Kabid Lalu Lintas pada Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pasuruan Andriyanto mengungkapkan, forum lalu lintas sudah melakukan kajian pada JLS arah Surabaya. Hasilnya, truk yang hendak ke timur tidak bisa lewat jalur ini karena tidak adanya jalur putar arah.
“Kami sempat punya rencana di lewatkan di JLS Jalan Gatot Subroto. Ternyata, tidak memungkinkan sebab saat keluar di simpang tiga Karangketug, truk tidak bisa belok ke kanan untuk menuju arah timur. Sehingga, rencana ini batal,” katanya.
Andri -sapaan akrabnya- menyebut Dishub bersama Forum Lalu Lintas tengah mengupayakan truk bisa melintasi JLS di Jalan KH Hasyim Asy’ari. Keinginan ini tidak terlepas untuk mengurai arus lalu lintas di Kota Pasuruan saat sedang padat.
Utamanya saat jalan perkotaan ditutup karena ada proyek pengerjaan jalan. Seperti yang terjadi di Jalan Erlangga dan Jalan Hasanuddin yang merupakan jalur perlintasan truk ke arah timur. Karena ditutup, truk dilewatkan ke JLS.
“Kami inginnya pengalihan ini tidak bersifat sementara. Kalau bisa, JLS mampu dilewati truk dari dua arah. Selama ini kan hanya mobil pribadi dan bus yang bisa melintas dua arah. Inilah yang sedang kami upayakan,” jelas Andri.
Menurutnya, keinginan ini tidak mudah direalisasikan. Sebab, ruas jalan di Jalan KH Hasyim Asy’ari masih belum standar. Terutama di Jembatan Petung yang hanya memiliki lebar 7 meter. Lebar jalan di Jembatan ini masih dicarikan solusinya.
“Kami masih akan membahasnya dengan pemprov dan instansi terkait. Bisa tidak lebar jalan di Jembatan Petung ditingkatkan. Bagaimanapun sudah seharusnya truk tidak lewat kota dan JLS difungsikan dua arah,” ungkapnya.
Kanit Dikyasa Satlantas Polres Pasuruan Kota Iptu Komaruddin Arief mengungkapkan, Satlantas mendukung rencana pengalihan rute truk masuk Kota Pasuruan. Namun, sarana berupa ketersediaan rambu dan prasarana berupa kelayakan jalan.
“Kita perlu melihat sudah layakkah JLS di Jalan KH Hasyim Asy’ari dilewati dua arah. Misalnya, truk bisa melintasi dua arah di jalur ini, apakah tidak membahayakan? Aspek keselamatan menjadi faktor utama,” terangnya. (riz/rf)
Editor : Muhammad Fahmi