Daerah pegunungan Kabupaten Pasuruan, banyak menyimpan destinasi wisata alam. Seperti Air Terjun Rambut Moyo. Keindahannya juga patut diperhitungkan. Juga masih alami. Konon, pada 1980-an, air terjun ini merupakan salah satu yang terindah di Jawa Timur.
Lokasinya tidak sulit. Cukup datang ke Desa Palangsari. Dari kantor Desa Palangsari, dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jaraknya hanya sekitar 2 kilometer. Dari pos masuk air terjun, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Perjalanan ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit.
Sepanjang perjalanan wisatawan akan disuguhi pemandangan indah pegunungan. Mulai pesawahan hingga perkebunan. Suara satwa juga akan bernyanyi bersahut-sahutan seakan mengiringi langkah kaki para pengunjung.
Mendekati lokasi, suara air terjun akan terdengar jelas. Apalagi ketika musim hujan. Aliran air makin deras. Di lokasi, alaminya air terjun akan semakin tampak. Hijaunya rerumputan menghiasi kanan kiri air terjun. Hingga sesekali nampak pelangi di di tengah-tengah air terjun.
Kepala Desa Palangsari Ismail mengatakan, era Orde Baru, tepatnya pada 1980-an, Air Terjun Rambut Moyo, pernah menjadi ikon Jawa Timur. Setelah reformasi, ada penggundulan hutan di daerah itu, sehingga mengurangi keindahan air terjun.
“Belum pernah dikelola. Yang pasti masyarakat bisa ke sana secara gratis. Hanya bayar parkir saja,” katanya.
Sejak 2017, pemerintah desa telah berencana mengelolanya. Termasuk menggandeng Perhutani. Namun, urung dilakukan karena debit airnya menurun. Selain adanya penggundulan hutan, berkurangnya debit air juga dikarenakan penyedotan air untuk lahan pertanian.
Makin berkurangnya debit air, terutama ketika kemarau, keindahannya berkurang. Air yang turun dari ketinggian sekitar 100 meter itu semakin tipis. “Melihat itu saya berpikir lagi untuk menjadikan destinasi wisata. Keindahannya berkurang. Khawatir ketika sudah dikelola malah tidak ada peminatnya,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, faktor lain bermunculan. Selain menurunnya dibeit air ketika kemarau, jalan kabupaten yang menjadi akses menuju lokasi wisata rusak parah. Sudah bertahun-tahun belum diperbaiki. Padahal, sudah diusulkan melalui Musrenbang.
“Kalau memang peminatnya masih banyak, nanti kami rapatkan lagi. Bagaimana sebaiknya untuk bisa dikelola lebih baik lagi. Sementara ini hanya ada bumi perkemahan dan air terjun. Di air terjunnya polosan, masih alami,” jelasnya.
Terdapat Makam Mbah Moyo
Selain menjanjikan keindahan alam, Air Terjun Rambut Moyo, juga menyimpan sebuah wisata religi. Yaitu, wisata ke makam Mbah Moyo. Salah seorang yang diduga merupakan pembabat alas Desa Palangsari.
Kepala Desa Palangsari Ismail mengatakan, warga mengenal Mbah Moyo, secara turun temurun adalah yang membangun atau pembabat desa. Namun, sejarah pastinya terputus. “Ada makam yang bisa dikunjungi. Katanya makam yang babat alas desa," katanya.
Ismail sendiri masih sedikit ragu mengenai hal itu. Menurutnya, cerita itu bisa benar, juga bisa salah. "Mungkin mitos. Tapi, kalau makamnya ada, di sektiar air terjun,” ujarnya.
Selain makam, juga ada cerita mistis seputar Air Terjun Rambut Moyo. Setiap malam Jumat, kata Ismail, sering ada bunyi gong. Tetapi, siapa yang menabuh dan di mana gongnya tidak diketahui. “Saya diceritai mbah saya. Tapi, saat ini sudah tidak ada yang dengar,” ujarnya. (sid/rud) Editor : Jawanto Arifin