Radar Pasuruan - Dua gempa bumi dahsyat mengguncang Venezuela secara beruntun pada Kamis (25/6), merenggut sedikitnya 235 nyawa dan melukai lebih dari 4.300 orang. Tim penyelamat masih berpacu dengan waktu untuk menemukan korban yang diduga tertimbun reruntuhan bangunan.
Data terbaru disampaikan Menteri Kesehatan Venezuela Carlos Alvarado pada Kamis (26/6) malam waktu setempat. Ia menegaskan jumlah korban masih berpotensi bertambah seiring proses evakuasi yang terus berlangsung.
"Hingga pukul 19.00 hari ini, kami telah menangani lebih dari 4.300 korban luka. Sebagian mengalami luka ringan, namun ada juga korban dengan kondisi sedang hingga kritis. Banyak di antaranya membutuhkan tindakan operasi. Sayangnya, kami juga menerima sekitar 235 pasien yang tiba tanpa tanda-tanda kehidupan atau meninggal saat tiba di fasilitas kesehatan kami," kata Alvarado dalam siaran televisi pemerintah.
Operasi penyelamatan terus berlangsung hingga Kamis malam. Petugas masih berupaya menemukan warga yang dilaporkan hilang maupun terjebak di bawah puing-puing bangunan. Kerusakan terparah dilaporkan terjadi di kota pelabuhan La Guaira, ibu kota Caracas, serta sejumlah wilayah sekitarnya. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal akibat rumah yang hancur total, sementara sebagian memilih bermalam di jalanan atau ruang terbuka karena khawatir akan gempa susulan.
Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa pertama berkekuatan magnitudo 7,2 terjadi pada pukul 18.04 waktu setempat, disusul hanya beberapa detik kemudian oleh gempa kedua yang lebih kuat berkekuatan magnitudo 7,5. Kedua gempa tergolong dangkal pusat gempa pertama berada di kedalaman sekitar 20,3 kilometer, sedangkan gempa kedua hanya 10 kilometer di bawah permukaan bumi. Kedalaman yang relatif dangkal itu membuat guncangan terasa sangat kuat dan memperparah tingkat kerusakan.
Baca Juga: Gempa M7,8 Guncang Filipina Selatan: 15 Tewas, Bangunan Runtuh, Tsunami Mengancam Indonesia
Faktor lain yang memperburuk dampak bencana adalah waktu kejadian yang bertepatan dengan hari libur nasional Venezuela, sehingga lebih banyak warga berada di rumah dibandingkan hari kerja biasa.
Presiden Majelis Nasional Venezuela Jorge Rodriguez mengonfirmasi bahwa jumlah korban meninggal terus meningkat. Sebelumnya, Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez telah menetapkan status keadaan darurat sebagai respons atas bencana tersebut. Pemerintah kini memusatkan perhatian pada pencarian korban, penanganan medis, dan penyediaan tempat penampungan sementara bagi warga yang kehilangan rumah.
Sejumlah negara menyatakan kesiapan membantu Venezuela, termasuk Amerika Serikat yang mengumumkan akan mengirimkan tim penyelamat elite meski jadwal kedatangannya belum dipastikan. Berbagai tawaran bantuan kemanusiaan dari negara lain juga terus mengalir.
Bencana ini menjadi ujian berat bagi Venezuela yang selama bertahun-tahun sudah dilanda krisis politik dan ekonomi berkepanjangan. Di tengah keterbatasan sumber daya, pemerintah kini harus menghadapi tantangan besar dalam proses evakuasi, pemulihan infrastruktur, serta penanganan ribuan korban yang terdampak.
Baca Juga: Sarwendah Undang Ruben Onsu Bertemu 11 Juli, Kuasa Hukum: Kami Berharap Ada Titik Temu
Editor : Moch Vikry Romadhoni