---------------------------
BAGI warga Kabupaten Pasuruan, mungkin tidak asing dengan Dam Pleret. Keberadaannya banyak dikenal warga karena fungsinya sebagai pengatur air. Terutama untuk lahan pertanian. Kini, beradaannya makin dikenal setelah pintu keluar masuk air itu dikembangkan menjadi destinasi wisata.
Sejak dua tahun lalu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek, mengembangkan dam ini menjadi tempat wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Beragam fasilitas wisata bisa dinikmati. Mulai sepeda air sampai kano. Lokasinya masih asri.
Bagi para traveling yang suka berwisata alam bisa dengan mudah menemukan lokasi Dam Pleret. Lokasinya yang dekat dengan jalur ke Kota Pasuruan, dari Perempatan Warungdowo, bisa ditempuh hanya dengan waktu sekitar lima menit. Itu menggunakan kendaraan roda dua yang aksesnya bisa langsung masuk ke lokasi.
Sedangkan, untuk roda empat masih harus berjalan sejauh kurang lebih 500 meter. Kendaraannya, di parkir di tepi Jalan Raya Warungdowo, kemudian masuk ke gang dengan jalan berpaving.
Bagi wisatawan luar kota juga tidak begitu sulit. Dam Pleret 1904, juga mudah ditemukan melalui Google Maps. Keakuratannya bisa mencapai 100 persen.
Salah satu anggota Pokdarwis Desa Pleret Fatkhul Arifin mengatakan, anggarannya pembangunan destinasi wisata ini berasal dari dana swadaya. Mereka membangun wisata itu semata-mata untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dan memajukan desa.
“Idenya simple sebenarnya. Kami ingin memajukan desa. Kami ingin perekonomian masyarakat terangkat dengan adanya wisata,” ujarnya.
Namun, ada tujuan yang lebih besar yang terselip dalam pembangunan wisata ini. Yakni, pelestarian sungai tanpa adanya kotoran. Melalui pembangunan ini mereka membuat petisi untuk mengajak masyarakat menjaga sungai. Dari pembuangan sampah sembarangan ke sungai, menyetrum ikan, dan gerakan mandi di sungai seperti waktu zaman dulu.
“Ini penting dilakukan. Karena, berawal dari hal kecil ini, yaitu menjaga sungai tetap lestari, maka akan menimbulkan efek yang besar,” katanya.
Wisata sendiri dibangun pada 2018. Saat itu, warga banyak yang tidak percaya akan membuat daerahnya ramai. Ketika jadi, mereka baru percaya dan langsung menerima manfaatnya. “Tidak di karcis. Hanya parkir saja. Bagi mereja yang yang ke sini kami sediakan beberapa fasilitas yang disewakan,” katanya.
Di antaranya, ada motor roda empat ATV, perahu bebek, kano, river tubing, dan perahu karet. Harganya, tentu menyesuaikan kantong masyarakat dan terjangkau.
“Yang datang ada sekitar 5.000 orang kurang lebihnya. Kadang ada yang berkelompok. Kami biasanya menawarkan makanan, kayak nasi jagung. Dan itu nanti yang masak warga,” katanya.
Pihaknya hanya menyediakan sebuah warung yang dikelola oleh Pokdarwis. Adanya warung ini bertujuan memutar uang sebagai dana pembangunan. Jika sudah selesai semua, konsepnya akan ada penjual dari warga.
“Ini masih kami tata. Warga sudah banyak yang ingin masuk. Tapi kami tahan dulu. Karena ini menyesuaikan konsepnya. Jika sudah selesai semua, akan kami serahkan," terangnya.
Sebelumnya, ada pertanian labu madu di lokasi. Tetapi, karena hujan, pertaniannya setelah panen raya tidak dilanjutkan. Konsep ini akan dilanjutkan dengan ditanam di bantaran sungai. “Ini tanah pengairan. Kami menyewanya selama 5 tahun. Untuk tanaman labu madu akan kami tanam kembali di tepi sungai, keliling,” ujarnya. (sid/rud) Editor : Jawanto Arifin