Radar Pasuruan - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan memperluas operasi militer terhadap Iran dengan menyasar infrastruktur sipil apabila Teheran tetap menolak membuka perundingan. Ancaman tersebut disampaikan ketika konflik kedua negara terus meningkat bersamaan dengan berlanjutnya blokade laut di Selat Hormuz.
Mengutip laporan The Guardian, Rabu (15/7/2026), Trump menyampaikan peringatan tersebut dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa (14/7). Ia menegaskan Amerika Serikat akan meningkatkan tekanan militer apabila Iran tidak bersedia kembali ke meja perundingan.
"Pekan depan keadaan akan menjadi jauh lebih buruk. Kami akan melumpuhkan seluruh pembangkit listrik dan menghancurkan jembatan-jembatan mereka jika mereka tidak bersedia datang ke meja perundingan untuk bernegosiasi," kata Trump.
Ancaman serupa sebelumnya juga pernah dilontarkan Trump pada Maret lalu. Saat itu ia menyebut Amerika Serikat dapat menghancurkan pembangkit listrik dan fasilitas penyedia air bersih Iran apabila pemerintah Teheran menolak syarat perdamaian yang diajukan Washington.
Menurut hukum humaniter internasional, fasilitas seperti pembangkit listrik dan jaringan air bersih termasuk objek sipil yang tidak boleh menjadi sasaran serangan kecuali terdapat alasan militer yang sah.
Baca Juga: Donald Trump Klaim Jadi Penjaga Selat Hormuz, Kargo Dunia Terancam Kena Tarif 20 Persen
Pernyataan Trump disampaikan saat militer Amerika Serikat memasuki hari keempat operasi serangan terhadap Iran. Di saat yang sama, Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan terbaru ditujukan untuk mengurangi kemampuan Iran yang selama ini digunakan menyerang kapal-kapal komersial di kawasan tersebut.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan terjadi di sekitar Kota Bandar Abbas, Pulau Qeshm, serta beberapa lokasi lain di sekitar Selat Hormuz. Hingga kini belum ada informasi resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang fasilitas komando, logistik, bahan bakar, dan perlengkapan militer yang disebut milik Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain.
Dalam perkembangan lain, Bahrain dan Kuwait juga dilaporkan menjadi sasaran serangan. Sementara militer Yordania mengaku berhasil mencegat tiga rudal balistik yang memasuki wilayah udaranya pada Rabu dini hari.
IRGC juga memperingatkan bahwa apabila Amerika Serikat terus berupaya mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan menghambat ekspor minyak serta gas Iran, maka jalur ekspor energi yang melayani kepentingan Amerika Serikat maupun negara-negara sekutunya juga berpotensi ditutup.
Menurut IRGC, distribusi energi regional harus berlaku "untuk semua pihak atau tidak untuk siapa pun."
Rangkaian aksi saling balas tersebut meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah. Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global melewati jalur tersebut sehingga gangguan terhadap pelayaran berpotensi memengaruhi pasokan energi internasional.
Di tengah situasi tersebut, Trump membatalkan rencana pengenaan tarif keamanan sebesar 20 persen terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Keputusan itu diambil setelah, menurutnya, terjadi "pembicaraan yang sangat produktif" dengan para pemimpin negara-negara Teluk terkait kerja sama investasi dan perdagangan. Meski demikian, Trump menegaskan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap diberlakukan.
Prospek penyelesaian diplomatik juga dinilai semakin sulit. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan kebijakan Amerika Serikat memberlakukan kembali blokade laut "telah, dalam satu sisi, membongkar Memorandum Islamabad."
Ketika ditanya mengenai durasi operasi militer, Trump kembali menegaskan ancamannya.
"Serangan akan terus berlanjut sampai saya mengatakan sudah cukup. Kami akan melumpuhkan seluruh pembangkit listrik mereka. Kami akan menghancurkan seluruh jembatan mereka kecuali mereka datang ke meja perundingan dan bernegosiasi," katanya.
Baca Juga: Usai Tertekan, Harga Ayam dan Telur Mulai Bangkit Efek Program Makan Bergizi Gratis
Editor : Moch Vikry Romadhoni