Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan kupatan ini dilaksanakan di 11 desa di Kecamatan Lekok. Beragam kegiatan dalam kupatan ini diantaranya, mulai lomba perahu hias di Desa Jatirejo, lomba balap perahu di Desa Wates hingga lomba ski lot di Desa Tambaklekok. Tradisi di Lebaran ketupat ini masih sangat antusias diikuti masyarakat.
Salah seorang nelayan asal Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok, Husein, 45 mengungkapkan dirinya kerap menjuarai lomba perahu hias. Karena itu, dirinya kembali mengikuti lomba serupa tahun ini. Untuk itu, dirinya menghabiskan anggaran hingga Rp 5 juta.
“Tahun lalu, saya menjadi juara dua dalam lomba perahu hias. Mudahan tahun ini kembali juara. Yang dinilai itu mulai kecantikan, kelengkapan melaut dan keselamatan penumpang,”sebutnya.
Kades Tambaklekok, Muhammad Ali menjelaskan ski lot berawal dari kebiasaan para pencari kerang dan rajungan. Mereka biasanya menghilangkan penat dengan berlomba menggunakan papan seluncur. Tradisi ini lantas diteruskan hingga kini.
“Peserta yang ikut ski lot ini berjumlah 25 orang. Seluruhnya adalah nelayan. Rute yang ditempuh sejauh 750 meter,”jelasnya.
Camat Lekok, Nurkholis menerangkan kupatan ini sebagai rasa syukur atas limpahan hasil laut yang diperoleh oleh masyarakat selama setahun. Utamanya, bagi empat desa di kawasan pesisir yaitu Desa Jatirejo, Desa Wates, Desa Tambaklekok dan Desa Semedusari.
Pihak kecamatan bersama Pemdes berencana menjadikan tradisi ini sebagai pendukung konsep wisata bahari. Pihaknya bakal merintis rumah makan apung maupun keramba yang direncanakan terwujud tahun ini.
“Kalau bisa tradisi ini dapat dilaksanakan tidak hanya di hari kupatan saja, tapi di hari besar lainnya seperti HUT RI atau hari jadi Kabupaten Pasuruan,” terangnya.
Sejatinya tak hanya di Lekok saja yang biasanya merayakan tradisi hari kupatan. Di Kecamatan Kraton, juga digelar tradisi pesta kembang api dan anjangsana dan praonan. Tradisi kupatan ini juga kerap dihadiri ribuan warga di Pasuruan. (riz/fun)