H.A. Suyuti,
Wartawan Radar Bromo
PROGRAM 100 event per tahun terus digeber Pemerintah Kota Probolinggo. Mulai event skala nasional hingga kelurahan. Seperti konser musik, festival kuliner, pameran UMKM, bazar, ekspo, hingga pertunjukan seni dan festival budaya.
Namun setiap event digelar, salah satu masalah yang muncul adalah di mana event akan digelar? Karena sampai saat ini tidak ada venue khusus event. Pada akhirnya, menggunakan venue seadanya yang peruntukkan sebenarnya bukan untuk event.
Salah satunya, Stadion Bayuangga. Venue ini menjadi pilihan–terutama event besar, karena tempatnya luas. Letaknya strategis. Di tengah kota. Mudah diakses. Tempat parkir luas.
Masalahnya, Stadion Bayuangga adalah fasilitas olahraga. Khususnya lapangan sepak bola. Yang memiliki standar tertentu. Mulai rumput yang harus dijaga dan dirawat. Termasuk permukaan lapangan yang rata dan tidak berlubang.
Maka, setiap kali stadion akan digunakan, muncul dua kepentingan yang berbeda. Di satu sisi harus menjaga stadion agar tidak rusak dan layak untuk olahraga. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan tempat untuk hiburan, rekreasi, dan aktivitas publik lainnya.
Dua hal yang sama-sama dibutuhkan. Sama-sama bermanfaat. Yang satu untuk olahraga. Satunya untuk hiburan masyarakat. Untuk itu, dua kebutuhan ini harus bisa terpenuhi. Bukan untuk dipertentangkan dan dibenturkan. Apalagi, kemudian jadi konflik antar-stakeholders.
Karena itu, pertanyaannya bukan lagi soal boleh atau tidak ditempati event. Tapi apakah Kota Probolinggo mempunyai tempat khusus menggelar event atau tidak? Jika belum, saatnya Pemkot Probolinggo menyediakan venue khusus event.
Venue event tersebut bukan sekadar lapangan kosong seperti stadion. Tapi kawasan khusus yang dirancang menjadi pusat event Kota Probolinggo. Tidak hanya outdoor. Tapi juga indoor. Lengkap dengan fasilitas pendukungnya. Seperti ruang transit, toilet, listrik, tempat ibadah, tempat kuliner, pusat oleh-oleh, hingga kebutuhan pendukung lainnya.
Kenapa harus outdoor dan indoor? Karena setiap event membutuhkan venue khusus. Misalnya, untuk konser, pameran UMKM, festival seni budaya, atau acara yang bersifat massal, lebih cocok di ruang outdoor.
Tapi ada event yang mengutamakan privasi dengan segmen terbatas. Seperti seminar, pameran pendidikan, wedding expo, pameran umrah dan haji, hingga event yang membutuhkan ruang tertutup, lebih pas di ruang indoor.
Dengan konsep seperti itu, setiap ada event, tidak lagi ribut dan ribet soal venue. Pelaku event sudah mempunyai gambaran saat akan menggelar event. Misalnya terkait kapasitas tempat dan event apa yang akan digelar.
Venue ini juga bukan sekadar tempat event. Tapi menjadi kawasan pengembangan ekonomi Kota Probolinggo.
Menjadi peluang bagi para pelaku ekonomi lokal. Mulai UMKM, kuliner, audio visual, transportasi, hotel, hingga pelaku ekonomi kreatif lainnya.
Mereka bisa bertemu langsung dengan pelaku event. Tidak lagi lewat “pihak ketiga” yang sering menyebabkan biaya jadi mahal.
Bagi Pemkot Probolinggo, kawasan ini akan menggerakan ekonomi daerah. Menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) baru.
Karena semua event akan terkonsentrasi di tempat ini. Dengan fasilitas yang lengkap, para pelaku event tidak akan keberatan jika dikenai retribusi.
Karena itu, investasi kawasan ini bukan sekedar hanya venue event. Tapi menjadi investasi aktivitas ekonomi dan kreativitas. Menjadi brand bagi Kota Probolinggo, sebagai kota yang ramah terhadap event.
Jika kawasan ini terealisasi, persoalan Stadion Bayuangga akan selesai. Stadion akan kembali kepada fungsi utamanya sebagai pusat kegiatan olahraga. Tidak lagi terganggu dengan event. Sehingga mendukung peningkatan prestasi olahraga Kota Probolinggo.
Sementara warga Kota Probolinggo akan mendapat tempat hiburan yang lebih representatif. Warga bisa menikmati event dengan nyaman dan aman. Mempunyai tempat rekreasi dan ruang publik untuk beragam kegiatan lainnya.
Sehingga kepentingan olahraga dan hiburan masyarakat tidak perlu saling mengalahkan. Saling menjegal. Saling berebut. Tapi bisa berjalan beriringan. Memberi manfaat bersama bagi warga Kota Probolinggo.
Pada akhirnya, Pemkot Probolinggo tidak hanya bisa menggelar 100 event setiap tahun. Tapi bisa 1.000 event per tahun. Bukan hanya menjadi “Probolinggo Kota Bersolek”. Tapi menjadi “Probolinggo Kota Seribu Event”. (*)
Editor : Muhammad Fahmi