Muhammad Zainul Arifin, warga setempat mengatakan, sudah berkali-kali menghadap dinas terkait untuk mencari solusi. Namun, hingga tiba lagi musim hujan tahun ini, belum ada tindakan yang jelas. Padahal, pada 2021, sungai meluap dan memicu banjir di permukiman sekitarnya.
”Rumah saya juga banjir. Sekarang kondisi sungai semakin dangkal,” ungkap lelaki 47 tahun warga Desa Rejoso Lor tersebut.
Zainul menambahkan, karena Kali Rejoso mengalami pendangkalan, air dari sungai-sungai kecil di sekitarnya tidak bisa mengalir lancar ke sungai tersebut. Air justru menggenang ke permukiman.
Kepala UPT PSDA Wilayah Sungai Welang Pekalen-Pasuruan Anton Dharma menjelaskan, pada 2022, ada pekerjaan konsultan penanganan banjir untuk Sungai Rejoso. Dari sana bisa didapatkan solusi permasalahan banjir secara teknis.
”Iya bulan ini (Desember). Kami juga sudah duduk bersama membicarakan DAS Rejoso. Baik pemerintah swasta maupun lembaga nonpemerintah,” ungkapnya.
Menurut Anton, penanganan DAS (Daerah Aliran Sungai) Rejoso tidak mungkin dilakukan sendiri oleh pemerintah. Penanganannya harus menyeluruh dari hulu hingga hilir. Jadi, sebelumnya, harus melibatkan pihak-pihak terkait.
Baru penanganan teknisnya berdasar pada konsep penanganan banjir. Yaitu, menahan debit di hulu, mempercepat debit ke hilir, serta memperbesar kapasitas debit sungai.
”Untuk konsultannya saya belum tahu menunjuk solusi yang mana,” terangnya. (mg/far) Editor : Jawanto Arifin