Setelah menstarter motornya, dia lalu berteriak,”Ayo Le, wes jam papat. Selak buko (Sudah pukul 16.00. Hampir waktunya berbuka puasa, Red),” kata Mustajab memanggil Agung, anaknya. Dengan tergesa-gesa, keduanya lalu berangkat menuju Karangwingko, ke tempat pemakaman umum Purutrejo I.
Begitu tiba di TPU, dia sudah disambut sejumlah bocah yang menawarkan jasa untuk merapikan kuburan. Dia pun langsung setuju dan menyuruh bocah-bocah itu untuk membersihkan rumput yang ada di makam mendiang ayahnya.
Di TPU Purutrejo I, sejatinya bukan hanya Mustajab saja yang datang. Ada banyak orang yang serupa. Mereka membersihkan makam sanak saudara. “Ini (bersihkan makam, Red) sudah tradisi. Malu kalau nanti hari raya tiba, makam kotor. Bisa-bisa dibilang, anak tak berbakti,” kata Mustajab sembari tersenyum.
Bukan hanya di TPU Purutrejo I. Di pemakaman umum lainnya, kini mendadak ramai dikunjungi. Mereka sama, ingin membersihkan kuburan. Tradisi yang bagi mereka tak boleh dilewatkan.
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, di TPU Bugul Kidul yang terletak di jalan Pattimura, juga banyak didatangi peziarah. Sejumlah peziarah baik laki laki maupun perempuan tampak membersihkan makam keluarga mereka. Ada yang membersihkan, ada pula yang mempercantik makam dengan mengecatnya.
Salah seorang peziarah asal Bugul Lor, Rohman mengungkapkan, bersih-bersih makam sudah menjadi agenda tahunan baginya. Setiap kali menjelang hari raya Idul Fitri, ia selalu datang ke makam untuk membersihkan makam kerabat dan keluarganya.
"Mumpung mau Lebaran. Bair makam jadi terawat. Air ini saya siramkan ke gundukan tanah makam. Lalu saya gemburkan tanahnya dengan sekop agar makam bisa ditumbuhi rumput jadi lebih bagus dipandang," sebutnya.
Peziarah lainnya, Arif mengaku, pihaknya datang membawa kaleng berisi cat. Tujuannya untuk mengecat nisan dan mempertebal tulisan nama di nisan. Kegiatan ini sudah menjadi rutinitas nya setiap kali mendekati Lebaran. "Tidak setiap saat. Cuma saat momen mau Lebaran saja. Ini sudah agenda tahunan kami. Jadi kalau sewaktu waktu dikunjungi, lebih enak dikenali," bebernya.
Tentu saja tradisi warga ini, menguntungkan bagi mereka yang menawarkan jasa membersihkan makam. Terutama para bocah. Tilik saja di TPU Purutrejo II. Menjelang Lebaran, mereka bisa panen rupiah.
Rangga misalnya, bocah asal Petamanan yang kerap terlihat di TPU Purutrejo II, tiap sore. Dengan bermodal sapu lidi, sore kemarin (10/5) dia sudah mengantongi lima lembar duit Rp 10 ribuan. “Alhamdulillah. Damel sangu riyoyo,” katanya polos. (riz/fun) Editor : Jawanto Arifin