Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sentra Pia di Gempol yang Tak Termanfaatkan, Jadi Produk Gagal karena Tak Bisa Bantu Pasarkan UMKM

Rizal Syatori • Minggu, 7 Juni 2026 | 13:25 WIB
TAK DIGUNAKAN: Gedung Sentra Pia di Desa Kejapanan yang sekarang tak ditempati. Gedung ini dikelola Koperasi Wasuka dan hanya digunakan untuk aktivitas sosialisasi. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
TAK DIGUNAKAN: Gedung Sentra Pia di Desa Kejapanan yang sekarang tak ditempati. Gedung ini dikelola Koperasi Wasuka dan hanya digunakan untuk aktivitas sosialisasi. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Bakpia adalah kue tradisional Tiongkok. Namanya tou like pia atau kue berisi daging. Di Indonesia, kue ini dulunya dibawa  imigran Tionghoa ke Jogjakarta di awal abad ke-20. Sejumlah daerah lalu ikut memproduksi, termasuk di Kabupaten Pasuruan yang bahkan terdapat sentranya di Dusun Warurejo, Desa Kejapanan, Gempol. Sayang, sentra pia Gempol yang digadang-gadang menjadi ikon justru tak sukses. 

DINAMAKAN sentra pia karena banyak pembuat kue pia di Desa Kejapanan. Bahkan desa ini punya sebutan kampung pia. Alasan itulah yang membuat Pemkab Pasuruan di tahun 2017 melalui Disperindag (sekarang Diskoperindag) mendirikan bangunan gedung sentra pia.

Lokasinya di sebelah barat jalan nasional arteri dan ruas jalan Tol Gempol – Kejapanan. Dengan harapan bisa menjaring pembeli baik pengguna jalan yang melintas maupun wisatawan.

Gedung sentra pia didirikan lahan Tanah Kas Desa (TKD) Kejapanan, berlokasi di Dusun Warurejo, Desa Kejapanan, Gempol.

Bentuk gedungnya layanya rumah kaca dan seperti rumah panggung. Dengan ukuran panjang sekitar 40 meter dan lebar 20 meter ini.

Di dalam gedung ini ada toilet, tangga, akses gerbang sekaligus jalan masuk dan keluar, serta tulisan Kampung Pia Gempol berada di luar menghadap ke jalan sekaligus sebagai penanda.

Edung sentra pia ini awalnya adalah usulan dari perajin UMKM kue pia sebagai sarana tempat sentra penjualan pia. Harapannya waktu itu bisa mendongkrak pemasaran.

Pembangunan dilakukan bertahap, Pada 2017 dianggarkan Rp 1 miliar dan 2019 dianggarkan Rp 1,6 miliar.  

Kemudian setelah jadi, sempat dilaunching pada 2020 lalu, sekaligus dijadikan tempat penjualan pia atau sentra pia oleh para pelaku UMKM pia di Kampung Pia Kejapanan yang tergabung dalam Koperasi Waru Sukses Berkarya (Wasuka).

Namun kini kondisinya memprihatinkan. Ini terlihat dari cat gedung yang sudah kusam. Begitu masuk ke dalam, plafonnya ada yang jebol. Kacanya juga ada yang pecah. Ternyata sentra pia ini dan jarang digunakan.

"Bangunan gedungnya memang dibangun di atas lahan TKD Kejapanan. Untuk penerima hibah sekaligus pengelolanya bukan pemdes, melainkan Koperasi Waru Sukses Berkarya (Wasuka)," kata Kades Kejapanan Randi Saputra.

Sebelum mangkrak seperti sekarang, saat launching sekitar Maret 2020 lalu, pasca penyerahan aset sekaligus pengelolaannya, sentra pia sempat digunakan untuk penjualan sekaligus pemasaran pia.

Namun, tidak bertahan lama karena hanya berjalan dua bulan saja. Karena pembelinya sepi. "Setelah itu, ada pandemi. Akhirnya lanjut seperti sekarang ini," bebernya.         

Yana Andayani, perintis pia sekaligus juga ketua koperasi Wasuka yang pertama mengatakan, pembangunan gedung sentra pia adalah usulan dari koperasi Wasuka. Usulannya di tahun 2017 lalu.

"Pertimbangan supaya ada sentra oleh-oleh khas Gempol, khususnya di Desa Kejapanan. Sehingga menjadi daya tarik wisatawan, minimal menyerupai Cheng Hoo gitu lah," katanya.      

Dia masih ingat, serah terima gedung sentra pia pada tahun 2019. Bangunan diserahkan setelah dua kali pengajuan, masing-masing tahun 2017 dan 2019.

"Pengajuan pertama tahun 2017, masih setengah jadi dan belum diserahkan. Kemudian pembangunan dilanjutkan dengan dasar pengajuan tahun 2019, sampai jadi," bebernya.

Gedung sentra pia fasilitasnya kurang lengkap, toiletnya rusak, biaya operasional untuk listrik, air dan perawatan ditanggung oleh Koperasi Wasuka selaku pengelola dan penerima hibah.

Lalu apa yang membuat sentra pia ini tak  digunakan? "Kalau menurut saya, standar pusat oleh-oleh itu ada toilet, musala dan tempat jualan yang memadai. Sedangkan yang terjadi jauh dari harapan," tuturnya.

Beberapa fasilitas juga hilang dan rusak. Seperti kran-kran air, lampu-lampu, pintu kaca yang atas juga rusak tidak bisa ditutup. Beberapa aset ada yang hilang, seperti dua meja resepsionis.

"Pemasaran dan penjualan pia dilakukan di rumah dan toko masing-masing pembuat pia. Bangunan sentra pia kurang representatif, fasilitas pendukungnya terbatas, serta panas dan banyak yang rusak," beber Nur Khofifah, ketua Koperasi Waru Sukses Berkarya saat ini.

Karena kondisi gedungnya banyak mengalami kerusakan dan kurang representatif, Koperasi Wasuka tetap memanfaatkan gedung ini. Misalnya rapat rutin bulanan, tetap diadakan sebulan sekali dihadiri para anggota di gedung tersebut.

"Rapatnya tidak di dalam gedung, tapi di ruangan bawah di bawah gedung dengan lantai sudah diplester. Mengingat anggotanya banyak ibu-ibu dan sudah tua, susah naik tangga. Kasihan," jelasnya.

Di beberapa kesempatan, meskipun gedungnya mangkrak, terkadang masih digunakan untuk sejumlah acara. Misalnya untuk menerima tamu kunjungan studi dari kalangan pelajar dan mahasiswa serta PKK dan Dharma Wanita.

Gedung sentra pia juga kerap digunakan kegiatan sosialisasi, seperti BPJS, Bank Indonesia, dan lain-lain.

"Gedungnya tampak mangkrak, aktifitas tetap ada namun jarang. Saat ini lebih dimanfaatkan untuk kegiatan edukasi-edukasi dan sosialisasi," ungkapnya.

Kalau ada acara, kunjungan tamu, jujukan dan pertemuannya tetap di gedung ini. Kemudian praktiknya terkait pia, kami arahkan ke tempat usaha warga atau anggota yang memproduksi pia. Tentunya bergilir atau bergantian imbuhnya.

Untuk kunjungan, Ifa sapaan akrabnya lanjut mengatakan, sebulan bisa 1-2 kali. Sosialisasi setahun hingga dua kali dan rapat-rapat tiap bualn dan dilanta bawah.  

"Aktifitas pemanfaatan gedung ini tetap ada, namun jarang. Kedepan agar pemanfatan lebih maksimal, berharap ada perhatian dari pemerintah daerah. Termasuk pemerintahan kecamatan dan desa," ujarnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo saat datang ke sentra pia, di gedung sentra pia terpasang plakat atau papan nama Koperasi Waru Sukses Berkarya (Wasuka). Di dalamnya ada lemari, kursi plastik, meja, vas bunga, lemari besi, meja buat praktik membuat pia.

Di sekeliling bangunan  gedung sentra pia, sebelah timurnya sekaligus berhadapan sedang dibangun gedung koperasi desa merah putih (KDMP) Kejapanan. Di sisi sebelah utara terdapat bangunan gedung SPPG dan sudah operasional. Di sisi sebelah barat, terdapat deretan bangunan kios belum tuntas dibangun.

Kepala Diskoperindag Taufikhul Ghony menuturkan, pembangunan gedung sentra pia saat itu menindaklanjuti sekaligus mengakomodir usulan warga pelaku UMKM pia tergabung dalam Koperasi Wasuka. Sebagai sarana tempat untuk mendongkrak pemasaran pia.

"Dengan adanya gedung sentra pia diharapkan menjadi tempat jujukan warga dan wisatawan. Termasuk pengguna jalan, untuk berbelanja oleh-oleh. Seperti itu ceritanya," kata Ghony sapaan akrabnya.

Keberadaan sentra pia yang mangkrak dan belum berjalan maksimal dan tak sesuai harapan ini tetap menjadi atensi pemerintah daerah. "Tim dari pemkab termasuk Diskoperindag dan aset serta lainnya sudah melakukan survei kesana. Sekarang masih dilakukan evaluasi dan hasilnya belum turun," ucapnya singkat. 

BANYAK KAUM HAWA: Proses pembuatan kue pia yang dilakukan ibu-ibu di Desa Kejapanan. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
BANYAK KAUM HAWA: Proses pembuatan kue pia yang dilakukan ibu-ibu di Desa Kejapanan. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Pengusaha Pia Lebih Memilih Berjualan di Tempat Usaha Sendiri

JAUH sebelum ada sentra pia, di Desa Kejapanan memang menjadi pusat pembuatan pia di Kecamatan Gempol. Pembuat pia ini masih eksis hingga sekarang. Para pembuat pia ini awalnya berada di Dusun Warurejo, Desa Kejapanan. Di dusun inilah sekaligus terdapat kampung pia. Ada puluhan warga yang memproduksi pia.

Munculnya sentra pia di Desa Kejapanan, tepatnya di Dusun Warurejo bukanlah ujug-ujug. Ada sejarahnya. Perintisnya adalah Yana Andayani, 52, bersama suaminya Hariyanto. Pasutri ini mulai memproduksi pia sejak tahun 1999.

Saat itu mereka masih tinggal di Dusun Gempol Joyo, Desa/Kecamatan Gempol. Empat tahun berselang, pada tahun 2003 dia pindah ke Dusun Warurejo, Desa Kejapanan. Otomatis produksi pianya berpindah ke Dusun Warurejo.

"Saat itu, belum ada yang buat kue pia. Akhirnya punya ide untuk membuatnya, kebetulan sejak SMA sudah senang dan hobi bikin kue, termasuk pia," kata Yana Andayani, perintis kue pia di Kecamatan Gempol.

Awal pertama kali membuat pia, tidak langsung dipasarkan ke toko miliknya seperti sekarang. Saat itu belum punya toko.

Kue pia yang produksi ia jual ke warung dan toko-toko. Hingga ke Desa Randupitu dan Watukosek, Gempol. Bahkan ke luar kecamatan seperti Desa Gondanglegi.

"Seiring berjalannya waktu, bermunculan UMKM memproduksi pia di Dusun Warurejo. Pembuatnya bertambah banyak, akhirnya muncul kampung pia di tahun 2009 yang dikenal sampai sekarang," ungkapnya.

Saat muncul kampung pia, pembuat pianya saat itu berjumlah 11 orang. Lambat laun bertambah hingga puluhan.  Tetap aktif sekaligus juga eksis membuat pia. "Sampai sekarang tetap eksis namun ada yang membuat saat ada pesanan dan waktu-waktu tertentu saja seperti lebaran, puasa, liburan sekolah dan musimnya hajatan," bebernya.

Pia yang di produksi para pelaku UMKM di Kampung Pia Kejapanan ini memiliki ciri  khas dan beda dengan bakpia patok di Jogjakarta maupun pia sus di Bali. Pia yang di produksi warga ukurannya lebih besar ketimbang bakpia patok. Kemudian kulitnya ngeprul dan lebih tahan lama.

"Juga harga lebih terjangkau untuk semua segmen pasar, produk fresh, serta banyak varian rasa," katanya.

Untuk jenis varian rasanya antara lain original atau kacang ijo, pisang coklat, pisang keju, tape, nanas, stroberi, coklat, keju, basah, durian. Pia itu dijual dalam kemasan kotak, masing-masing ada yang isi enam, delapan, sepuluh, 12, 20 dan 24.

"Untuk harga pianya di kampung pia ini satu dengan yang lain sama, sudah disepakati biar lebih tertib. Baik itu harga per bijinya, kemasan kotak isi enam, delapan, sepuluh dan seterusnya," kata Ninik Agustini, 62, pelaku UMKM produksi pia, warga Dusun Warrurejo.

Dari aneka varian rasa yang ada, paling laku sekaligus banyak dibeli adalah pia original atau kacang ijo. Untuk adonan kulit, bahan bakunya tepung protein tinggi dan sedang, air dan minyak. Khusus pia basah ditambah mentega dan gula. Untuk adonan isi, terdiri dari kacang ijo, gula, garam, air dan vanili.

"Adonan isi selain kacang ijo, tinggal beli langsung dari toko. Misalnya coklat, keju, selain dan lain-lain," terangnya.

Pembuat seperti Ninik Agustinimulai memproduksi pia sejak tahun 2010 lalu dan masih aktif sampai dengan sekarang. Potensi pia bagus karena penjualan  terbilang stabil.

"Pia dibeli paling banyak untuk oleh-oleh, juga untuk aneka hajatan. Karena kemasan praktis, lebih tahan lama, harga terjangkau, pilihan rasanya variatif," bebernya.

Peluang usaha UMKM pia ini masih menjanjikan. Bahkan pembuat seperti Ninik, tidak hanya produksi dan buka toko di Dusun Warurejo saja. Tapi juga cabang di lokasi lain, diantaranya Sidoarjo, Sepanjang, Bangil, Jombang dan Singosari.

"Pembelinya ada dari sekitaran Pasuruan, mayoritas dari luar kota atau daerah. Satu dengan yang lain, sudah punya pasar sendiri-sendiri. Harga sudah diatur dan disepakati. Untuk omset, rata-rata per harinya jutaan rupiah," terangnya.

Untuk penjualan, tidak hanya di toko atau offline. Tapi juga via online pula. "Ini untuk menyesuaikan perkembangan zaman serta peluang pasar," imbuhnya.

Satu UMKM pia, untuk pekerja beragam. Tergantung skalanya. Untuk skala kecil, bisa merekrut pekerja 2-5 orang, sedang 6-10 orang, dan skala besar yang mampu merekrut belasan hingga puluhan orang.

Para pekerjanya mayoritas kaum hawa dan tentu saja warga dusun setempat dan sekitaran Desa Kejapanan  hingga desa tetangga seperti Desa Gempol dan Carat. Mereka biasanya bekerja sejak pagi sampai sore hari.

"Ada yang sistem borongan dan jam. Gaji perharinya untuk karyawan rata-rata perharinya Rp 100 ribu, masih di bawah UMK karena ini bukan pabrik. Kalau dilanjut dari sore sampai malam hari, sudah masuk hitungan lembur," kata Yana, pelaku UMKM pia dan sekaligus perintis pia Kejapanan.

Pelaku UMKM pia di Dusun Warurejo ini kebanyakan sudah menjadi anggota Koperasi Waru Sukses Berkarya (Wasuka). Koperasi ini sudah berbadan hukum dan berdiri 19 Oktober 2015. Jenis koperasi jasa dan kelompok koperasi koperasi serba usaha.

Kades Kejapanan Randi Saputra menuturkan, sentra pia di desanya berpusat di Dusun Warurejo. Namun, di dusun - dusun lainnya di Desa Kejapanan, juga banyak masyarakatnya menjadi pelaku UMKM produksi pia. Diantaranya ada di Dusun Pabean, Kejapanan, Bandulan, Ngasem, Penanggungan dan Melian.

"Di dusun lain di luar Warurejo, ada puluhan warga juga memproduksi pia. Sehingga desa ini bisa dikatakan menjadi desa sentra pia di Kabupaten Pasuruan," tuturnya.

Keberadaan sentra pia berdampak positif. Salah satunya mengurangi pengangguran sekaligus juga serap tenaga kerja.  "Pembuat pia menjadi ladang usaha demi kesehjatraan warga. Desa Kejapanan menjadi ikon oleh-oleh UMKM khas Pasuruan," ungkapnya. 

Perlu Ada Kajian Ulang Agar Tidak Mangkrak

MANGKRAKNYA gedung sentra pia hingga sampai saat ini, berada di Dusun Warurejo, Desa Kejapanan, Gempol mendapat atensi khusus dari anggota legislatif DPRD Kabupaten Pasuruan. Salah satunya Nik Sugiharti yang menilai, sejak awal sentra pia ini salah dalam pembangunan.

"Secara pribadi saya berpendapat sentra adalah produk gagal. Karena tidak mengindahkan kearifan lokal dan tidak mengindahkan masukan dari DPRD di saat perencanaan," ungkap legislator asal Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol ini.

Mbak Nik sapaan akrabnya menuturkan, awal perencanaan komisi C saat itu, sudah tidak berkenan. Misalnya gedung dengan material terbuat dari kaca. Ini mengesankan ekslusif dan tidak ramah lingkungan. Nik masih ingat, saat itu Komisi C menginginkan bentuknya los seperti yang ada di Pasar Wisata Cheng Hoo.

Apakah pembangunan sentra pia adalah proyek buang anggaran? "Perencanaan yang salah awal dari sebuah kegagalan dan awal ketidak manfaatan. Perlu ada kajian ulang untuk gedungnya oleh instansi terkait. Ke depan bisa maksimal dan tidak mangkrak," tegasnya.

Agar proyek serupa tidak terjadi lagi, legislator yang juga ketua DPD Golkar Kabupaten Pasuruan ini menuturkan, harus memperhatikan azas manfaat. Juga perencanaan yang benar berdasarkan kearifan lokal.

"Juga memperhatikan ketersediaan anggaran yang cukup, jangan sampai macet di tengah pembangunan. Biar ketika sudah jadi, tidak mangkrak," jelasnya.

Sejarah Pembuat Kue Pia Gempol

-          Sebelumnya di Dusun Warurejo, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol masyarakatnya dikenal banyak bekerja sebagai perajin emas.

-          Tahun1999 pasutri Yana dan Hariyanto merintis usaha di Dusun Gempol Joyo, Desa Gempol. Di tahun 2003 keduanya pindah ke Dusun Warurejo, Desa Kejapanan.

-          Setelah krisis moneter tahun 1998 banyak usaha perajin emas yang collaps. Sebagian mulai menekuni pembuatan pia yang awalnya dirintis Yana dan Hariyanto.

-          Tahun 2009 lahir kampung pia setelah ada belasan puluhan pengusaha pia dan makin meluas ke dusun-dusun lainnya.

-          Saat tahun 2017 Pemkab Pasuruan mulai intervensi untuk mendongkrak pemasaran. Melalui Disperindag didirikan bangunan sentra pia yang berlokasi di dekat askses tol Gempol-Pandaan.

 Tentang Sentra Pia Gempol

 

-          Sekitar tahun 2017 mulai direncanakan pembangunan dengan sistem bertahap. Anggaran awalnya digelontor Rp 1 M untuk gedung sentra pia.

-          Di tahun 2019 menjadi tahap kedua pembangunan dan nilai anggarannya lebih besar yakni Rp 1,6 M dan digunakan untuk kegiatan fisik yang lebih banyak.

-          Sentra pia didirikan di atas tanah kas desa (TKD) Kejapanan yang sudah dihibahkan.  walnya sentra pia digadang menjadi solusi agar produktivitas para pembuat pia bisa meningkat dan mensejahterakan ekonomi warga sekitar lokasi

-          Setelah gedung selesai, gedung diserahkan atau dihibahkan ke Koperasi Wasuka sebagai pengelola.

-          Sentra pia diharapkan menjadi jujukan warga khususnya pengguna jalan serta wisatawan untuk berbelanja buah tangan atau oleh-oleh

 

 

Kendala Pembuat Pia di Gempol

-          Bahan baku yang terus naik tiap tahun

-          Tak bisa menaikkan harga produk karena khawatir ditinggal pelanggan

-          Pembeli tak bisa hanya mengandalkan wisatawan atau pengguna jalan, tapi juga menunggu bagi yang memiliki acara atau hajat

-          Pasar online yang makin bebas sehingga terjadi persaingan antardaerah seperti Jogjakarta maupun ke sesame pengusaha sendiri.

 

Jumlah Pembuat Pia di Gempol

 

Dusun                                    Banyaknya

Kejapanan                  17                   

Bandulan                    10       

Pabean                       17

Ngasem                      12

Penanggungan           8

Melian                         9         

(zal/fun)      

Editor : Abdul Wahid
#kampung pia #bakpia #umkm #gempol #sentra pia