MAJELIS yang diasuh oleh KH Muhammad Ali Fikri bin Machfudz Ali itu digelar sekali dalam sepekan. Tepatnya di malam Ahad. Lokasinya, berpindah dari satu masjid ke masjid lain. Terkadang juga musala. Namun yang jelas, setiap kali majelis dihelat, tidak luput dari ribuan jamaah yang hadir.
“Sekarang ini kurang lebih sudah mencapai 6 ribu jamaah kami. Selain dari Pasuruan, ada yang dari Probolinggo, Malang, dan Sidoarjo,” tutur KH Muhammad Ali Fikri kepada Jawa Pos Radar Bromo.
Ia bersyukur majelis asuhannya dapat diterima dengan baik di tengah masyarakat. Bahkan, jamaahnya yang mengikuti majelis terdiri atas berbagai kalangan dan usia. Setiap tahunnya, jumlah jamaah pun semakin bertambah banyak.
Gus Ali –sapaan akrab KH Muhammad Ali Fikri- menjelaskan, majelis itu telah dimulai sejak tahun 2009. Terpaut tujuh tahun setelah ia mendirikan Pondok Pesantren Ar Riyadh. Sedianya, majelis itu sendiri digelar dengan tempat menetap. Yaitu, di pesarean (makam) KH Ali di area Masjid Jamik Wonorejo.
Saat itu jumlah jamaahnya sekitar 200 orang. Namun, lambat laun semakin bertambah. Tempat majelis pun tak muat. Karena itu, Gus Ali kemudian berinisiatif agar majelis itu berpindah-pindah baik di masjid maupun di musala. Tujuannya, agar majelis tetap bisa bertahan.
Setiap kali majelis digelar, tidak melulu berisi pengajian. Melainkan juga diselingi lantunan salawat serta iringan musik Albanjari. Selain itu, Mars Ar Riyadh juga menjadi semacam lagu pembuka sebelum majelis dimulai.
“Liriknya berisi tujuan kita berkumpul dalam majelis itu apa. Yaitu, menimba ilmu dengan suasana senang. Itulah kenapa irama musik Albanjari dalam majelis kami juga terkesan bernuansa rock karena sasaran kami memang anak muda agar tertarik mengikuti majelis ini,” ujarnya.
Dengan begitu, kata Gus Ali, ia berharap majelis bisa menarik minat anak-anak muda untuk mengikuti pengajian. Di samping mengaji, ia berharap jamaah majelis juga menikmati irama musik Albanjari dengan lantunan salawat yang juga sarat makna.
“Seperti salawat anti narkoba itu kami bawakan, juga dengan nuansa rock. Mulanya agar diterima anak-anak muda, lalu mereka mendengarkan dan menghayati liriknya yang penuh dengan nasihat bahayanya narkoba,” ujarnya.
Memasuki pertengahan bulan Ramadan, rutintias majelis pun kembali dimulai. Bertepatan di malam ke 17 atau di malam Nuzulul Quran dan berlangsung hingga malam ke 29. Kegiatan yang dilakukan tak jauh berbeda yaitu pengajian dan salawat.
“Selama Ramadan juga diadakan Khotmil Quran, setelah itu pengajian dan salawat,” ujarnya. (tom/fun)
Editor : Muhammad Fahmi