Bekas rel itu ditemukan tepat di depan Masjid Jamik Al Anwar. Rel kereta itu terlihat setelah lapisan aspal jalan dikeruk menggunakan alat berat. Bentuknya tidak utuh dan berkarat.
Pengerukan dilakukan untuk menyiapkan fondasi payung yang akan dipasang. Rencananya, ada enam payung yang akan dipasang di kawasan itu.
”Hanya ditemukan satu sisi saja. Artinya sudah nggak utuh,” kata Imam, staf Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Pasuruan.
Tak berlebihan bila kemudian besi berkarat itu ditengarai bekas perlintasan kereta api di tengah kota. Apalagi berdasarkan dokumen yang diperoleh Jawa Pos Radar Bormo, kawasan tersebut dulunya memang jadi perlintasan kereta.
Hal itu terlihat pada peta Pasuruan tahun 1904. Di peta itu terlihat, sepanjang jalan depan masjid terdapat simbol lintasan kereta yang terhubung dari Stasiun Kereta Api Kota Pasuruan.
Konon, jalur tersebut digunakan untuk sarana transportasi kereta pengangkut tebu. Sebab, sejumlah wilayah di Pasuruan dulu memiliki pabrik gula. Sehingga diperlukan mobilitas angkutan tebu. Seperti Pabrik Gula Pleret, Pengkol, Winongan, Ngempit, dan Wonorejo.
Kasi Sejarah dan Cagar Budaya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan Kurniawan mengaku akan menelusuri lebih lanjut penemuan bekas rel tersebut. Terlebih untuk memastikan apakah benda itu memang benar sisa rel kereta pada zaman kolonial. Ia juga akan mencari berbagai sumber untuk meyakinkan kajiannya.
”Nanti kami gali referensinya. Kami kumpulkan dan segera dipelajari. Termasuk kami konsultasikan dengan tim dari provinsi,” pungkasnya. (tom/hn) Editor : Ronald Fernando