PRIGEN, Radar Bromo–Kebakaran hutan Gunung Arjuno-Welirang di kawasan Tahura R. Soerjo belum juga padam, memasuki hari kedelapan. Titik api masih bertahan di lereng Gunung Arjuno, merembet dari Ogal Agil ke punggungan Alas Lali Jiwo.
Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman masih terus dilakukan melalui jalur darat dan udara.
Sebab, wilayah yang terbakar merupakan medan curam di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kepala UPT Tahura R. Soerjo Agustiningtyas Marini mengatakan, hingga Rabu (26/8), luas kawasan yang terbakar diperkirakan lebih dari 300 hektare.
Rabu, titik api masih terpantau di lereng Gunung Arjuno. Lokasinya berada di kawasan yang sulit dijangkau, berupa tebing dan lereng dengan medan curam.
"Titik api masih ada di lereng Gunung Arjuno. Tepatnya dari Ogal Agil mengarah ke bawah ke punggungan alas Lali Jiwo," beber Agustiningtyas Marini ditemui Jawa Pos Radar Bromo di Posko Karhutla Arjuno-Welirang, Kaliandra, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen.
Menurutnya, titik api berada pada ketinggian 2.500–2.700 mdpl. Kondisi medan semakin menyulitkan proses pemadaman karena kawasan itu memiliki vegetasi yang rapat. Terdiri atas cemara gunung, alang-alang, semak belukar, serta rumput.
“Pemadaman dilakukan lewat jalur darat dan udara. Di jalur darat, puluhan personel gabungan masih bertahan di kawasan gunung,” terangnya.
Baca Juga: Kebakaran Gunung Arjuno: Blok Ogal Agil Masih Membara Malam Ini, Api dari Area Puncak Merambat Turun
Mereka terdiri dari polisi kehutanan (polhut), Manggala Agni, serta Masyarakat Peduli Api (MPA). Personel tersebut disiagakan di Sawahan Kesek dan Lembah Kijang, Lereng Arjuno.
“Mereka membantu pemadaman, memastikan bara api benar-benar padam. Sekaligus membuat sekat bakar agar api tidak semakin meluas,” terangnya.
Sedangkan pemadaman dari udara melalui water bombing menggunakan helikopter, kembali dilakukan kemarin (26/8). Mobilitas helikopter untuk water bombing dilakukan melalui lapangan Kaliandra.
"Hari kedelapan kebakaran, pemadaman melalui water bombing dilakukan seperti hari sebelumnya," kata Slamet Prayitno, personel BPBD Provinsi Jatim ditemui Jawa Pos Radar Bromo di Kaliandra, Prigen.
Untuk pengambilan air, helikopter masih menggunakan kolam yang berada di Kaliandra. Air tersebut kemudian dibawa menuju titik api di lereng Gunung Arjuno, khususnya punggungan Alas Lali Jiwo.
Namun pemadaman dari udara tidak bisa dilakukan secara maksimal. Pada hari kedelapan, water bombing hanya dilakukan lima kali. Setelah itu, helikopter kembali ke Lanud Abdurahman Saleh.
Water bombing tidak bisa dilakukan maksimal karena terkendala kondisi cuaca. Salah satunya angin kencang.
"Untuk water bombing di hari kedelapan kebakaran hutan, tidak bisa dilakukan lebih dari lima kali. Kami terkendala cuaca. Salah satunya angin kencang," bebernya. (zal/hn)
Editor : Muhammad Fahmi