FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan
SEBUAH mobil sedan patroli, siang itu berhenti di sekitar alun-alun Pasuruan. Dua petugas yang masih mengenakan seragam, lalu keluar dari mobil. Salah satunya membawa bungkus plastik berisikan nasi bungkus yang jumlahnya ada puluhan. Petugas itu kemudian merapat ke tukang becak wisata yang ada disana.
Hanya dalam hitungan menit, puluhan nasi bungkus tersebut ludes. Para tukang becak itu lalu memakannya bersama dua petugas kepolisian tersebut. Mereka nampak akrab, bahkan tak ada batas. Selepas makan bersama, dua petugas tersebut lalu pamit untuk melanjutkan tugas patroli.
Rupanya, hal itu adalah kebiasaan rutin yang dilakukan Brigadir Dedy Istiawan, 35. Saat ditemui, dia hanya tersenyum. Dia hanya menyebut, kebiasannya itu hanya bagi-bagi rezeki karena hasil panen sawahnya perlu di sodaqohkan. Tak ayal, banyak tukang becak yang mengenalnya.
Personel polisi yang akrab disapa Dedet itu mengatakan, sejatinya itu bukan sesuatu yang baru. Dia sendiri mengaku, itu adalah caranya mendekatkan diri dengan masyarakat. Terlebih saat dia pernah menjadi Babinkamtimbas. Dia menyadari betul, polisi itu harus dekat dengan masyarakat. Agar saat bertugas, bisa dibantu.
Dedet mengaku, upaya lainnya untuk mendekatkan diri ke masyarakat adalah, dia membuat kelompok pengajian rutin di rumahnya, di Gratitunon, Kecamatan Grati. Jamaahnya kini ada sekitar 90-an orang dari berbagai elemen. “Mulai tokoh masyarakat, pemuda, bahkan eks pelaku kejahatan. Selain pengajian rutin, kami sering punya agenda berangkat ziarah, seperti ke Wali Limo,” beber suami Misnati itu.
Pengajian itu digelar dengan cara bergilir, dari rumah jamaah satu ke lainnya. Pengajiannya digelar sederhana, dan sesekali menyantuni yatim piatu. “Yang penting ada siraman rohani dan kami mengaji bersama-sama,” beber Dedet. Begitu juga ketik ziarah ke makam. Biasanya
Sebagai seorang polisi yang bertugas di Satsabhara, Dedet yang juga menjadi komandan regu patroli ini mengaku, dia kerap bertugas hingga 12 jam. Bisa menjadi nonstop, apabila keadaan genting. Nah, selepas bertugas itulah atau ketika lepas dinas, Dedet lalu meluncur ke sawah.
“Sebenarnya sawah saya tidak banyak. Ada yang punya sendiri dan juga nyewa. Tapi dari sini saya bisa mendapat rezeki tambahan,” terang pria satu anak itu.
Dari hasil sawah itulah, Dedet mengaku, harus ada yang dibagi ke sesama. Termasuk untuk menyantuni anak yatim piatu, dan menyumbang untuk kegiatan ziarah.
“Sebenarnya bukan menjadi kebanggaan. Tapi ini cara saya untuk bisa dekat ke masyarakat. Sehingga, jika terjadi apa-apa termasuk kejahatan, warga cepat melapor. Kerjasama yang terjalin tak hanya sekejap karena kontinyu,” terang Dedet. (fun) Editor : Fandi Armanto