Kabar mengejutkan datang kepada para pegawainya. Mulai Rabu ini (1/2), BRIN Pasuruan berhenti beroperasi. Lembaga tersebut sudah beroperasi selama 39 tahun sejak berdiri pada September 1983.
”Alasan utama ditutupnya, kami tidak tahu persis. Karena, itu merupakan kebijakan pimpinan,” jelas Koordinator Lab BRIN Pasuruan Dian Yudha Risdianto.
Sejumlah kegiatan BRIN Pasuruan yang dulu dikenal dengan Lapan Pasuruan itu berhenti beroperasi secara permanen. Di antaranya, kegiatan pengamatan atmosfer, penelitian matahari, juga layanan laboratorium untuk edukasi masyarakat.
”Peralatan penelitian dan pendukungnya masih ada di lokasi. Belum dipindah dan menunggu petunjuk pimpinan,” bebernya.
Menurut Dian, hingga saat ini, Lapan Pasuruan merupakan salah satu di antara 14 stasiun pengamatan ozon vertikal di seluruh dunia. Juga bekerja sama dengan NASA milik Amerika Serikat. Sangat disayangkan jika kemudian berhenti beroperasi.
Selama keberadaannya, Lapan Pasuruan atau kini BRIN Pasuruan setiap tahun aktif menjadi salah satu tempat pengamatan gerhana bulan dan matahari. Termasuk, pengamatan rukyatul hilal untuk awal Ramadan, awal Syawal, dan awal Zulhijah.
”Kami segenap civitas BRIN Pasuruan mengucapkan terima kasih atas kepercayaannya yang telah diberikan selama ini. Kami juga memohon maaf bila ada salah dan khilaf selama memberikan pelayanan,” tutur Dian dengan nada sedih.
Menurut Dian, di kantor tersebut, terdapat 13 pegawai berstatus aparatur sipil negara (ASN). Termasuk dirinya. Yang lain pegawai non-ASN. Jumlahnya 14 orang per 1 Januari 2023. Sebelum itu, pegawai non-ASN berjumlah puluhan orang.
”Yang ASN pindah ke BRIN lain. Masing-masing diminta memilih. Jadi, ada yang ke Purwodadi, Surabaya, Jogjakarta, Bandung, dan lain-lain,” jelasnya. Pegawai non-ASN tetap bertahan dan bekerja di kantor itu sebagai kebersihan dan sekuriti. (zal/far) Editor : Ronald Fernando