Sepekan jelang hari raya, kios mereka dibanjiri pengunjung. Bahkan bisa sampai lipat tiga. Para tukang potong panen pundi rupiah. Kondisi seperti ini diprediksi bahkan bisa sampai lebaran usai nanti.
Seperti yang terpantau Jawa Pos Radar Bromo, Jumat (29/4) pagi. Dari puluhan kios yang berjejer, hampir rata-rata penuh. Pengunjung harus rela antre hingga dapat giliran. Wajah para tukang potong pun semringah.
“Kalau pagi ya seperti ini. Tapi kalau malam hari, pengunjungnya bisa sampai menunggu berjam-jam,” beber Fauzi, salah satu penyewa kios.
Jika dibandingkan hari normal, kata Fauzi, sangat jauh. Di hari biasa, dia bisa maksimal memotong 10 orang. Tapi kalau jelang Lebaran seperti sekarang, dia bisa dapat 30-40 kepala.
“Kalau tangan kuat, Mas. Yang gak kuat itu kaki. Kalau berdiri lama, agak kemeng. Tapi kalau lihat uangnya, ya senang. Gawe riyoyoan,” katanya sembari tersenyum.
Tukang potong rambut seperti Fauzi mengatakan, sejatinya bukan hanya rasa pegal di kaki yang membuatnya tak nyaman. Saat di penghujung Ramadan, dia juga takut kalau hujan sewaktu-waktu turun. “Kalau sudah hujan, pengunjung pasti sepi. Tetapi rezeki kan dikembalikan lagi sama sang pencipta,” selorohnya.
Di sisi lain, bagi masyarakat Pasuruan, barbershop di Pasar Kebonagung tak hanya menjadi pemanis tampilan. Bagi sebagian besar, potong rambut di kios ini, adalah bagian dari hari raya.
“Sekarang barbershop sih banyak bermunculan. Tapi kalau pulang ke Pasuruan saat mudik, rasa-rasanya gak lengkap kalau tak potong rambut di sini,” beber Anang Zikrula, warga Bugul Kidul.
Hal serupa juga diungkapkan Anis, warga Gadingrejo yang sudah lima tahun ini merantau ke Surabaya. Setiap kali hendak lebaran, dia selalu mendatangi kios potong langganannya. “Saya ini konsumen lawas. Yang motong juga mesti tahu, apa model yang saya inginkan,” beber Anis.
Di sisi lain, para tukang potong rambut penyewa kios, biasanya menyiasati jika kios penuh. “Kalau saya dan teman membagi dengan sif. Pagi sampai sore kawan saya. Malamnya saya yang bertugas. Kalau akhir Ramadan, saya bisa menutup kios jelang sahur,” beber Doni, salah satu tukang potong rambut. (fun) Editor : Jawanto Arifin