RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen
Deretan hasil kerajinan tangan dari bambu diletakkan berjejer di dalam ruang tamu sebuah rumah warga di Dusun Sumberrejo, Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Mulai dari tempat pensil dan pulpen, vas bunga, tempat payung, sampai hiasan dinding.
Kerajinan dari bambu itu merupakan produksi Kelompok Taruna Tani Cemoro Sewu desa setempat. Dari hasil kerajinan anak-anak muda desa setempat itu, tampak kreativitas mereka dalam membentuk bambu menjadi benda bernilai jual. Menariknya, tak ada sentuhan mesin dalam pembuatan kerajinan itu.
“Aneka kerajinan bambu ini kami buat sudah berjalan sekitar satu tahun terakhir. Seiring dengan berdirinya Kelompok Taruna Tani Cemoro Sewu. Kegiatan ini menyalurkan hobi, sekaligus usaha bersama dan tambahan penghasilan,” beber Nirwan, salah seorang perajin yang juga wakil ketua kelompok tersebut.
Meskipun memiliki anggota puluhan orang, namun yang berkecimpung aktif dalam pembuatan kerajinan ini hanya tujuh orang saja. Dan, kemampuan mereka diperoleh secara otodidak. Karena itulah, saat memulai, mereka memutuskan menjadikan bambu sebagai bahan dasar.
Selain memanfaatkan potensi sunber daya alam yang ada dan berlimpah di desa setempat, juga lebih mudah dilakukan. Diketahui, bambu wulung sebagai bahan dasar banyak ditemukan di dusun tersebut. Dengan ciri khas kulitnya agak kehitaman, beda dengan bambu pada umumnya.
Bambu pilihan itu didapat dari sejumlah tegalan milik warga, juga anggota kelompok taruna tani. “Bambu wulung di desa kami melimpah. Dari sinilah akhirnya terinspirasi menjadikannya sebagai barang kerajinan. Tentunya bernilai seni serta ekonomi,” katanya.
Adapun dalam proses pembuatan atau produksinya, setelah bambu didapatkan dari tegal, lebih dulu dicuci dan dikeringkan. Kemudian dipotong-potong sesuai dengan bentuk barang yang diiinginkan atau mau dibuat. Baik dalam bentuk tempat pulpen dan pensil, vas bunga, tempat payung, dan juga hiasan dinding lainnya.
Pada kulit luar bambunya, diukir motif menggunakan alat grafik maupun tata letaknya. Di antaranya motif wayang, tokoh kartun, alam, hewan peliharaan, serta masih banyak lainnya. Proses finishing-nya, masing-masing bambu digosok sampai halus. Berikutnya dicat ataupun dibiarkan tanpa cat. Baru setelah itu dipernis agar mengkilat.
“Proses paling sulit serta butuh ketelatenan tinggi adalah saat membuat motif pada kulit bambunya. Tentunya harus telaten serta teliti juga hati-hati. Karena inti dan nilai seninya memang ada pada motifnya, selain bentuk,” jelas Suharjo, bendahara sekaligus juga perajin.
Untuk barang kerajinan yang dibuat, per item-nya paling cepat tiga jam selesai. Sementara paling lama butuh waktu hingga dua sampai tiga hari. Cepat dan lamanya tergantung ukuran, bentuk motif, serta tingkat kerumitannya.
“Ketujuh orang ini berbagi tugas sesuai kemampuan dan keahlian masing-masing. Semuanya dikerjakan dan dipusatkan di basecamp,” tuturnya.
Karena baru berjalan setahun terakhir, pemasarannya masih terbatas di sekitar Pasuruan dan Mojokerto. Harga termurahnya Rp 25 ribu. Sedangkan termahal hingga Rp 250 ribu. “Pemasarannya masih terbatas, dari mulut ke mulut serta via medsos. Kami optimistis ke depan tetap terus eksis,” kata Suhar -sapaan akrabnya-. (rf) Editor : Jawanto Arifin