SUKOREJO, Radar Bromo – Sejumlah blantik di Pasar Hewan Sukorejo, dibuat kesal. Lantaran mereka, kesulitan mendapatkan barang dagangan.
Kesulitan itu dirasakan, dikarenakan sapi atau kambing yang ada di pasar hewan setempat, sudah dipanjer atau dibeli oleh jagal atau pembeli di jalan, sebelum sampai Pasar Hewan Sukorejo.
Protes pun dilayangkan. Hingga akhirnya, mediasi dilakukan pihak pengelola pasar setempat, Kamis (12/3).
Mediasi yang berlangsung di Kantor Pasar Sukorejo itu, melibatkan sejumlah pihak. Tak hanya para blantik sapi dan kambing. Tetapi juga, pedagang, hingga instansi terkait.
"Mediasi ini dilakukan, untuk menyamakan persepsi. Sekaligus penyampaian aspirasi dan keluhan para blantik lokal. Karena mereka kesulitan mendapatkan barang dagangan," kata Ketua Paguyuban Penjual Daging Pasuruan Raya, Habibi.
Menurut Habibi, hewan sudah ada yang membeli dengan uang panjer, sebelum sampai di pasar.
Pembayaran itu bahkan dilakukan di jalan. Akibatnya, blantik yang ada di Pasar Hewan Sukorejo, kesulitan untuk mendapatkan barang.
"Harusnya semua transaksi tidak di jalan, tapi dilakukan di dalam pasar hewan. Dari pedagang sapinya dibeli blantik, kemudian jagal atau pembeli, belinya dari blantik. Selain itu, makelar dan penampar (perantara lapis kedua, red) juga dapat mengais rezeki,” tuturnya.
Hal senada, juga disampaikan Nur, blantik asal Purwosari yang ikut giat mediasi ini.
"Namanya pasar hewan, semua transaksi harus di dalam pasar. Tidak di luar, atau di jalan," ungkapnya.
Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Suyanto mencoba untuk menengahi.
Ia memandang, perlu ada sebuah tata tertib atau kesepakatan bersama. Sekaligus pendataan pedagang.
"Setelah didata, bisa diberi kartu. Fungsinya, yang memiliki kartu itu, bisa membawa kendaraan muatan sapi masuk ke pasar hewan ini,” bebernya. (zal/one)
Editor : Fahreza Nuraga