Radar Bromo - Iran menyatakan telah mencapai perkembangan positif setelah hari pertama perundingan tingkat tinggi dengan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung di Swiss pada Minggu (21/6). Meski sempat diwarnai ketegangan akibat pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Selat Hormuz dan konflik di Lebanon, kedua pihak tetap melanjutkan dialog diplomatik.
Pertemuan tersebut menjadi awal dari rangkaian negosiasi selama 60 hari yang ditujukan untuk mencari solusi lebih luas mengenai program nuklir Iran sekaligus menjaga stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.
Dalam perundingan itu, sejumlah pejabat senior dari kedua negara bertemu untuk membahas berbagai isu yang selama bertahun-tahun menjadi sumber perselisihan, mulai dari program nuklir Iran, sanksi ekonomi, hingga pengaruh Teheran di kawasan. Situasi di Lebanon juga menjadi salah satu topik utama yang dinilai dapat memengaruhi keberhasilan proses diplomasi.
Berdasarkan laporan The Guardian, Qatar dan Pakistan yang bertindak sebagai mediator mengumumkan bahwa Washington dan Teheran telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari.
Kedua negara juga menyetujui pelaksanaan pembicaraan teknis di tingkat pejabat yang lebih rendah sepanjang pekan ini guna membahas rincian implementasi dari berbagai kesepahaman yang telah dicapai.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyambut hasil awal tersebut dengan optimistis. Ia menilai peran Pakistan dan Qatar telah membantu mendorong kemajuan dalam upaya meredakan konflik di Lebanon.
"Mediasi Pakistan dan Qatar telah menghasilkan kemajuan besar untuk mengakhiri perang Lebanon," ujarnya.
Menurut Araghchi, salah satu ujian awal dari kesepahaman tersebut adalah penerapan mekanisme deconfliction atau pencegahan konflik yang dirancang khusus untuk Lebanon.
Sebagai bagian dari hasil awal perundingan, Iran dan AS juga menyepakati pembentukan jalur komunikasi langsung untuk mencegah insiden di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu pusat distribusi energi dunia.
Selain itu, kedua pihak berencana membentuk sel koordinasi bersama pemerintah Lebanon guna memastikan penghentian operasi militer dapat berjalan sesuai kesepakatan.
Namun, proses negosiasi sempat mengalami hambatan setelah Iran kembali mengumumkan blokade Selat Hormuz sebagai bentuk protes terhadap serangan Israel di Lebanon. Teheran menilai Washington membiarkan Israel melanggar nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati.
Pernyataan Iran mengenai kemungkinan penutupan Selat Hormuz langsung mendapat respons keras dari Presiden Donald Trump.
"Jika Selat Hormuz ditutup, Iran tidak akan bertahan sebagai negara," ujarnya.
Trump juga mendesak Iran menghentikan dukungannya kepada kelompok sekutu di Lebanon dan memperingatkan kemungkinan adanya tindakan lebih lanjut jika situasi terus memburuk.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa delegasi Teheran sempat menghentikan partisipasinya dalam pembicaraan setelah muncul unggahan Trump yang dianggap menyinggung. Meski demikian, komunikasi tetap berlangsung melalui perantara Qatar dan Pakistan.
Seorang diplomat senior AS kemudian memastikan bahwa proses negosiasi tidak dibatalkan dan delegasi Iran tetap berada di lokasi perundingan.
Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Sementara itu, Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
"Pertanyaan yang kini ada di hadapan kita adalah seberapa banyak lagi yang dapat kita capai bersama. Bisakah kita membuka lembaran baru?" ujar Vance saat membuka perundingan.
Selama masa negosiasi 60 hari ke depan, salah satu fokus utama adalah masa depan program nuklir Iran. Berdasarkan kesepahaman awal, Teheran diwajibkan mengurangi tingkat pengayaan sebagian cadangan uranium yang dimiliki.
Namun sejumlah isu penting masih menjadi perdebatan, termasuk hak Iran untuk tetap melakukan pengayaan uranium di masa depan.
Di sisi lain, Iran menegaskan kemajuan dalam isu nuklir harus diimbangi dengan pelaksanaan poin lain dalam kesepakatan, termasuk pelonggaran ekspor minyak serta pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.
Araghchi mengklaim negaranya telah memperoleh sejumlah konsesi awal berupa keringanan ekspor minyak dan petrokimia, pembebasan sebagian aset yang diblokir, serta dimulainya rencana rekonstruksi ekonomi Iran. Hingga kini, pemerintah AS belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim tersebut.
Meski masih menghadapi berbagai tantangan, gencatan senjata terbaru di Lebanon yang dimediasi pada Sabtu dilaporkan tetap bertahan. Kondisi itu memberi harapan bahwa proses diplomasi antara Washington dan Teheran dapat berkembang menjadi kesepakatan yang lebih permanen dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Ruben Onsu Keberatan Jika Rumah Milik Sarwendah Tapi Cicilan Tetap Ditagih
Editor : Moch Vikry Romadhoni