Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Meski Ada Sejumlah Pengunjung Meninggal, Pertapaan Indrokilo Prigen Pasuruan Tak Pernah Sepi, Begini Kepercayaan Warga Setempat

Rizal Syatori • Kamis, 14 Maret 2024 | 03:31 WIB

 

BANYAK CANDI: Candi Suprobowati, salah satu candi di pertapaan Indrokilo dan batu berbentuk kursi yang diyakini petilasan presiden pertama RI Soekarno. (Rizal F. Syatori/ Radar Bromo
BANYAK CANDI: Candi Suprobowati, salah satu candi di pertapaan Indrokilo dan batu berbentuk kursi yang diyakini petilasan presiden pertama RI Soekarno. (Rizal F. Syatori/ Radar Bromo

Meninggalnya pengunjung atau pertapa di pertapaan indrokilo, Minggu (10/3) malam bukan kali pertama. Meski begitu, kawasan pertapaan setempat tetap ramai.

Lalu apa yang membuat pertapaan Indrokilo selalu ramai dikunjungi warga atau pertapa?

Indrokilo selama ini lebih dikenal sebagai tempat pertapaan. Tidak heran, tempat ini jadi jujukan warga yang ingin tirakat.

Lokasinya di lahan Perhutani. Berada di lereng Gunung Ringgit dengan ketinggian 1.424 meter di atas permukaan air laut (dpl). Masuk Dusun Talungnongko, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen.

Dengan lokasi itu, hawa di Indrokilo selalu sejuk. Pagi dan siang hari suhunya sekitar 21-25 derajat Celsius.

Sementara malam hari lebih dingin lagi, 17-19 derajat Celsius.

Tidak sekadar tempat pertapaan. Sejumlah candi bisa ditemui di Indrokilo.

Ada Candi Satrio Panggung, Mintorogo, Celeng Srenggi, Mundi Sari, Panji Saputra, dan Dewi Suprobowati.

Juga terdapat banyak arca di sana. Termasuk petilasan Batu Kursi yang konon merupakan tempat Presiden RI Pertama Soekarno bertapa.

“Kami dan warga sekitar menyebutnya Pertapaan Indrokilo. Satu kawasan di dalamnya banyak terdapat candi, petilasan dan juga arca,” ungkap Rasid, juru pelihara sekaligus ketua Pokdarwis Panji Laras Dayurejo.

18 Tahun, Ada 11 Pengunjung Meninggal

Rasid, yang juga ketua Pokdarwis Panji Laras, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, mengatakan, selama 18 tahun terakhir atau sejak 2006, sudah ada 11 pengunjung atau petapa yang meninggal. 

“Dari 11 orang tersebut, ada empat orang yang meninggalnya di lokasi pertapaan Indrokilo. Termasuk yang terakhir asal Surabaya ini,” terang Rasid yang tinggal di Dusun Talunongko.

Tujuh orang lainnya, meninggal dalam perjalanan menuju ke Indrokilo. Semuanya berjenis kelamin laki-laki dengan usia sekitar 40-60 tahun. 

Mereka berasal dari beberapa daerah. Mulai Sidoarjo, Surabaya, Malang dan daerah lain. 

“Rata-rata yang meninggal ini karena sakitnya kambuh atau sedang sakit dan tidak fit, tapi dipaksakan berangkat. Akhirnya berakibat fatal,” ungkapnya.

Memang, ada banyak orang yang berkunjung ke Pertapaan Indrokilo. Sehari bisa belasan, seminggu bisa puluhan dan dalam sebulan bisa sampai ratusan orang.

Peninggalan Kerajaan Majapahit Akhir

Pemerhati Sejarah dan Budaya Teguh Hariawan asal Prigen mengatakan, Indrokilo merupakan kawasan cagar budaya peninggalan era Kerajaan Majapahit akhir. Tempat ini dulu juga jadi tempat Bung Karno atau Soerkano, presiden pertama RI untuk mencari inspirasi.

Seluruh candi dan arca di Indrokilo juga termasuk cagar budaya. Candi di Indrokilo termasuk bertipe punden berundak.

“Candi model demikian ini muncul di masa Majapahit akhir. Sebagai salah satu cara pemujaan kepada roh leluhur yang diyakini bersemayam di puncak-puncak gunung,” jelasnya. (zal)

Editor : Muhammad Fahmi
#Gunung Ringgit #Petapa Meninggal #bpcb jatim #Indrokilo #pertapaan indrokilo