Pengajian itu sendiri digelar di sebuah musala, di depan kediaman Sukirno, warga setempat. Puluhan orang menghadiri pengajian itu. Namun, saat baru berjalan sekitar satu jam, tiba-tiba ratusan massa datang dengan naik mobil, pikap dan motor.
Mereka kemudian mendekati lokasi pengajian dan mendesak kegiatan pengajian dibubarkan. Bentrok antarwarga nyaris terjadi. Beruntung, aparat yang ada di lokasi kejadian berhasil menenangkan warga. Ada petugas Koramil dan Polsek Purwosari, Polres Pasuruan dan sejumlah polsek jajaran.
“Pengajian ini tidak ada pemberitahuan dan izin, juga meresahkan warga. Karena itu kami mendesak kegiatan ini dibubarkan seterusnya, tidak sementara,” ujar Plt Kasun Beji Geneng Bayhaqi.
Menurutnya, warga resah karena menduga pengajian tersebut ada kaitannya dengan kegiatan HTI. Padahal, HTI sudah resmi dibubarkan oleh negara. “Mengingat HTI sudah dibubarkan oleh negara, kami tidak menginginkan kegiatan seperti ini ada lagi,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Salam dari Patriot Garuda Nusantara. Menurutnya, massa yang datang berasal dari Bangil, Beji, dan Gondangwetan. Mereka meminta pengajian dibubarkan.
“Jika tidak, akan kami kerahkan massa lebih banyak lagi. Ini sudah sering dilakukan dan selama ini terus kami pantau,” bebernya.
Situasi yang tegang dan memanas, sedikit reda setelah pengajian berhenti dan perwakilan pelaksana keluar. Yang bersangkutan menemui Kasat Intelkam Polres Pasuruan, Wakapolsek Purwosari, juga perangkat desa setempat dan beberapa perwakilan massa.
“Ini kegiatan pengajian biasa saja. Puluhan orang yang datang ada yang berasal dari Sukorejo, Pandaan dan Prigen. Bukan tanpa izin. Sudah ada pemberitahuan ke RT dan RW,” kata Suwono, panitia pengajian tersebut.
Suwono pun tegas mengatakan, pengajian ini tidak ada kaitannya dengan HTI. Yang dilakukan adalah kegiatan pengajian biasa.
Dari pantauan, dalam pengajian itu di banner tertulis, Mustaqo Ulama Aswaja Tapal Kuda. Di bawahnya tertulis tema; Khilafah Mengakhiri Hegemoni Dolar dengan Dinar dan Dirham.
Setelah dilakukan mediasi lumayan lama, sekitar pukul 21.30 semua jamaah pengajian pulang. Mereka pulang dengan mendapat pengawalan ketat dari aparat keamanan.
“Harusnya pengajian ini ada izin dan pemberitahuan ke Polsek dan Polres, juga ke Pemerintahan Desa setempat. Karena yang hadir juga ada dari luar Kecamatan Purwosari, meskipun jumlahnya puluhan orang saja,” terang Kasat Intelkam AKP. Warjiin Krisse.
Pihaknya sendiri fokus pada pengamanan di lokasi. Agar tidak terjadi bentrok, atau hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, Kasat Intelkam enggan mengomentari adanya kemungkinan pengajian ini berhubungan dengan HTI.
“Yang jelas HTI sudah dibubarkan oleh negara atau pemeritah. Karena sudah dibubarkan, dilarang melangsungkan kegiatan,” ungkapnya. (zal/hn) Editor : Jawanto Arifin