juga akan berimbas pada keterlambatan proyek. Mengingat pekerjaan itu di-deadline selesai hari ini.

Basuki sendiri sebenarnya sudah mengestimasi bahwa pembangunan payung bisa selesai tepat waktu. Kecuali, pengerjaan ornamen yang dinilainya cenderung lebih cepat dikerjakan.

”Perhitungan kami jauh-jauh hari sebenarnya kalau untuk payung saja bisa selesai 20 Desember. Karena ini pekerjaan mayor ya. Jadi target kami sebenarnya sampai batas akhir pekerjaan tinggal menyisakan ornamen-ornamen saja. Tetapi, karena cuaca dan kendala ini akhirnya juga terhambat,” pungkasnya.

Terpisah, anggota DPRD Kota Pasuruan, Helmi mengatakan, dirinya sejak awal sangsi dengan pengerjaan proyek Payung Madinah. Apalagi, setelah dua kali insiden yang terjadi ketika membran payung hidrolis itu baru dipasang. Hal itu menunjukkan bahwa konstruksi payung hidrolis cukup riskan. Tak ada jaminan keamanan bagi masyarakat yang mengunjungi kawasan alun-alun nantinya.

”Karena belum apa-apa saja sudah dua kali kejadian seperti ini. Maka dari sisi keamanan konstruksinya patut dipertanyakan. Yang perlu dicatat itu juga nggak murah. Satu payung Rp 3 miliar,” kata Helmi.

Selain itu, pengerjaan proyek senilai Rp 17 miliar tersebut juga lambat. Seharusnya proyek sudah rampung 20 Desember ini.

Alih-alih meneruskan rencana penambahan enam unit payung tahun depan, legislator yang juga Ketua Fraksi Amanat Pembangunan itu meminta agar pemerintah mengambil langkah taktis. Ia menyarankan agar pemerintah menghentikan pengerjaan proyek tersebut.

”Ini sudah nggak bener. Jangan lagi dipaksakan. Pemkot harus berani memutus kontrak dengan pelaksana lalu mengaudit hasil pekerjaan yang sudah dilakukan,” ungkap Helmi. (tom/hn) Editor : Ronald Fernando
#payung madinah kota pasuruan #pemkot pasuruan