PASURUAN, Radar Bromo–Musim kemarau di Jawa Timur semakin menguat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur (Jatim) mencatat, sejumlah wilayah telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut hingga mencapai kategori sangat panjang. Yaitu, 31 hingga 60 hari.
Dalam pemantauan iklim Dasarian II Juni 2026, BMKG menyebut sebagian besar wilayah Jawa Timur masih berada pada kategori HTH pendek hingga panjang.
Namun sejumlah daerah sudah masuk kategori sangat panjang. Menandakan kondisi kekeringan meteorologis semakin meluas.
Wilayah yang mengalami HTH sangat panjang tersebar di beberapa kabupaten. Yakni, sebagian Kabupaten Blitar, Bojonegoro, Jember, Kediri, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, dan Probolinggo.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo Rendy Irawadi menegaskan, kondisi tersebut menjadi indikator kuat bahwa musim kemarau telah mendominasi hampir seluruh wilayah Jawa Timur.
“Secara umum curah hujan di Jawa Timur pada Dasarian II Juni 2026 berada pada kategori rendah. Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya jumlah hari tanpa hujan di sejumlah wilayah,” ujarnya.
Bahkan, pada Dasarian III Juni 2026, BMKG memprediksi curah hujan di Jawa Timur secara deterministik masih berada pada kategori rendah.
Baca Juga: BMKG Ingatkan Warga untuk Waspadai Potensi Perubahan Cuaca
Secara probabilistik, peluang terjadinya hujan dengan intensitas rendah juga sangat tinggi, yakni lebih dari 90 persen.
Meski demikian, Rendy menegaskan bahwa masuknya musim kemarau tidak serta-merta menghilangkan potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah secara lokal.
“Pada periode kemarau masih ada kemungkinan terbentuk awan konvektif yang dapat memicu hujan sesaat disertai petir dan angin kencang. Terutama pada siang hingga sore hari. Karena itu, masyarakat tetap perlu memantau informasi cuaca terkini dari BMKG,” tambahnya.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mulai menyesuaikan aktivitas dengan kondisi musim kemarau yang diperkirakan masih akan mendominasi dalam beberapa waktu ke depan. Terutama petani dan pengelola sumber daya air. (zen/hn)
Editor : Muhammad Fahmi