MUKHAMAD ROSYIDI, Gadingrejo, Radar Bromo
KERAJINAN seni ukir kaligrafi Arab banyak beredar di pasaran di Indonesia. Tak terkecuali di Kota Pasuruan. Banyak hasil kerajinan ukir kaligrafi Arab yang bernilai jual tinggi.
Salah satu perajinnya yaitu Arif, warga Kelurahan Randusari, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Lelaki 25 tahun tersebut menekuni seni ukir kaligrafi Arab dengan media kayu jati sejak 2017. Awalnya, dia melihat temannya yang sedang mengukir. Dari situ, kemudian ia mempraktikannya dan berhasil.
"Awalnya melihat teman mengukir. Kemudian saya coba dan berhasil," katanya sembari mengerjakan pesanan seni ukir kaligrafi Arab di rumahnya.
Tangannya sangat terampil mengukir huruf-huruf Arab di atas kayu jati. Sedikit demi sedikit, kayu diukir hingga menyerupai sebuah huruf Arab. Kemudian, menjadi tulisan arab yang memiliki arti.
Keringat menetes dari kulitnya yang kuning langsat. Tapi, demi sebuah karya seni bernilai jual tinggi, peluh itu tak dihiraukannya. Ia terus melanjutkan pekerjaannya.
Satu buah kaligrafi bisa diselesaikannya dalam waktu lumayan lama. Bahkan hingga berminggu-minggu.
"Ya tergantung ukuran pesanan. Tergantung besar dan kecilnya. Ada yang seminggu jadi, ada yang dua minggu baru jadi," tuturnya.
Proses mengukir kayu jati menjadi kaligrafi ini dimulai dari kayu glondongan. Kayu dipotongnya dan disambung sesuai dengan permintaan pembeli.
Setelah itu, baru ia menggambar sesuai dengan tulisan yang dipesan. Dilanjutkan dengan mengukir kayu jati itu.
Mengukir juga bukan hal baru baginya. Sebab, ia senang mengukir sejak SMP. Tetapi, baru ia mulai bisnis ukiran itu sejak enam tahun lalu.
"Sebelum mengukir saya membuat kerajinan dari limbah kayu. Tapi, karena tidak begitu banyak permintaan, akhirnya fokus pada seni ukir kaligrafi. Tapi, kerajinan dari bahan limbah tetap jalan," jelasnya.
Satu karya seni ukir kaligrafi dihargainya ratusan bahkan jutaan rupiah. Harga itu lagi-lagi tergantung ukuran kaligrafi. Selain kayunya yang bernilai, pembuatan ukirannya pun cukup rumit. Tak heran jika harga jualnya cukup tinggi.
Dalam sebulan sebelum Covid-19 tejadi, ia berhasil meraup keuntungan hingga puluhan juta. "Sekitar puluhan juta sebulan. Tapi karena Covid, kemudian berkurang. Maklum waktu itu kirim barang kan dibatasi," kata pria berkaus biru dan bersarung hitam itu.
Setelah kasus Covid melandai, usahanya merangkak naik. Banyak pesanan kembali datang. Penghasilannya pun kembali seperti semula. Ia berharap, Covid hilang dan semuanya kembali normal.
Untuk memasarkan seni ukir kaligrafi itu, ia dibantu istrinya. Pemasaran dilakukan dengan media sosial. Tak heran penjualannya hingga keluar Jawa. Seperti Sumatera, Kalimantan, bahkan Nusa Tenggara Barat (NTB). Untuk di regional sudah mencakup Jember, Malang, Kediri, Gresik, hingga Surabaya.
"Alhamdulillah. Ada juga yang sampai Korea. Jadi ada TKI yang juragannya itu membeli produk saya. Tulisannya Arab. Tapi, lupa bacaannya waktu itu," kenangnya.
Menurutnya, memang bukan hanya orang muslim yang menyukai dan membeli seni ukir kaligrafi Arab buatannya. Warga nonmuslim pun banyak yang membeli. Walaupun memang mayoritas pembelinya warga muslim.
“Yang nonmuslim yang banyak yang membeli seni ukir kaligrafi ini. Katanya sih hendak digunakan sebagai pajangan di rumahnya,” tuturnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin