Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Korban Dikenal Guru Ngaji di Kampungnya, Sudah Lama Menjadi Murid Pelaku

Jawanto Arifin • Senin, 21 Januari 2019 | 16:10 WIB
Photo
Photo
REMBANG - Sebelum mengetahui korban ditemukan tewas mengenaskan, warga Pejaten, tempat korban Sya’roni tinggal, juga sudah curiga. Ini lantaran, saat Sabtu (19/1) malam, Sya’roni sempat didatangi Nanik, salah satu orang yang ditetapkan tersangka oleh polisi. Saat itu warga sudah curiga, karena sangat jarang Nanik datang ke rumah korban.

Photo
Photo
TKP: Suasana keramaian warga saat di lokasi kejadian, sesaat kabar ditemukannya dua jenazah lelaki yang ditemukan tewas. (Istimewa)

Warga sendiri sejatinya sudah mengetahui, bahwa Sya’roni memang sudah lama berguru kepada M Dhofir. Bahkan, Sya’roni memiliki panggilan tersendiri terhadap “gurunya” tersebut. Yakni, korban memanggil Gus Dhofir.

“Kalau megurunya, saya gak tahu mulai kapan. Tapi sudah sejak lama,” beber warga di Pejaten yang enggan namanya disebutkan.

Berkali-kali, kata sumber tersebut, Sya’roni mengelu-elukan M Dhofir. Bahkan sempat mengajak, lantaran M Dhofir disebut-sebut punya ilmu yang bisa melancarkan rezeki. Namun, warga sendiri sempat heran dengan sikap Sya’roni. Pasalnya, M Dhofir yang begitu dipujanya, tak memiliki pondok.

Menurut warga, Syar’roni dikenal sebagai pribadi yang baik. Sehari-harinya, korban adalah tukang bangunan. Namun, setiap sore, dia mengajar ngaji di musala dusun setempat.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Warga Dusun Krajan, Desa Jatigunting, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, Minggu pagi dihebohkan dengan penemuan dua lelaki yang ditemukan tewas terbakar. Bahkan, kedua leher korban diikat menjadi satu menggunakan tali berbahan karet ban bekas.

Peristiwa itu pertama kali diketahui oleh Nurul Huda, warga RT 2/RW 2 yang tinggal di sekitar lokasi kejadian. Sekitar pukul 02.30, Nurul Huda terbangun dari tidurnya lantaran mendengar suara berisik. Saat ditelusuri, suara tersebut bersumber dari depan rumahnya.

Proses evakuasi cukup menyita perhatian warga setempat. Polisi juga harus memisahkan helaian kain pakaian yang sudah melekat pada tubuh korban. Saat diperiksa, sempat tak ditemukan kartu identitas ataupun kartu pengenal lainnya. Polisi sempat kesulitan dalam mengidentifikasi kedua korban. Sebab, terjadi gangguan teknis saat dilakukan identifikasi menggunakan alat mambis atau pemindai sidik jari. Karena itu, jasad kedua korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong.

Kapolsek Wonorejo AKP I Made Jayantara mengaku pihaknya menerima laporan adanya insiden tersebut sekitar pukul 03.30 atau berselang satu jam berdasarkan penuturan Nurul Huda saat kali pertama mengetahui insiden tersebut. “Dari kesaksian sejumlah warga, termasuk keterangan kepala desa, keduanya bukan warga setempat,” aku Made saat ditemui, Minggu pagi.

Proses identifikasi akhirnya berhasil. Polisi telah mengungkap identitas kedua korban. Mereka yakni Sya’roni, 58, warga Dusun Pejaten, Desa Pajaran, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan serta Imam Sya’roni, 70, warga Dusun Selorentek Kulon, Desa Karanganyar, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

Sejauh ini, Made belum dapat menjelaskan lebih banyak terkait dengan insiden tersebut. Termasuk dugaan pembunuhan yang dialami kedua korban. Sebab, pihaknya masih melakukan penyelidikan secara mendalam. “Kami juga di-backup penuh oleh tim dari Satreskrim Polres Pasuruan,” jelasnya.

Begitu pula saat ditanya mengenai sejumlah kemungkinan yang dialami kedua korban sebelum dibakar. “Itu yang sedang kami dalami. Baik dari temuan-temuan di lapangan maupun dari keterangan para saksi yang sudah diperiksa,” jelasnya. (tom/fun) Editor : Jawanto Arifin
#korban dukun dibakar #dua tewas dibakar #pasien dukun dibakar #tewas mengenaskan dibakar #polsek wonorejo #korban tewas dibakar