“Ini hari kedua, kami mulai sejak Rabu (2/11). Pekerjaan normalisasinya hanya tiga hari,” ucap Agus, pengawas kegiatan tersebut.
Normalisasi itu difokuskan pada penggalian sendimen yang berada di sebelah timur saluran melintang di bawah jalan tol. Targetnya, sedimen digali hingga kedalaman 1,5 meter sepanjang saluran air sampai dengan 100 meter ke arah timur.
“Apa yang kami kerjakan ini sesuai dengan surat perintah kerja (SPK) yang kami terima dari pihak tol. Memang di lapangan sedimennya banyak. Berupa pasir dan batu,” katanya.
Normalisasi itu sendiri disambut baik oleh Pemdes Randupitu dan warga setempat. Warga sekitar bahkan banyak yang melihat proses normalisasi itu.
“Kami senang dan lega, karena normalisasi sudah dilakukan. Jika tidak, daerah ini akan rawan banjir saat hujan lebat,” cetus Kades Randupitu Mochammad Fuad.
Normalisasi itu sendiri memang diajukan oleh Pemdes Randupitu sekitar dua minggu lalu ke PT Jasamarga Pandaan Tol (JPT) selaku pengelola tol Gempan. Pertimbangannya, karena tempat itu rawan banjir saat turun hujan lebat.
Air dari sana lantas masuk ke permukiman sekitar saat banjir. Sehingga beberapa rumah warga pun terendam. Terutama rumah-rumah warga yang dekat saluran air itu.
Banjir memang pernah terjadi di Dusun Babat, Desa Randupitu, akibat air dari saluran tol itu. Yaitu, pada tahun 2021 dan Maret 2022 saat musim hujan terakhir. (zal/hn) Editor : Ronald Fernando