*Oleh: Hanisa Iswatiningsih Hidayat
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah
===============================
Kabar menarik datang dari Kabupaten Probolinggo. Belum lama ini, perwakilan dari PT Rekadaya Indotama yang terafiliasi dengan perusahaan asal Vietnam, Vingroup, datang langsung ke Kantor Pemerintah Kabupaten Probolinggo untuk mengidentifikasi peluang kerja sama pengembangan industri kendaraan listrik.
Kedatangan mereka disambut langsung oleh Sekretaris Daerah, Ugas Irwanto. Ini bukan kunjungan biasa, melainkan sinyal bahwa Probolinggo mulai dipandang serius oleh investor internasional.
Pertanyaannya sekarang, sudah siapkah kita?
Vingroup sendiri bukan nama kecil. Perusahaan asal Vietnam ini sudah membangun pabrik kendaraan listrik seluas 120 hektare di Subang. Mereka bukan sekadar mau jual produk lalu pergi, tapi berniat membangun ekosistem kendaraan listrik secara menyeluruh di Indonesia.
Dan, Probolinggo masuk dalam radar mereka karena satu alasan kuat yakni posisi strategis.
Kabupaten ini berada di jalur Pantura sekaligus memiliki potensi wisata yang terus berkembang. Kombinasi yang sulit diabaikan oleh investor mana pun.
Dalam kajian Hubungan Internasional, fenomena ini dapat dijelaskan melalui dua lensa teori.
Pertama, konsep paradiplomacy yakni ketika pemerintah daerah secara aktif menjalin hubungan dan kerja sama dengan aktor internasional tanpa harus menunggu instruksi dari pemerintah pusat.
Artinya, pemerintah daerah tidak lagi bersikap diam, tapi juga sudah mulai aktif menjalin hubungan ke luar negeri untuk kepentingan ekonomi daerah.
Kedua, teori Foreign Direct Investment (FDI) menegaskan bahwa investor asing memilih suatu daerah bukan semata karena faktor ekonomi makro, melainkan juga karena daya tarik lokal seperti infrastruktur, stabilitas pemerintahan, dan ketersediaan sumber daya manusia.
Probolinggo, dengan posisi geografisnya yang strategis di jalur Pantura, memenuhi kriteria-kriteria tersebut secara nyata.
Namun di sinilah tantangan domestiknya muncul. Di berbagai daerah di Indonesia yang sudah menerima investasi besar dari luar negeri, seperti kawasan industri di Karawang,
Bekasi, hingga Batam, pola yang sering muncul adalah tenaga kerja terampil dari luar daerah yang masuk untuk mengisi posisi-posisi penting, sementara itu warga lokal cenderung hanya terserap di lapisan paling bawah..
Kondisi ini terjadi bukan karena warga lokal tidak mau bekerja, melainkan karena gap kompetensi yang tidak diantisipasi sejak awal.
Probolinggo harus belajar dari pengalaman daerah-daerah tersebut agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu dijawab yaitu dari ribuan lapangan kerja yang dijanjikan itu, berapa banyak yang benar-benar akan diisi oleh warga Probolinggo sendiri?
Pengalaman di banyak daerah mengajarkan kita bahwa investasi besar tidak otomatis berarti kesejahteraan bagi masyarakat lokal.
Seringkali tenaga kerja terampil didatangkan dari luar, sementara warga setempat hanya kebagian posisi bawah. Ini bukan soal tidak suka terhadap investor asing, tapi soal keadilan dan kesiapan.
Maka dari itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan serius oleh Pemkab Probolinggo.
Pertama, pastikan ada komitmen tertulis soal penyerapan tenaga kerja lokal sejak awal negosiasi.
Kedua, siapkan program pelatihan dan peningkatan skill untuk warga Probolinggo agar benar-benar bisa bersaing mengisi posisi yang tersedia.
Ketiga, pastikan investasi ini tidak mengorbankan lingkungan dan kearifan lokal yang selama ini menjadi identitas Probolinggo.
Ketiga hal ini bukan permintaan yang berlebihan melainkan ini adalah standar minimum agar investasi benar-benar berpihak pada rakyat.
Vingroup masuk dengan visi besar membangun ekosistem kendaraan listrik. Semestinya, ekosistem itu juga mencakup manusia-manusia Probolinggo di dalamnya, bukan hanya tanahnya yang dipakai, tapi juga orangnya yang diberdayakan.
Probolinggo punya modal besar berupa lokasi strategis, potensi wisata, dan masyarakat yang pekerja keras. Kalau semua itu dikelola dengan cerdas dan berpihak pada rakyat, maka investasi ini bisa benar-benar menjadi berkah. Tapi kalau tidak, kita hanya akan jadi penonton di tanah sendiri.
Pertanyaannya, apakah warga Probolinggo sudah siap?
Editor : Muhammad Fahmi