Dan seiring berjalannya waktu, sentra klepon di Bundaran Gempol itu menjadi salah satu jujukan kuliner. Terutama bagi pengendara atau pangguna jalan yang melintas di sana.
Plt Sekretaris Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Pasuruan Bambang Adi mengakui, sentra klepon di Bundaran Gempol sudah lama ada. Bahkan, sudah menggeliat sejak akhir tahun 1999.
“Awalnya yang jualan hanya satu sampai dua pedagang saja. Karena melihat pangsa pasar yang begitu besar, tetangga sekitar mulai membuat produksi serupa,” terangnya.
Hingga kini, tercatat penjual klepon di Bundaran Gempol hingga Apollo mencapai 50-an pedagang. Ada yang warga asli Kabupaten Pasuruan, ada juga yang pendatang. Mereka berjualan di sepanjang sisi kanan dan kiri jalan di Desa Legok.
Pedagang klepon di Bundaran Gempol berjumlah 15 pedagang. Sedangkan total pedagang klepon sampai di Bundaran Apollo mencapai 40 pedagang.
Meski cukup lama ada, hingga kini belum ada paguyuban pedagang klepon yang dibentuk oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro. Yaitu paguyuban pedagang makanan dan minuman Kecamatan Gempol, termasuk pedagang klepon di dalamnya.
Bahkan, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro juga belum membuat sentra resmi untuk puluhan penjual klepon itu. Adapun sentra yang ada di Bundaran Gempol selama ini, terbentuk dengan sendirinya karena pasar klepon yang besar.
Meski demikian, menurut Bambang, dinas rutin menggelar pelatihan untuk UMKM, utamanya makanan dan minuman. Seperti pelatihan pascaproduksi, manajemen usaha, pemasaran, dan jejaring.
“Memang tidak khusus untuk pedagang klepon, tapi diikuti semua UKM mamin dan pembuat klepon ikut serta di dalamnya,” terangnya.
Saat ini yang masih menjadi tantangan bagi UKM klepon yaitu pemasarannya. Apalagi, klepon merupakan makanan basah dan mudah basi. Kreativitas termasuk kemasan produk menjadi tantangan tersendiri untuk memasarkan produk lebih luas.
“Memang sementara ini klepon masih mengandalkan penjualan offline atau di toko. Tantangannya yaitu, bagaimana memasarkan klepon lebih luas lagi. Baik dengan varian produk atau kemasan lain,” terangnya.
Dengan pemasaran dan varian yang lebih luas, menurutnya, tak menutup kemungkinan klepon Gempol mempunyai potensi menjadi makanan unggulan Kabupaten Pasuruan. Seperti halnya Apel Pasuruan, Kopi Kapiten, dan Pia Gempol yang saat ini sedang di-branding oleh Pemkab Pasuruan.
Camat Gempol M. Nur Kholis menambahkan, Gempol mempunyai beberapa produk mamin yang sedang naik daun. Mulai pia, klepon, mente, sampai aneka keripik.
“Di Gempol ada sudah kampung pia. Dan karena warga Japanan juga buat klepon, sehingga di kampung pia ini klepon juga masuk dalam produk yang dipasarkan,” terangnya.
Untuk memperluas pemasaran klepon, pihaknya juga sudah melakukan beberapa usaha. Apalagi setelah ada jalan tol dan pademi Covid-19, penjualan klepon sempat turun.
Saat ini menurutnya, klepon sudah masuk dalam warung PKK. Diharapkan bisa menjadi daya tarik agar produk asli Gempol ini juga diminati.
“Minggu kemarin, kami sudah buat Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (Gempol), isinya anak muda. Ke depan tidak hanya terkait lingkungan, tapi menjadi penyambung lidah ke perajin dan UKM. Termasuk masyarakat yang membutuhkan produk kami,” terangnya.
Selain itu, di Gempol ada banyak perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini bisa dirangkul agar saat ada kegiatan menggunakan produk mamin dari Gempol untuk suguhan. Termasuk klepon.
Sementara itu, Ketua UKM Gempol Makmur Siti Maulidiyah berharap klepon Gempol bisa dipasarkan melalui rest area di Tol Gempas. “Dan kami berharap ada papan atau baliho besar yang menginformasi lokasi sentra klepon Gempol. Kami juga berharap ada baliho besar yang menginformasikan tentang sentra klepon di pintu masuk Kabupaten Pasuruan di Bundaran Gempol,” ujarnya. (eka/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin