Lokasi wisata tersebut justru dikunjungi oleh keluarga-keluarga yang ingin menikmati kuliner. Tidak untuk mencari kesenangan lain.
Hal itu diungkapkan Isabella (samaran), salah seorang PSK, yang kemarin mudik lewat Terminal Pandaan. Dia mengaku tak banyak dapat tamu. Sejak pandemi Covid-19 pada 2020 lalu sampai sekarang.
Memang masih ada yang datang. Kebanyakan mereka berasal dari Sidoarjo, Surabaya, dan Malang. Tamu yang orang Pasuruan malah jarang. Sedikit sekali jumlahnya. Tamu dari luar kota itu pun adalah orang-orang lama. Sudah pernah datang. Mereka selalu menelepon dulu sebelum datang ke Prigen. ”Biasanya ngajak keluar,” ujarnya.
Kondisi seperti itu dibenarkan oleh Peno, seorang makelar di Prigen. Setahu dia, dulu jumlah PSK yang tinggal di Tretes mencapai ratusan orang. Sejak marak pandemi, jumlahnya tinggal puluhan orang. Bahkan, selama Ramadan, semakin sedikit yang memilih bertahan di sana.
Tempat mereka tersisa di tiga lokasi. Sekitar Gang Sono, Pesanggrahan, dan Watuadem. Wiswa-wisma semakin berkurang. Itu pun tidak seterang-terangan seperti dulu. Menjelang Lebaran ini, penghuninya juga telah pulang kampung. ”Sebagian besar sudah mudik,” ujarnya.
Seorang ibu rumah tangga yang ditemui Jawa Pos Radar Bromo ini mengaku jarang melihat ada mbak-mbak PSK yang mondar-mandir seperti biasanya. Padahal, sehari-hari mereka belanja di toko dan warung. Beli makanan, rokok, atau kebutuhan lain. ”Sudah jarang kelihatan,” ungkapnya. (zal/far) Editor : Jawanto Arifin